PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
BUAH HASIL DARI PERBUATAN.


__ADS_3

Dua kali sudah Ghazan dan Winda memetik hasil dari pada perbuatannya. Kejahatan yang telah diperbuat telah mendapat ganjaran peringatan dengan mendapat balasan dari orang yang disakiti.


Ghazan dan Winda jalan tertatih-tatih menuju mobilnya meninggalkan kafe yang menjadi kenangan pahit dari perbuatannya.


"Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit tubuhku!" rintih Ghazan meringis berjalan menghampiri mobilnya.


"Uhuk uhuk...!"


Ghazan batuk-batuk terus berusaha bisa menarik napasnya yang seakan tersumpal.


"Sorry, aku tak bisa berbuat banyak karena akupun juga sama! Tak kuat!" ucap Winda memegang perutnya sambil tersengal-sengal.


Ghazan dan Winda bukannya pergi meninggalkan kafe, tapi mereka duduk bersandar dimobil menghimpun tenaga agar pulih kembali.


Tidak jauh dari kediaman tempat dia menyekap bu Marisa dan Masturi telah menunggu Roman menanti kedatangannya.


Dalam waktu yang sama Nadira mulai curiga, hm..., Roman kayaknya pergi!, guman Nadira dalam hati setelah lama tidak terlihat.


"Pak Saipul! Lihat Roman!" tanya Nadira pada pak Saipul yang datang membawa ramuan obat biji pala, lidah buaya dan madu yang telah dihaluskan.


"Dia titip pesan keluar sebentar!" timbal pak Saipul.


"Obatnya sudah jadi!" kata pak Saipul kepada Masturi.


"Mari, biar aku yang oleskan!" pinta bu Adelia.


Bu Adelia mengoleskan obat yang dibuat pak Saipul dan pak Mansur dengan perasaan sedih. Kasihan, guman bu Adelia dalam hati, iba melihat Masturi.


Pak Saipul segera keluar karena luka-luka dan lebam tubuh Masturi akan dioleskan bu Adelia.


"Kamu dari mana? Nak?" tanya bu Adelia sambil hati-hati mengoles ramuan obat ke luka-luka dan lebam di tubuh Masturi.


"Dari sirna rasa!"


"Mana? itu!"


"Sukabumi!"


"O,"


"Semasa sd Winda itu lugu, sering dibuli kawan-kawannya!" kata bu Adelia menceritakan Masturi.


"Tidak kusangka setelah dewasa dia menjadi seperti ini!" lanjut bu Adelia menceritakan Masturi.


"Aku tak akan pergi sebelum kamu sembuh, sekalipun Roman membolehkan aku pergi! Biar Winda tahu, mencederai phisik itu tidak boleh!" lanjut bu Adelialagi.


Nadira melihat pak Sumarto menatap dinding tak sepatah katapun keluar dari mulutnya sejak diajak keluar oleh Roman dan mengambil duduk dipojok ruangan.


"Pak! Maafkan kami kalau kami telah membuat Bapak tidak nyaman!" kata Nadira menyapa pak Sumarto sopan.


Pak Sumarto menarik napas panjang, dia sangat takut dengan hal buruk yang akan menimpa putrinya.


Tidak beberapa kemudian Torak datang menghadap kepada Nadira.

__ADS_1


"Bu, ada seorang mengaku dokter pingin jumpa ibu!" kata Torak.


"Suruh masuk!" perintah Nadira.


"Baik, bu!"


Torak lalu pergi, tidak lama kemudian mobil pak Mustapa, dokter yang akan memeriksa Masturi langsung masuk menuju belakang tempat mereka.


Pak Saipul dan pak Mansur yang stang by diluar menyambut pak Mustapa.


"Pak, dokter ya?" sapa pak Saipul.


Pak Mustapa tersentum anggukan kepalanya menyalami pak Saioul dan pak Mansur.


"Mari!" kata pak Saipul mempersilahkan pak Mustapa


Pak Mustapa kemudian mengucapkan salam menyapa mereka yang ada didalam.


"salamu'alaikum!"


Serentak mereka yang didalam menjawab salam pak Mustapa.


"Wa'alaikumsalam!"


Lalu pak Mustapa masuk kedalam menghampiri Masturi yang terbaring sakit.


"Ini yang sakit, ya?" tunjuk pak Mustapa.


Pak Mustapa sangat terkejut melihat luka dan lebam ditubuh Masturi.


Bu Adelia dan pak Sumarto merasa tidak enak mendengar penjelasan pak Mustapa karena ini adalah kejahatan putrinya.


"Betul, pak! Dia korban penculikan!" timbal Nadira terus terang.


Pak Mustapa memeriksa suhu tubuh Masturi dan meneliti luka lebam dan luka-luka di tubuh Masturi.


Usai memeriksa Masturi pak Mustapa lalu menjelaskan Nadira, "Luka dan lebam ditubuhnya akan cepat sembuh! Mengenai psikologisnya normal saja karena dia rasanya sudah sering menghadapi peristiwa seperti ini." kata pak Mustapa menjelaskan Nadira.


"Saya takut dia trauma atas kejadian yang menimpanya!" kata Nadira khawatir.


"Tidak! Dia ini kuat!" Timbal pak Mustapa.


"Kemudian ini pak! Ibu saya," kata Nadira memandang bu Marisa yang duduk didekatnya.


"Halo, bu...," sapa pak Mustapa.


"Gimana? Anak saya. Apa pasti dia sembuh!" tanya bu Marisa.


"Ibu tenang saja, dia pasti sembuh!" jawab pak Mustapa.


"Aku melihat perempuan itu menyiksanya!" kata bu Marisa.


"Yang diculik! Mereka berdua!" tanya pak Mustapa.

__ADS_1


"Ya, pak!" jawab Nadira singkat sambil melirik bu Adelia dan pak Sumarto yang tampak terlihat cemas.


Walaupun belum ditanya, pak Mustapa sudah tahu penyakit yang diderita bu Marisa hanya dengan mengamati dan memantau gerakan tubuhnya.


"Aku telah melihat hasil rounsen laboratoriumnya, yang diberikan pak Devan!" kata pak Mustapa.


"Lalu bagaimana menurut bapak! Apakah ibuku bisa sembuh?" tanya Nadira.


"Ya, bisa sembuh! Karena bu Marisa terkena ada gumpalan darah dikepalanya yang lambat laun bisa normal kembali." jelas pak Mustapa.


"Kenapa ada gumpalan itu? Pak!" tanya Nadira.


"Dia telah melewati masa krisis yang berat dalam hidupnya. Pikiran yang berat itulah yang menjadi penyebabnya!" jelas pak Mustapa.


Bu Marisa yang mendengar pembicaraan pak Mustapa dan Nadira menjadi ingin tahu tentang penyakitnya dan mengingat-ingat masa lalunya.


Tidak lama kemudian kepalanya terasa berat saat ada yang terlintas dikepalanya.


'Dariku hewan yang tak terurus!,


kepala bu Marisa mulai pusing, mengingat kata-kata itu. Lalu terbayang di kepalanya wajah Morrin, wajah Roman. Kemudian kepalanya seperti berputar dan dia merasakan pusing yang luar biasa.


Nadira dan semua yang ada diruangan itu terkejut melihat bu Marisa meronta-ronta mencengkeram rambut dan kepalanya.


"Ma..., kenapa?" kata Nadira menyambar tubuh bu Marisa yang mau pingsan


"Mama...!"


Masturi yang tadi lemah, langsung terjaga bangkit dari tidurnya memegang tubuh bu Marisa.


"Sudahlah! Kamu istirahat lagi biar kami yang mengurus bu Marisa!" pinta pak Saipul yang telah lari kedalam bersama pak Mansur.


"Tidurkan dia!" suruh pak Mustapa.


Bu Marisa di baringkan di sebelah Masturi lalu diperiksa pak Mustapa.


"Kepalanya sakit dan pusing karena berusaha mengingat masa lalunya!" jelas pak Mustapa.


"Kalau dia bangun nanti beri dia obat ini!" lanjut pak Mustapa memberikan beberapa macam obat dan menjelaskan aturan minumnya.


Pak Mustapa menjelaskan khasiat obat yang diberikan kepada Nadira dan menjamin kalau bu Marisa bisa sembuh dengan obat yang diberikan.


Nadira sangat merespon dan mempercayai pak Mustapa karena obat itu harganya puluhan juta rupiah perbutirnya dengan garanti jaminan nanti dibayar setelah bu Marisa sembuh.


"Terimakasih pak! Telah mau datang kesini, kami pasti membayar harga obat ini tanpa perlu menunggu ibu kami sembuh!" kata Nadira.


"Saya telah diberi tahu pak Devan keluarga ini, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan!" timbak pak Mustapa.


"Saya masih ada urusan lain, saya mohon pamit!" kata pak Mustapa mohon pamit setelah menyelesaikan urusannya dalam menangani Masturi dan bu Marisa.


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Maaf gays kalau saya lambat meneruskan ceritanya. Karena saya harus memenuhi nafkah keluarga saya dan tidak ada waktu.


__ADS_2