
Haydar bukan memikirkan dokter yang memeriksa Pejas walaupun dia kelihatan serius ikut menangani kondisi Pejas bersama dokter yang datang memeriksa Pejas yang masih pingsan.
Yang ada dalam pikiran Haydar adalah cerita mbok Tety mengenai Morrin yang sudah mau diajak bicara, ini adalah kabar yang menggembirakan bagi Haydar.
Sejak pertamakali menemukan gadis cantik yang ditemukan tergeletak jatuh pingsan ditengah jalan, pada awalnya dia tak ada kepikiran untuk menolong gadis itu. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana dia menyelamatkannya.
Namun, lambat laun Haydar tiba tiba saja peduli dan timbul getaran-getaran aneh dalam hatinya. Haydar tak pernah jatuh cinta pada gadis lain, malahan sampai didatangkan berbagai tipe gadis oleh orang tuanya semua ditolak.
"Sudah beres pak! Untung saja cepat tertangani, sebab kalau terlambat bisa menyebabkan kerusakan pada lambungnya!" kata dokter kepada Haydar.
Haydar tersentak kaget dari lamunannya ketika dokter memberitahunya, "Kenapa? Sampai bisa terjadi seperti itu bu dokter?!" timbal Haydar menutupi rasa kagetnya.
"Dia tidak boleh terlambat makan! Sebab bila hal itu dilakukan, maka gejala penyakit itu cepat timbul pada dirinya!" jelas bu dokter.
"Tapi, dia sudah tertangani. Dengan mengkonsumsi obat yang akan saya sarankan ini, dia bakal cepat pulih kembali!" lanjut bu dokter memberi penjelasan kepada Haydar.
"Terimakasih pak mau datang kesini!" kata Haydar menganggukan kepalanya perlahan. Bu dokter menulis resep dan memberikannya kepada Haydar, "Carikan dia obat ini, di semua apotik banyak yang jual!" kata bu dokter menyodorkan resep kepada Haydar.
"Terimakasih, bu!" ucap Haidar lagi.
"Sama sama!" timbal bu dokter sambil membereskan alat alat medisnya dimasukan kekopernya, lalu melangkah pergi yang diikuti oleh Haydar.
Sepergi bu dokter, Haydar segera memanggil Kelor untuk pergi ke apotik membeli obat.
"Mbok, panggilkan Kelor!" kata Haydar begitu duduk dishopa ruang tamu depan lantai bawah.
"Baik, tuan!" timbal mbok Tety pada majikan.
Haydar kembali memikirkan Morrin gadis malang yang ditemukan setahun yang lalu dan sampai sekarang tidak mau bercerita siapa perihal dirinya.
Hari-hari Morrin hanya termenung seperti menyimpan suatu masalah yang tidak mau diceritakan sama orang lain.
"Ya, pak Haydar! Pak Haydar panggil saya!" kata Kelor telah muncul dihadapan Haydar.
""Iyah...! Tolong belikan pak Pejas obat ini!" kata Haydar menyodorkan resep yang diberikan dokter kepadanya.
"Baik pak!"
__ADS_1
Kelor menerima resep dan uang dari Haydar lalu pergi keluar.
Pak Haydar melangkah menuju tempat Morrin dengan Hati-hati, Haydar takut kalau kehadirannya mengganggu ketenangan gadis itu.
Haydar melangkah dengan perlahan, terlihat pintu kamar tempat Morrin tertutup rapat.
Srreeet....
Pintu kamar Morrin perlahan terbuka, Haydar terkejut dan cepat-cepat mencari tempat ngumpet.
Terlihat Morrin melangkah keluar dengan anggun dan cantik menggunakan blus panjang warna putih yang dibelikan oleh Haydar.
Morrin mengayunkan kakinya dengan anggun menuju taman samping rumah Haydar, biasanya duduk dia termenung seorang diri.
Hati Haydar terasa lega setelah Morrin telah keluar tanpa melihatnya. Haydar terus mengawasi Morrin dari jauh.
Seperti biasanya Morrin selalu meneteskan air matanya bagai orang gila. Haydar segera mencari mbok Tety didapur diruang kerjanya.
"Mbok! tolong temui Morrin dan temani dia, kalau bisa bicarakan hal-hal yang sekiranya nyaman baginya serta hindari hal-hal yang menyinggung perasaannya!" ucap Haydar.
Ehm...
Mbok Tety mendehem hati-hati dan Morrin tanpa terkejut. "Eh, maaf telah membuat nona terkejut!" ucap mbok Tety pura-pura.
Morrin menatap mbok Tety sebentar lalu berkata, "Mbok Tety...," ucap Morrin lirih. "Sampai kapan aku akan dikurung ditempat ini!" sambung Morrin sedih.
Betapa terkejutnya mbok Tety mendengar pertanyaan Morrin, mbok Tety sampai bingung harus menjawab kenapa Morrin sampai bertanya seperti ini.
Mbok Tety berpikir mungkin ini gadis memang sudah tidak waras sampai berkata dirinya dikurung, Dikurung oleh siapa? Pak Haydar? Bukankah pak Haydar yang menyelamatkan dan menolongnya? Hingga pak Haydar dengar sabar menunggu dirinya bersedia mau diajak bicara. Sampai sekarang Morrin membenci Haydar dan tak mau melihat wajah pak Haydar.
Demikian pula halnya dengan pak Haydar yang menguntit pembicaraannya secara diam-diam dari jauh luar biasa sangat terkejut mendengar ucapan Morrin. Jangan-jangan gadis ini berpikir kalau dirinya sedang di sandra, pikir Haydar dalam hati.
"Siapa yang mengurung nona?" tanya mbok Tety terlihat terjejut.
Morrin terlihat bingung tidak mengerti, melihat ekspresi mbok Tety. Morrin tampak ketakutan dan tak mau bicara, dia berpikir kalau mbok Tety dan Haydar adalah sama, sama-sama anak buah Ghazan dan Winda yang ditugaskan untuk mengawasinya.
Tubuh Morrin terlihat gemetar seperti orang kedinginan, wajahnya pucat, "Nona! Nona kenapa?" mbok Tety mencoba mendekati Morrin.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Kamu dan bosmu sama saja! Apa salahku hingga kalian menyandraku berbulan-bulan!" ucap Morrin ketus dengan tatapan mata benci dan jijik.
"Nona, istigfar nona! Istigfar!" pinta mbok Tety kebingungan.
"Jangan! Sebut sebut nama Alloh, kalian telah menyakiti dan memisahkanku dengan keluargaku! Kalian jahat!" bentak Morrin.
Haydar yang tidak berani mendekat akhirnya keluar dan mendekat, "Tenang..., tenang Morrin! ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?! Kita bisa bicara baik-baik!" kata Haydar dengan lembut.
"Kamu jangan berpura-pura manis!, Kalau kamu memang mengharap kan uang tebusan untuk membebas kan aku dari cengkraman kalian, lebih baik kamu bunuh saja aku. sebab orang tuaku tidak punya apa-apa untuk menebusku!" tunjuk Morrin kearah Haydar.
Arah tuduhan Morrin semakin jelas sekarang dan Haydar memahaminya, jadi gadis yang ditemukan tergeletak ditengah jalan ini adalah kelompok penculikan yang berhasil melarikan. Namun, apakah benar! Haydar tidak berani mengambil kesimpulan.
"Hai! Majikanku ini orang baik! dan dia orang kaya! Jadi tidak mungkin dia menculikmu!" bentak mbok Tety.
"Mbok...!, mbok tidak boleh membentak dia!" pinta Haydar.
Mbok Tety diam, matanya tampak tidak terima Haydar bosnya dituduh seperti.
"Mbok, masuklah kedalam lanjutkan kerjanya!" kata Haydar.
Mbok Tety meninggalkan Morrin dan Haydar menuju dapur menyelesaikan kerjanya. Hati mbok Tety sangat dongkol sekali.
Sedang Morrin matanya masih merah menyala memandang Haydar.
"Mudah-mudahah aku tidak salah dugaan, kalau kamu mau pulang kekeluargamu! Aku akan antar kamu hari ini juga, agar kamu tidak salah tuduh!" ucap Haydar lalu pergi meninggalkan Morrin yang masih menatapnya dengan kebencian.
Sekarang Morrin yang bingung, dia duduk mengingat apa yang dikatakan Haydar kalau dia akan mengantarnya pulang, agar aku tidak salah tuduh.
Benarkah apa yang dikatakan Haydar? Lalu kenapa dia menahanku begitu lama? Ataukah aku memang sudah gila! Seperti yang dikatakan mbok Tety.
Morrin mencoba mengingat kembali ketika dia diculik dan disekap oleh Winda. Dia juga mengingat kembali disaat kritis ketika berhasil melarikan diri dari kurungan dan sekapan Winda dan Ghazan.
💜💜💜💜💜
Bersambung
Gays bagaimana dia bisa tidak tahu kalau yang menolongnya Haydar? ikuti terus kisahnya. Apalagi Roman kekasihnya besok akan menikah dengan orang yang selalu melindungi dan mendukung cintanya.
__ADS_1