
"E..., Restu!" toleh Hadi menatap Restu yang tersenyum memandangnya.
"Aku tadi habis sholat keliling-keliling lihat suasana Jakarta dan melihat kamu disini!" kata Restu bergeser melangkah duduk didepan meja berhadapan dengan Hadi.
"Dari semalam aku tidak pulang. Aku berharap bisa menemukan jejak Ghazan dan Winda serta pak Bisri!" kata Hadi sambil menguam ngantuk.
"Berikan aku photo- photo mereka, Siapa tahu bertemu aku. Mereka tak akan mungkin menghindar karena mereka tidak mengenalku!" kata Restu
"Baik nanti ku kirim ke hand phonemu!" jawab Hadi.
"Okey, kalau begitu sekarang kamu pulang istirahat dan gantian aku yang mencari mereka!" kata Restu meminta Hadi untuk pulang beristirahat. Restu merasa kasihan melihat Hadi yang tampak kelelahan.
"Kupikir aku tidak setuju. Karena kamu baru datang dari perjalanan jauh, semalam kamu tiba dari Amerika!" kata Hadi.
"Di..., kamu tidak perlu pikirkan itu! Kamu lihat aku baik-baik saja, sekarang pulanglah istirahat kita gantian spionase mereka!" pinta Restu.
__ADS_1
"Tapi... "
"Di, aku tinggalkan bangku kuliahku yang sebentar lagi selesai. Sahabatku di timpa musibah, kita tidak tahu keberadaannya. Dia sedang dilema, sendiri bertarung dengan batinnya!" kata Restu memotong ucapan Hadi.
Mereka berbeda pikiran, tapi dapat mereka atasi bersama. Mereka berjanji akan mencari keberadaan Ghazan dan Winda bersama-sama sampai dapat.
🕌🕌🕌🕌🕌
Lain halnya dengan Roman yang pergi menuju masjid bertiga. Sesampai di masjid, azan baru saja usai. Roman langsung bergegas mengambil air Wudhu dan memasuki masjid agar dapat mendirikan sholat sunah tahyatul masjid dan ghobliah subuh.
Orang-orang kampung bertanya-tanya dan berpikir mereka kedatangan seorang ulama besar dilihat dari pakaian yang dikenakan, padahal itu pemberian dari Saipul. Tergantung orang yang mengenakan pakaian gamis panjang tersebut.
Sementara pak Bisri membisikan sesuatu pada Saipul. Tidak lama Saipul tampak nyamperin marbot masjid, dan marbot masjid berbisik pada pak haji Kholik imam besar masjid itu
Pak Kholik menolehkan wajahnya ke arah Roman yang sedang sholat sunah. Pak Kholik adalah imam besar di kampung itu. Dia memiliki kelebihan batin, dia bisa menebak dan tahu orang yang Sholeh dan tidak Sholeh.
__ADS_1
Dalam hati pak Kholik mengatakan, seorang pemuda tampan berhati mulia, seperti sedang bertarung melawan batinnya yang sedang hancur. Wajahnya memancarkan nur cahaya ke imanan.
Pak Kholik memancarkan raut wajah kagum terhadap Roman, "Anak ini masih muda, tapi ilmunya sudah mencapai tingkat tinggi!" bisik pak Kholik dalam hati.
Pak Kholik sepertinya bisa membaca kalau Roman sudah menguasai banyak ilmu agama dan pak Kholik juga bisa membaca kalau Roman hafal tiga puluh juz Al Qur'an beserta tafsir-tafsirnya demikian pula dengan ribuan Hadist di kepala Roman.
Pak Kholik menganggukkan kepala kepada marbot masjid untuk membolehkan Roman yang menjadi imam. Marbot masjid siap-siap untuk qamat, sebelum qamat dia mengarahkan pandangannya pada seluruh jamaah terlebih dahulu.
Allahu Akbar Allahu Akbar..., asyhadu an lama ilaaha ilallah wa asyhadu Anna muhammadarrasulullah, hayya Alash Sholah, hayya alal falaah. qad qaamatish Sholah 2x Allahu Akbar 2x laa ilaaha ilallah. Pak marbot mengumandangkan qamat yang berarti sholat segera didirikan
Pak haji Kholik mempersilahkan Roman mengimami sholat. Roman sangat terkejut dan balik menyuruh pak haji Kholik. Tapi haji Kholik kembali mempersilahkannya. Maka Roman Pun akhirnya maju kedepan mengimami jamaah kampung yang hadir. Sholat subuh yang di imami hampir mencapai delapan shaf.
Roman Pun sangat heran kenapa pak Bisri bisa menjadi penjahat, padahal penduduk kampungnya sangat taat beribadah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1