PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE ENAM PULUH DUA: BANGUN PAGI MENUJU MASJID.


__ADS_3

Saipul tidak tahu siapa Roman. itulah sebabnya ketika pak Bisri tidak berani memanggil Roman dengan panggilan biasa, sehingga pak Bisri selalu memanggilnya dengan panggilan pak didepan namanya.


"Pak Bisri! Roman kan masih muda, jangan panggil dia bapak! Panggil saja namanya. Lihatlah dia tampak malu," tegur Saipul. tapi pak Bisri hanya bisanya menatap Saipul.


"Huam..., Iya pak Bisri kita berangkat!" ajak Roman sambil menguam ngantuk masih merasa lelah karena perjalanan jauh.


Perasaan sedih dalam hatinya yang kehilangan Morrin masih dia rasakan, Terbayang dimatanya saat-saat Morrin menghembuskan napas tanpa didampingi oleh orang-orang terkasih.


Itulah sebabnya Roman sengaja menjauhkan pak Bisri dari Buruan Winda dan Ghazan agar bisa menyeret mereka ke pengadilan.


"Ini pak! baju jubah dan topi beserta sajadah, ini dulu saya bawa dari Mekah Tidak pernah dipakai, masih baru pak!" ucap Saipul menyodorkan pakaian sholat yang masih terbungkus.


"O..., kenapa pak Saipul tidak pakai!" kata Roman sambil menerima bungkusan yang diberikan Saipul.


"Dirumah masih banyak Rom, itu saya bawa dari Mekah waktu saya kerja disana!" sahut Saipul.


"Kamu kerja apa di Mekah!" tanya Roman.


"Saya nyopir Rom! Disana!" jawab Saipul.


"Sudah ngerjakan ibadah haji disana!" tanya Roman lagi.

__ADS_1


"Sudah Rom!" jawab Saipul.


"O...," Roman anggukan kepala.


"Tapi dia tidak mau di panggil pak Haji pak!" timbal pak Bisri memberitahu Roman.


"Sudah kubilang jangan panggil dia bapak!" kata Saipul menyenggol pak Bisri.


"Kenapa?" tatap Roman memandang Saipul.


"Hehehe malu, nanti orang-orang bilangin aku haji saudi!" jawab Saipul tertawa ringan menjawab yang ditanyakan Roman.


"Iya Rom, tapi arahnya kayak buli" kata Saipul menjelaskan Roman.


Ada sedikit kagum Roman dengan keramah-tamahan orang-orang kampung tempat tinggal pak Bisri. Mereka bertiga berangkat ke masjid, yang letaknya lumayan jauh dari sini.


Begitu juga dengan Restu yang di Jakarta yang pagi-pagi buta telah mempersiapkan diri pergi ke masjid dengan menggunakan mobil milik Roman. Segala kebutuhan Restu yang baru tinggal di apartemen Roman di fasilitasi oleh Hadi.


Di pos security, Restu melihat Wandi tampak tertidur pulas. Terlihat banyak nyamuk yang terbang dan hinggap di pipi Wandi. Sesekali terdengar tangannya, menampar pipinya sendiri. Tidak lama dia mendengar suara mobil yang di hidupkan Restu. Spontan Wandi tersentak kaget,


"Aduh, maling..., maling!" teriak Wandi berlari menghadang mobil yang belum bergerak jalan.

__ADS_1


Restu tersenyum melihat tingkah Wandi yang berlari menghadang mobil yang akan dikendarainya.


"Hey! Wandi..., ini aku!" sapa Restu melongok kan kepalanya keluar dari pintu mobil.


Wandi memiringkan tubuh dan badannya ke kiri memperhatikan Restu, "Waduh! Kupikir maling!" kata Wandi memukul jidatnya.


"Maaf aku mengganggu tidurmu!" kata Restu nyamperin Wandi memajukan mobilnya.


"Sorry..., aku tertidur nyenyak!" kata Wandi meminta maaf pada Restu.


"Tidak apa-apa, aku ke masjid iya!" kata Restu menjalankan mobil perlahan, Wandi berlari menuju gerbang membukanya.


Usai sholat berjamaah, Restu jalan-jalan keliling Jakarta. Mobilnya melaju menuju jalan Sudirman. Ketika melintas di sebuah cafe Sarinah dia melihat bayangan wajah Hadi yang terletak tidak jauh dari trotoar jalan. Disana terlihat banyak orang lalu-lalang jalan-jalan dan berolah raga pagi.


Restu penasaran dan mengarahkan mobilnya ke cafe Sarinah. Ternyata benar Hadi sedang duduk bersandar di kursi sopa tampak seperti melamun. Pikirannya tidak bisa lepas memikirkan keberadaan Roman saat ini.


Hadi tersentak kaget saat tiba-tiba ada, orang menyapanya yang sedang melamun. "Assalamualaikum!" sapa Restu.


"Wa'alaikumussalam!" tengok Hadi kearah suara yang menyapanya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2