
Di perjalanan pulang Hadi ingin tahu cara mengetahui keberadaan Roman, "Nadira, apa sekarang kamu telah menemukan ide untuk menemukan keberadaan Roman!" tanya Hadi menoleh Nadira yang menyetir mobil.
"Terus terang Di, aku tidak bisa tidur memikirkan Roman yang sekarang keberadaannya entah dimana!" ucap Nadira.
"Justru aku berharap, kamu telah menemukan solusinya." lanjut Nadira.
"Mudah-mudahan dia bisa move on dan kembali berkumpul dengan kita!" kata Hadi berharap.
"Mudah-mudahan!" timbal Nadira.
Suasana tampak sepi. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata. Mereka berdua terbawa perasaan bersalah, bingung bagaimana mengatasi keadaan yang seperti ini.
"Ya Allah, tunjukkan kami dimana Roman berada sekarang, tenangkanlah dia ya Allah. Kami yakin semua ini hanyalah ujian darimu. Kamulah yang datangkan masalah terhadap dirinya maka kepadamu lah juga tempat kami memohon agar dia terbebas dari masalah itu." ucap Hadi memanjatkan doa didalam hatinya.
Mereka berdua terdiam memandang mobil yang melintas ditengah jalan raya yang padat meluncur di jalanan meninggalkan apartemen.
Cukup riskan memang perjalanan hidup cinta Roman yang mendapatkan tentangan dari ibunya. Dan sekarang ibunya jatuh sakit karena menyesal.
Wanita yang dituduh kuat membunuh Morrin adalah Winda. Wanita pilihan mamanya dengan bukti ditemukannya Bros milik Winda yang ditemukan dalam kamar Morrin.
"Di..., aku tidak jadi pulang antar aku kerumah Morrin!" pinta Nadira yang sedang menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Baik, sekalian aku ikut tahlilan." jawab Hadi.
"Kalau..., tahlilannya setelah Isa, bagaimana kalau tahlilannya setelah magrib!" tanya Nadira.
"Tidak apa-apa, mudah-mudahan saja setelah Isa" timbal Hadi.
"Malu kita, kalau kita tidak kelihatan disana!" ucap Nadira.
Azan magrib berkumandang, Hadi menyuruh Nadira mengarahkan mobil menuju arah suara azan di kumandangkan.
Pada tempat yang lain pak Rifky sudah sholat berjamaah di masjid Al Huda, sedang Marisa tinggal didalam mobil karena tidak mungkin dia ikut sholat berjamaah, sebab dia tidak bisa duduk biasa apalagi berjalan. Dia tidak kuat menahan tubuhnya, bawaannya selalu mau jatuh saking lemahnya.
Habis sholat berjamaah pak Rifky tidak tunggu lama-lama. Dia langsung pergi bersama istrinya. Demikian juga dengan Hadi dan Nadira ditempat yang berbeda.
Menyusul Hadi dan Nadira, Hadi melihat mobil pak Rifky yang parkir tidak jauh dari masjid.
"Dir..., saya melihat mobil pak Rifky." kata Hadi memberitahu Nadira.
"Dimana? Di...," tanya Nadira memandang Hadi.
"Tu..., warna merah muda belakang mobil hitam!" tunjuk Hadi.
__ADS_1
"Benar Di..., itu mobilnya pak Rifky. Lihat..., tu ada sopirnya bapak!" tunjuk Nadira juga.
"Kita samperin!" ajak Hadi berjalan mendekati mobil pak Rifky diikuti Nadira.
Mereka berdua nyamperin pak Zaini sopir pribadi pak Rifky, "Hai Hadi!" sapa Didin security rumah pak Rifky.
"Hai Din! Kamu juga ada disini!" kata Hadi menyalami Didin.
"Iya..., nganterin bos kerumah Morrin!" timbal Didin.
"Oh ya..., kalian bertiga kemari!" tanya Hadi.
"Tidak Di..., kami berlima!" jawab Didin.
"Berlima? Siapa saja Din!" tanya Hadi tampak penasaran.
"Nyonya dan Aminah!" jawab Didin.
Usai Sholat Isa Hadi dan Nadira sudah pergi lebih dahulu kerumah orang tua Morrin. Satu demi satu jamaah tahlilan berdatangan setelah mereka turun dari masjid.
Mobil dan motor sudah memenuhi parkiran rumah pak Imran dan Hadi sengaja mengosongkan tempat khusus buat parkir mobil pak Rifky.
__ADS_1
Pak Imran dan Bu Sri sangat terkejut dengan kedatangan orang tua Roman. Orang yang sangat disegani dan di hormati.
BERSAMBUNG.