PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
OPERASI PENCULIKAN.


__ADS_3

Nadira Menjelaskan perkiraan perjalanannya dalam menjalankan aksinya. "Sekarang paham? kan...," ucap Nadira bersiap-siap.


"Let's go!" ajak Roman kepada pak Saipul dan pak Mansur.


Mereka berempat turun bersama menuju lobi utama hotel, berjalan langsung ketempat parkir mobil.


Dalam waktu sekejap mobil yang dikendalikan Nadira sudah lenyap meninggalkan Hotel.


Malam ini Nadira yang minta mengemudikan mobil karena dia yang tahu rumah orang tua Winda.


"Dari mana kamu tahu rumah winda!" tanya Roman kepada Nadira yang mengemudikan mobil.


"Dari Oleng!" jawab Nadira


"Siapa? Oleng!" tanya Roman lagi penasaran.


"Anak buah Ghazan!" jawab Nadira sambil terus matanya pokus menghadap kedepan.


Roman menoleh Nadira yang pokus mengemudikan mobil disampingnya.


"Gimana ceritanya anak buah Ghazan bisa memberitahumu rumah orang tua Winda!" tanya Roman tidak habis pikir.


"Waktu kamu bawa kabur pak Bisri diam-diam!" jawab Nadira.


"Waduh!" ucap Roman tanpa sengaja mulutnya mengeluh, ketika Nadira juga tidak sengaja menyindirnya.


"Aku kan hanya ingin mengamankannya dari ancaman Ghazan!" keluh Roman.


"Sorry...," toleh Nadira memandang Roman tersadar, telah membuat Roman seperti tidak nyaman.


Perjalanannya menuju kediaman Orang tua Winda belum sampai setengah perjalanan. Nadira terus membawa laju mobilnya.


"Maksudku saat kamu kelombok bersama pak Bisri kami menggerebek kediaman Ghazan, kami menangkap Oleng dan memaksanya untuk memberi tahu kami keberadaan Ghazan dan Winda!" kata Nadira menceritakan Roman.


"Sejak itu Oleng sering menjadi mata-mata saya!" lanjut Nadira menceritakan Roman.


"Ketika kalian bertiga gerebek mereka Ghazan dan Winda ada?" tanya Roman.


"Menurut keterangan Oleng Ghazan kelombok untuk menghabisi pak Bisri sedangkan Winda berhasil kabur ketika kami datang!" tutur Nadira.


Roman tampak merenung sambil menghela napas,


"Berarti Oleng bisa kita minta bantuannya mencari tahu keberadaan mereka!" kata Roman kepada Nadira.


"Nomor Olengkan ada di hp aku yang hilang?" ucap Nadira.


"Oh, ya! kamu tidak hapal? nomornya!" tanya Roman.


"Tidak!" jawab Nadira.


Saat belok menuju arah kediaman orang tua Winda, Nadira berhenti di sebuah Supermarket membeli topeng masker ninja balaclava alvinestar dan dua buah pisau plastik mirip pisau asli terlihat seperti tajam setajam menyerupai pisau sesungguhnya.


Usai membeli topeng masker ninja, "Apalagi yang belum kamu beli!" tanya Roman ketika mereka berada diluar hendak naik mobil.

__ADS_1


Nadira mengingat-ingat apalagi yang belum dibeli, "Apa ya?" tanya Nadira yang memikirkan yang belum dibeli.


"Apa perlu kita membeli bius!" usul Roman.


"Oke, deh! Kita beli bius, siapa tahu kita memerlukannya!" ucap Nadira.


"Dimana? Kita beli!" tanya Roman.


"Didalam ada dijual!" sahut Nadira.


Kembali mereka masuk kedalam memcari bius, yang biasa dipakai menyekap korban sampai tidak sadar.


Mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju kediaman orang tua Winda.


Satu kilo dari rumah orang tua Winda jam baru menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Untuk menunggu jam operasi mereka mampir berempat di sebuah kafe makan, minum sesuai keinginan mereka Masing-masing.


Sambil menikmati pesanan mereka, Roman mengingatkan Nadira cctv. baik cctv orang lain maupun cctv milik orang tua Winda.


"Kita harus waspada cctv jalan yang kita lewati dan cctv rumah orang tua Winda!" kata Roman.


Nadira tersadar setelah diperingati Roman tentang cctv.


"Dirumah Orang tua Winda ada cctv!" ucap Nadira.


"Kalian punya solusi untuk mengatasi cctv!" kata Roman kepada pak Mansur dan pak Saipul.


"Menurutku jam operasi kita jam rawan, artinya! Mobil yang kita pakai ini tetap akan jadi penyelidikan dari sekian mobil yang dicurigai!" ucap pak Saipul


Roman dan Nadira paham maksud pak Saipul. Disamping mobil orang lain yang masuk dalam rekaman cctv yang dilintasi, mobil yang mereka pakai juga tetap akan dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib.


Setelah mereka menyusun rencana mereka matang-matang. Maka, rencana penculikan berjalan.


...----------------...


Ditengah malam saat Roman dan Nadira tengah melakukan penculikan. Oleng memiliki kesempatan menghubungi Hadi dan Lui.


Hadi dan Lui yang mendapat keterangan keberadaan bu Marisa dan Masturi langsung terjun ketempat itu.


"Malam ini juga kita kesana!" pinta Lui mengajak Hadi yang tengah memberitahunya diluar kamarnya pada sebuah hotel tempat mereka menginap.


"Oke!" kata Hadi mengiyakan Lui.


Tidak lama kemudian mereka berdua menuju palimanan.


Ditengan perjalanan Hadi memberhentikan mobilnya, "Ada apa? Di," tanya Lui heran melihat Hadi tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Lihat dua motor itu!" tunjuk Hadi.


"Itu kan Roman dan Nadira?!" seru Lui.


Hadi dan Lui sangat heran melihat Roman dan Nadira ditengah malam begini.


Setelah turun dari motor mereka bergerak ketempat gelap.

__ADS_1


"Hadi! Apa yang mereka lakukan?!" seru Lui.


Belum sempat Hadi menjawab mereka dikejutkan dengan munculnya dua orang berpakaian hitam-hitam ala ninja.


"Ssst...," Hadi memberi isyarat agar Lui jangan banyak bicara.


Dengan ringan dan gesit mereka bergerak mendekati sebuah rumah!


"Itu kan rumah pak Sumarto dan bu Adelia?" ucap Lui.


"Siapa? Mereka!" tanya Hadi.


"Orang tuanya Leo mantan pacar aku!" jawab Lui.


"Berarti! Winda yang kalian maksud! Winda adiknya Leo?!" ucap Lui dengan suara bergetar.


"Tenang..., tenang!" kata Hadi mengangkat tangannya menyuruh Winda tenang.


"Nanti ceritakan aku, siapa Leo dan Winda? Setelah kita melihat apa yang dilakukan Roman dan Nadira." Pinta Hadi.


Roman dan Nadira dengan gesit dan ringan melompati pagar rumah orang tua Winda.


Dengan gerak cepat Roman berhasil membuka gembok pintu gerbang pagar rumah orang tua Winda.


Setelah pintu gerbang dibuka mereka bergerak masuk lewat samping rumah tempat garasi mobil dan dengan gampang pula Roman membuka pintu Jendela ruangan tengah.


Tampak pak Sumarto tengah nonton bola dengan mata terpejam. Dengan santai Roman langsung membukam mulut pak Sumarto.


Pak Sumarto sontak terkejut dengan mulut dibungkam, "Siapa kalian!" teriak pak Sumarto, suaranya kecil tidak terdengar karena mulutnya dibungkam.


"Jangan berteriak kalau tidak mau lehermu terpotong!" bisik Roman.


"Sekarang tunjukkan, dimana? Kamu letakkan kunci mobilmu!" bisik Nadira.


Pak Sumarto berpikir Roman dan Nadira perampok, tangannya segera menunjuk kamar tidurnya.


Nadira melangkah dengan santai kekamar tidur yang ditunjuk pak Sumarto.


Nadira mendapati bu Adelia tertidur pulas dan mengintari dinding kamar itu.


Nadira Melihat kunci mobil tergantung pada deretan gantungan baju.


Nadira kembali keluar kamar nyamperin pak Sumarto, "Benar? Ini kunci mobilmu!" tanya Nadira.


Pak Sumartio menganggukan kepalanya mengiyakan. Lalu Nadira memberi kode Roman untuk membius pak Sumarto.


Setelah pak Sumarto pingsan, Roman segera membopong pak Sumarto kedalam mobil.


Sementara Nadira kembali masuk kedalam kamar membekap mulut bu Adelia yang tertidur pulas.


Bu Adelia meronta sebentar kemudian lemas dan diam tidak berkutik. Dengan ringan tubuh bu Adelia dipanggul oleh Nadira.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2