PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE EMPAT PULUH LIMA: MANA PUTRAKU.


__ADS_3

"Baik nyonya!" jawab Didin ketakutan.


Tampak Marisa wajahnya pucat, badannya lemah. Tidak lama kemudian dia menangis tersedu-sedu memanggil-manggil Roman.


"Roman anakku. Kamu di mana!" ucap Bu Marisa terisak-isak menangis.


"Sabar nyonya, Roman pasti pulang!" bujuk Aminah.


Aminah melihat Bu Marisa seperti mencari sesuatu, "Handphoneku mana Minah?!" tanya Bu Marisa dengan tubuh tersandar lemah.


"Ketinggalan di rumah nyonya!" jawab Aminah.


Marisa terdiam sebentar, lalu bertanya kepada Didin, "Din..., hp mu ada nomor Hadi ya?" tanya Bu Marisa.


"Ada nyonya!" timbal Didin menyodorkan handphonenya kepada Bu Marisa.


Lalu Bu Marisa menghubungi Hadi, agar mencari keberadaan Roman dan membujuknya pulang. Marisa mengembalikan handphone Didin. Tidak lama kemudian ada panggilan dari Pak Rifky, "Halo pak!" timbal Didin menjawab panggilan pak Rifky.


"Kamu sekarang di rumah sakit mana?" tanya pak Rifky.


"Tidak jadi pak! nyonya tidak mau di bawa kerumah sakit, dia minta di antar balik!" timbal Didin.

__ADS_1


"Jadi dia sudah siuman?!" tanya pak Rifky.


"Iya pak!" timbal Didin lagi. Pak Rifky langsung mematikan hp nya setelah mengetahui Bu Marisa tidak mau di bawa ke rumah sakit.


Di tempat lain, Hadi yang di minta Bu Marisa mencari keberadaan Roman sedang joging di trotoar jalan. Di bawah jembatan Casablanca. Dengan tenang dia mengayunkan kakinya perlahan berlari ringan.


Sambil berlari ringan, Hadi mengingat kejadian kemarin menimpa bosnya, yang sekali gus sahabat dan seperti saudaranya sendiri. di timpa musibah yang tak terlupakan.


Sekarang dia tidak tahu dimana keberadaan bosnya Roman. Sedang Bu Marisa tidak henti-henti nya menghubunginya menanyakan keberadaan Roman putranya.


Setelah cukup lelah dan kakinya terasa pegal Hadi berjalan biasa. Ketika sampai di depan Mall Ambasador, matanya melihat Bisri anak buahnya Ghazan keluar dari Mall.


Dengan sigap dan pasti dia mengejar dan mengikuti pak Bisri kemana perginya. Begitu ada kesempatan Hadi tak menyia-nyiakannya langsung meraih tangan pak Bisri.


Plaaak...,


Hadi menepis pukulan pak Bisri, lalu balik menyerang. Pukulan bertubi-tubi di lepaskan Hadi di susul tendangan yang sangat merepotkan pak Bisri.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya pak Bisri sambil terus menghindari pukulan Hadi yang hampir saja melukainya.


"Mematahkan lehermu untuk kuserahkan ke polisi!" bentak Hadi mengancam pak Bisri.

__ADS_1


"Aku hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhanku!" ucap pak Bisri membela diri.


Hadi terus mendesak pak Bisri tanpa memberinya peluang untuk menyerang balik. Hari ini dia bertekad dapat menangkap pak Bisri, agar dapat mengorek keterangan di mana Ghazan dan Winda berada.


Pak Bisri semakin terdesak dengan serangan Hadi, tampak pak Bisri kewalahan dan kerepotan hingga berniat untuk kabur.


Hadi melihat gelagat pak Bisri yang mencari peluang untuk kabur. "Hm..., ini orang tampaknya cari jalan untuk kabur." guman Hadi dalam hati. Tak akan ku biarkan kamu kabur kisanak bisiknya.


Akhirnya, saat pak Bisri hendak kabur disitulah ada kelengahan yang di buat olehnya, Dan peluang bagi Hadi melepas kan tendangan yang sangat keras.


Weees..., tendangan Hadi dengan cepat menuju sasarannya.


Buuughk...., tendangan Hadi tepat mengenai dada pak Bisri.


Uuughk...., rasanya pak Bisri seperti tidak bisa bernapas terkena tendangan Hadi.


Pak Bisri terdorong ke belakang sambil memegang dadanya. Pak Bisri batuk-batuk menahan rasa sakit, dia duduk bersimpuh tidak kuat untuk berdiri.


"Sekarang katakan sejujurnya, sebelum kemarahan ku memuncak. Di mana keberadaan Ghazan dan Winda!" ancam Hadi tidak main-main.


"Aku sekarang sedang di buru mereka, karena aku satu-satunya saksi kunci kematian Morrin!" jawab pak Bisri batuk-batuk menahan rasa sakit.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2