PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH EMPAT: KARYAWAN BARU.


__ADS_3

Pagi ini, agak mending bagi Restu. Dia mencoba untuk tenang dalam menjalankan aktivitasnya. Baru beberapa pekan di Indonesia, dia sudah di hadapkan dengan rentetan peristiwa.


Bermaksud untuk meninjau kebenaran sahabatnya yang hilang, tiba-tiba dia diberikan beban berat untuk memimpin perusahaan.


Padahal belum memiliki pengalaman. Tetapi, pak Rifky langsung memberikan kepercayaan kepadanya. Dan ini adalah memiliki resiko beban tanggung jawab yang sangat berat.


Restu tidak habis pikir mengapa pak Rifky berani memberikannya kedudukan CEO. Hanya karena dia merupakan teman puteranya. Tapi, untung bukan pada orang yang salah.


Menjadi chief eksekutif officer (CEO) tidaklah gampang. Selain harus memiliki skill, dia harus dapat memimpin perusahaan agar dapat mencapai tujuannya secara keseluruhan.


Kita harus pandai membuat perencanaan dalam mengawasi setiap kegiatan, serta menjalankan strategi bisnis perusahaan. Ketika membangun dan membina hubungan dengan para pemangku kepentingan.


Dalam hat Restu berjanji akan menjaga dan mengendalikan perusahaan sahabatnya ini dengan baik. Mantap tapi pasti dia dengan tenang melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.


Para karyawan saling berbisik, siapa sebenarnya Restu. mereka berpikir Restu adalah keluarga pemilik perusahaan sejak pertama kali dia diperkenalkan oleh pak Rifky sampai hari-hari dia bekerja.


Hanya Lui yang tahu tentang perusahaan dan seluruh keluarga perusahaan dan Restu bukanlah keluarga perusahaan.


"Pagi semua!" sapa Restu dengan ramah ketika datang kekantor melewati para karyawan.


"Pagi...," jawab mereka dengan gembira karena memiliki pemimpin yang sopan dan ramah. Tak sedikit dari mereka yang mencari simpati.


"Pak Restu?!!" panggil Lui sekertaris perusahaan itu. Lui adakah sekertaris pak Rifky dan sekarang harus mendampingi Restu.


"Hai sekertaris Lui!" sapa Restu menghentikan langkahnya dengan senyum khasnya menyalami Lui kepercayaan pak Rifky.


"Barusan pak Rifky call saya, katanya ada karyawan baru yang akan masuk hari ini!" ucap Lui.


"Siapa?" tanya Restu.


"Ntar saya tanya manajer personalia!" lirik Lui malu-malu, sepertinya menaruh rasa suka padanya.


"Manajer personalianya siapa?"


"Mbak Rita!"


"Baik nanti suruh datang ke ruangan saya iya!" ucap Restu seraya melangkah menuju ruang kerjanya meninggalkan Lui yang berdiri mematung memperhatikannya.


Lui ingin sekali Restu yang memerintahkannya membawa karyawan baru itu agar bisa lebih dekat dengannya. Tapi, ternyata Restu memerintahkannya untuk menyuruh Rita mendatangi ruangannya.

__ADS_1


Semakin tampak Lui menaruh hati pada Restu. Dan dia seperti keberatan kalau Rita mendahuluinya, karena Rita juga gadis yang cantik dan pinter menggombali pria.


Aku jangan sampai kalah duluan, ucap Lui dalam hati. Belum selesai rasa kesal dalam hatinya mata Lui melihat Rita melangkah membawa seorang gadis.


"Maaf Rita! Mau kemana?" seru Lui menahan langkah Rita.


"Ke ruangannya pak Restu?! Pimpinan kita yang tampan itu?" sahut Rita tersenyum seperti mengejek sambil meneruskan langkahnya tidak memperdulikan Lui.


"Tunggu dulu! Aku kan sekretarisnya pak Restu, bukankah kamu harus hubungi saya dulu!"


"Semua karyawan tahu, kamu sekertaris disini. Tapi aku di suruh pak Rifky bawa Nilam ke pak Restu! Kenapa? Kamu keberatan. Eee jangan-jangan kamu cemburu!"


"Kalau ngomong jangan sembarangan!: tatap Lui dengan wajah merah meninggalkan Rita keruang kerjanya.


Lui merasa malu mendengar tuduhan Rita. Awas ya?!! Kamu belum mengenal aku, jangan sampai aku mendepakmu dari perusahaan ini. Lui tak ingin gara-gara Rita nama perusahaan jadi tercoreng.


------------------🦹🦹🦹-------------------


Suara deringan terdengar dari pintu ruang kerja pak Restu yang tak jauh dari ruang kerja Lui.


"Masuk!" perintah Restu dari dalam ruang kerjanya. Rita masuk seorang dan tertegun sebentar melihat pimpinannya yang tampan, matanya tak berkedip memandang Restu yang duduk didepan computer kerjanya.


"Agh!" Rita tersentak sedikit kaget mendengar Restu yang mempersilahkannya duduk. Untung saja tidak terdengar.


"Karyawan baru yang dikirim pak Rifky sudah datang!" seru Rita sedikit gugup karena terpesona.


"Oh, okey suruh masuk!" perintah Restu mengangkat kepalanya sebentar kemudian kembali matanya melihat computer.


"Baik pak!" jawab Rita seraya keluar memanggil Nilam. Ada ke kekecewaan dihati Rita karena Restu tidak terlalu memperhatikannya.


Tidak lama Nilam masuk seorang diri dengan hati deg-degan. Ini yang pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di sebuah perusahaan. Apalagi ini perusahaan besar dengan ribuan karyawan.


Mata Nilam terbelalak melihat orang yang duduk didepan meja pimpinan perusahaan. Demikian pula sebaliknya dengan pimpinan perusahaan itu yang melihat seorang gadis cantik yang berdiri di depannya.


"Nilam!" sapa Restu tidak percaya dengan penglihatannya. Gadis yang dulu kecil, sekarang telah menjadi gadis yang mempesona sedang berdiri kaku memandangnya.


Nilam tersenyum malu-malu, dia pikir yang duduk dimeja pimpinan adalah pak Rifky. Serta Restu juga pernah bertemu dengan tidak sengaja di jalan dan mengantar Nilam sekeluarga pulang dari makam Morrin. Tapi, waktu itu Nilam seperti masih anak kecil karena berpakaian tidak seperti yang dilihat sekarang.


"Kamu Nilam kan...," tanya Restu ragu-ragu.

__ADS_1


"Bukan!"


"Hah!" Restu terkejut, hatinya seperti membenarkan kalau dia salah lihat.


"Aku adiknya Almarhumah Morrin!" lanjutnya nyandain Restu.


"Aduuuh jantungku hampir copot!"


Restu berdiri dari tempat duduknya menghampiri Nilam yang masih berdiri kaku menatapnya dengan tersenyum. untuk mempersilahkannya duduk. Senyum indah yang memberi inspirasi bagi Restu dalam bekerja.


Sedang di luar perusahaan, Nadira sedang ada janjian untuk bertemu dengan Oleng yang sudah menunggunya di cafe Nusantara.


"Iya, Oleng! Aku sudah parkirkan mobilku di area parkir, posisimu dimana!" tanya Nadira call Oleng.


"Aku akan keluar! Tunggu saja di mobil!" timbal Oleng bergegas menuju area parkir.


"Tidak usah Leng! Kamu tetap tunggu di dalam cafe karena kita mesti berunding dulu!" cegah Nadira.


"Baik! Kutunggu di pintu masuk!" sahut Oleng mengurungkan langkah kakinya yang hendak keluar.


"Iyaa!" Nadira matikan handphone nya keluar dari mobilnya.


Nadira melangkah dengan tenang memasuki cafe sambil menghubungi Restu. "Halo Nadira!" timbal Restu menjawab panggilan Nadira.


"Restu kamu sibuk ya?" tanya Nadira. Dia harus memberitahu Restu tentang pertemuan nya dengan Oleng agar tidak terjadi kesalah pahaman di belakang hari karena Restu sangat peduli dengan Roman.


"Kalau di bilang sibuk! Ya..., dimeja kerjaku masih banyak surat-surat yang belum ku tanda tangani! Memangnya ada apa!"


"Tak ada apa-apa sih! Cuman ada informasi baru dari Oleng!"


"Gini Nadira, kamu sendiri aja dulu. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku! Bisa kan?"


"Bisa Res!" jawab Nadira.


Nadira meneruskan langkahnya memasuki cafe, dimana Oleng sudah terlihat berdiri menunggunya. Tidak ada beban lagi bagi dirinya kalau sudah memberi tahu Restu.


Dari pintu cafe Oleng memperhatikan Nadira yang berjalan menghampirinya. Tampak suasana cafe hari ini sangat ramai.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2