PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TIGA PULUH SEMBILAN: MEMOHON KEPADA ALLAH.


__ADS_3

Bayangan meraup harta kekayaan milik Roman. Ghazan dan Winda tidak sabar menunggu kabar kematian Morrin dari anak buahnya.


Sedang kedua orang tua Morrin tidak pernah tenang dengan hilangnya putri mereka. Sampai hari ketiga belum ada tanda-tanda morrin di temukan.


Bu Sri terus menangis meratapi putrinya. Sejak pacaran dengan Roman ujian tidak pernah reda menimpa putrinya. Mulai dari larangan mamanya Roman agar Morrin menjauhi Roman.


Belum lagi hinaan dan caci maki yang sangat menyakitkan dari mamanya Roman.


Bu Sri tidak sabar menunggu kabar dari Roman, berkali-kali berkata, "Pak! Udah tiga hari Morrin tidak ada kabarnya!" ucap Bu Sri sambil terus menerus memandang depan rumahnya.


"Berdoa Bu, berdoalah biar Morrin cepat pulang!" hanya itu yang bisa di ucapkan pak Imran, karena dia sudah kehabisan kata-kata.


"Aku tak bisa membayangkan ketakutan Morrin di sana pak!" rintih Bu Sri sedih.


"Ya Allah, lindungi putriku ya Allah! berikan kekuatan dan ketabahan untuknya ya Allah!" pinta pak Imran dalam hati berjalan mondar-mandir ikut ketakutan mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Sedangkan Roman yang ditunggu oleh pak Imran dan Bu Sri membawa Morrin pulang sedang mengintrogasi Toni disebuah tempat.


Roman menatap Toni dengan penuh amarah matanya benar-benar menyala ingin dia menghabisi Toni saat ini juga. Tapi karena dia orang yang beriman dan Toni juga seiman dengannya, dia berusaha mengendalikan diri.


Sedangkan Toni yang di tatap tidak menunjukan rasa takut sedikitpun jua. malah dia tersenyum dengan tenang mengejek Roman.


Dengan santai Roman duduk perlahan menatap Toni empat mata, "Katakan dengan jujur, sebelum ku koyak seluruh tubuhmu. Dimana Morrin kamu sembunyikan bersama orang-orang yang kamu sewa itu!" bisik Roman dengan suara parau bergetar menahan amarahnya.


Toni bukannya memberi jawaban malah matanya memandang Roman Dengan mata seperti cobra yang ingin menelan Roman. Bibir Toni tersenyum tanpa sepatah katapun.


Akhirnya habislah kesabaran Roman. Diapun tidak mengucapkan sepatah kata. Tapi yang berbicara sekarang tangannya, Di pegangnya leher Toni dengan tangan kiri dan tangan kanannya menyambar pinggang kiri Toni kemudian di angkat seperti kerupuk dalam karung lalu dilempar sejauh tujuh meter.


Tidak lama tampak Toni bergerak mencoba untuk bangun berdiri kemudian dia terjatuh lagi.


Roman berjalan dengan tenang mendekati Toni yang sudah tidak berdaya. Mata Toni samar-samar, kepalanya seperti berputar dengan sekujur tubuh terasa remuk melihat Roman.

__ADS_1


"Tung...gu rrrom a a a ku diam bu...bu.. kan ber... arti aku ta...hu." Toni terdiam tidak bisa melanjutkan ucapannya menahan rasa sakit tubuhnya.


"Di, bantu aku membawanya masuk. Nanti kita tanya lagi dia, kalau dia sudah membaik!" ucap Roman mengajak Hadi mengangkat Toni.


Toni dibawa masuk berdua kedalam kamar. Hadi membalurkan minyak ke seluruh tubuhnya agar Toni cepat pulih kembali hingga bisa menanyakan di mana keberadaan Ghazan dan Winda.


Satu jam kemudian Toni sudah kembali membaik dan kembali Roman meminta kepada Toni agar memberitahu di mana Morrin berada.


"Aku tidak tahu Morrin di culik! Tapi, kalau kamu perlu bantuan keberadaan Ghazan dan Winda. Aku akan memberitahumu!" ucap Toni menahan rasa sakit tubuhnya.


Mendengar tutur kata Toni, Hadi berjalan nyamperin Roman. "Sepertinya Toni berkata jujur!" bisiknya pada Roman.


"Baiklah, beritahu kami keberadaan Ghazan dan Winda!" pinta Nadira.


"Iya, ku beritahu tempat mereka!" jawab Toni bersedia.

__ADS_1


Kemudian mereka berempat pergi meluncur menuju apartemen Ghazan dan Winda. Dalam hati Roman berdoa semoga Morrin ada di sana.


BERSAMBUNG.


__ADS_2