PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH LIMA: SAKSI KUNCI MENGHILANG.


__ADS_3

Ketika Roman dan pak Bisri sudah di surabaya, kita flashback ke apartemen Roman yang di tinggal oleh pak Bisri pagi itu.


Saripah baru saja usai menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim yakni sholat subuh. Usai sholat dia langsung menuju dapur membuat sarapan pagi untuk pak Bisri yang tiba semalam.


Saripah tampak bingung harus menghidangkan sarapan apa untuk pak Bisri. "Untuk sementara, aku hidangkan roti dan susu saja dulu ah..., baru nanti ku tanya sama dia kalau dia butuh sarapan lain, baru aku buatkan!" kata Saripah ngomong sendiri.


Saripah dengan cepat menyiapkan roti dan susu, setelah siap diapun menuju kamar pak Bisri.


"Tok tok tok..., assalamu'alaikum...," sapa Saripah mengetuk pintu kamarnya pak Bisri.


Saripah berdiri sejenak menunggu pak Bisri menjawab atau membuka pintu. Akan tetapi tak ada jawaban dari dalam dan pintu tidak terbuka.


"Assalamu'alaikum pak..., buka pintu...," panggil Saripah lagi, namun tetap tak ada jawaban.


Karena tak ada jawaban Saripah mendorong dan membuka pintu sendiri, ternyata pintu tidak terkunci.


"Pak..., assalamualaikum! Selamat pagi...," sapa Saripah mendorong pintu semakin lebar dan Saripah tidak mendapatkan pak Bisri didalam kamar tidurnya.

__ADS_1


"Pak Bisri kemana iya..., kok sepi...," guman Saripah dalam hati.


Saripah meletakan sarapan yang dibuat, dan diletakkan diatas meja kamar tidur. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi yang berada pada pojok kamar itu.


"Pak...," panggil Saripah di kamar mandi itu, dikamar mandi juga tak ada jawaban.


Saripah menggedor kamar mandi pelan-pelan, karena di kamar mandi itu tak ada jawaban. Diapun mendorong kamar mandi dan kosong. Saripah mulai curiga kalau pak Bisri kabur. Padahal pintu luar tertutup rapat dan kunci di pegang Wandi.


Saripah berjalan cepat nyamperin Wandi yang pagi itu sedang olah raga. "Wan..., pak Bisri tak ada dikamar nya. Kamu ada lihat dia tidak!" tanya Saripah kepada Wandi yang sedang berolahraga.


"Apa? Pak Bisri tidak ada dikamar nya? Wah gawat nih, bisa kena marah Hadi dan Nadira kita!" kata Wandi pada Saripah dengan wajah sungguh-sungguh.


"Parti..., gawat pak Bisri tidak ada dikamar nya, kami sudah cari kemana-mana tidak ada!" kata Wandi kepada Parti yang sedang menyiram tanaman bunga.


Parti mematikan kran, berhenti menyiram. Parti memanggil suaminya Irwan yang sedang memotong tanaman.


"Pak mari...," panggil Parti memanggil suaminya Irwan dengan melambaikan tangannya. Irwan melepaskan alat kerjanya dan nyamperin mereka.

__ADS_1


"Ada apa ma...," tanya Irwan memandang parti yang tampak gelisah.


"Pak Bisri yang dititip semalam tak ada di biliknya." jawab Parti.


"Waduh..., rumit nih! Kok bisa tak ada!" tanya Irwan memandang Wandi.


"Sekarang apa alasan kita, orang itu sangat penting untuk mengungkap kasus yang dihadapi bos!" kata Saripah.


Mereka berempat kumpul bermusyawarah mencari alasan bila di tanya Hadi dan Nadira.


Sedangkan yang dicari sudah berada di Surabaya bersama bos besarnya, sedang kembali menuju bandara dengan membawa koper banyak berisi pakaian dan oleh-oleh.


Pak Bisri merasa canggung bersama Roman yang ternyata memiliki hati mulia dan menjadi pelajaran penting bagi pak Bisri.


Rasa bersalah tak bisa hilang dari pikirannya pak Bisri yang telah membunuh empat orang termasuk istrinya sendiri. Juga Morrin yang menjadi target busuk bosnya yang jahat.


Morrin kekasih yang sangat di cintai Roman yang sekarang rela mengantarnya pulang untuk menyelamatkannya dari pembunuhan.

__ADS_1


Padahal Roman bisa memenjarakannya dan memancing Ghazan dan Winda agar tertangkap.


BERSAMBUNG.


__ADS_2