PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH ENAM: PEMUDA BERHATI MULIA.


__ADS_3

"Pak Bisri kamu memikirkan apa?" tanya laki-laki tampan yang masih muda. Wajahnya selalu memancarkan aura yang sangat menyejukkan. Selain tampan, keramahan dan tutur katanya enak didengar apapun yang di ucapkan.


Dibalik keramahan yang diperlihatkan pemuda itu seperti ada menyimpan beban yang dirahasiakan.


Pak Bisri jarang berbicara, dia kebanyakan diam dan wajahnya menggambarkan raut wajah sedih. Roman tahu apa yang dipendam pak Bisri.


Jam berangkat terbang menuju Lombok masih cukup lama. Untuk itu Roman mengajaknya makan lagi pada restoran yang ada dalam bandara. Berbagai macam menu dipesan Roman.


"Pak makanlah yang banyak! Semua ini sudah saya bayar! Sayang kalau tidak di makan!" kata Roman menyantap sate sapi kesukaannya. Roman juga sebenarnya tak ada selera makan, tapi dipaksakan dirinya.


"Baik pak." sahut pak Bisri menyantap makanan diatas meja yang berada di depannya.


Demikian pula halnya pak Bisri tidak ada selera makan sama sekali. Tapi dia harus menyantap makanan didepannya supaya Roman yang memesan makanan untuknya tidak kecewa.

__ADS_1


Ada ribuan pertanyaan berkecamuk dalam hatinya, kenapa Roman begitu baik kepadanya. Roman belum tahu kalau Morrin terbunuh karena dirinyalah yang membawa kabur tiga wanita yang terpapar virus untuk ditularkan ke tubuh morrin gadis yang sangat dicintainya.


Tapi, kenapa justru Roman yang menyelamatkannya dari Ghazan dan Winda yang sekarang sedang memburunya agar terbebas dari tuduhan pembunuhan. Padahal pak Bisri tidak mungkin akan membocorkan semua rahasia itu.


Kalau memang Roman mau membunuhnya kenapa mesti membawanya ke kampung halamannya. Sebelum mengenal Roman, pak Bisri baru ingat sekarang kalau Winda sering menyebutnya orang kaya dan menjadi incaran gadis-gadis cantik termasuk di antaranya Winda sendiri.


Sekiranya Roman orang biasa pun pasti jadi rebutan para gadis karena ketampanan paras wajahnya. Disamping memiliki paras tampan Roman termasuk orang yang Sholeh. Tadi pagi ketika sholat subuh berjamaah, diruang ibadah sholat bandara. Semua jamaah berlinang air mata mendengar alunan indah ayat-ayat yang disenandungkan Roman yang mengimami orang sholat berjamaah.


Pria ini selain baik hati, kaya, tampan tapi agamanya sungguh luar biasa mengagumkan bagi pak Bisri. Jarang kita akan menemukan pria Sholeh seperti ini.


"Pak...," panggil Marisa menatap langit-langit kamarnya sambil duduk diatas pembaringannya.


"Iya ma..., bapak disini!" timbal pak Rifky dengan sabar menunggu istrinya yang terbaring sakit.

__ADS_1


"Roman..., dimana...," tanya Marisa ngelantur lemah menitikkan air matanya.


"Roman tidak kemana-mana, Roman hanya mau sendiri, dia baru saja kehilangan orang yang sangat dicintai. Sebentar lagi pasti pulang!" kata pak Rifky membujuk Marisa yang tampak bingung dan kehabisan ide dalam membujuk istrinya.


Pak Rifky sendiri berusaha kuat menjalani kejadian yang menimpa putranya dan dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia pasrah dan berharap putranya pulang untuk menjumpai mamanya. Dia banyak istighfar, batinnya juga terpukul memikirkan putranya.


"Aminah...," panggil pak Rifky memanggil pembantunya. Pak Rifky ingin mencari ketenangan dengan pergi keluar mencari tempat yang bisa mencairkan batinnya yang sedang bergejolak.


"Iya tuan...," jawab Aminah dari luar berlari nyamperin bosnya.


"Sini..., aku mau keluar. Kamu tetap disini, tidak usah kemana-mana. Mumpung Marisa sudah tidur, kita gantian jaga." kata pak Rifky kepada Aminah.


Aminah menganggukkan kepala dan tubuhnya mengiyakan pak Rifky bosnya.

__ADS_1


puluhan tahun lebih Aminah bekerja pada pak Rifky, banyak memang ujian hidup yang menimpa keluarga ini.


BERSAMBUNG,


__ADS_2