PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH ENAM:MENYUSUP KE SARANG MUSUH.


__ADS_3

Tiga sekawan sahabat Roman telah berada di depan kediamannya Ghazan. Mereka bertiga mengintip dari jauh mengitari keadaan tempat itu.


Mereka berunding sebentar, lalu Hadi melangkah lebih dahulu mendekati dinding tembok yang tinggi melangkah lewat kiri.


Hups...,


Hadi melompati dinding tembok yang tinggi dengan ringan dan gesit, terbang merayap bagai tokek. Ada dua orang melihat Hadi merayap diatas tembok.


"Hay siapa kamu!" tegur salah seorang anak buah Ghazan yang melihat Hadi merayap di atas tembok.


Wessst....,


tanpa menjawab Hadi meleset menerjang penjaga yang menegurnya,


Plaaaak...,


Tendangan kiri Hadi menghajar tekuk salah satu anak buah Ghazan, lalu Hadi berguling satu putaran dan membuat sapuan tendangan memutar lagi menghajar yang satunya.


Duuuuk....,


Langsung mengenai punggungnya dan kedua-duanya menggelepar bagaikan ikan yang terkena kail pancing.



Pergerakan yang sempurna diperagakan oleh Hadi, hingga dia masih aman menyusup ke dalam.


Sedangkan Nadira melangkah dengan tenang menuju pintu gerbang seorang diri. "Buka pintunya!" teriak Nadira pelan, matanya tajam kearah empat penjaga pintu gerbang dengan sinis. Dia menggoyang-goyangkan pintu gerbang itu.


"Heh! Siapa kamu, berani teriak-teriak di kandang macan!" timbal Oleng berdiri di balik pintu gerbang di hadapan Nadira.


"Buka dulu pintunya, jangan banyak bacot kamu!" gertak Nadira dengan tenang berwibawa.


"Kamu minta dibukakan pintu! apa dulu keperluanmu?!" timbal Oleng lagi dengan geram.


"Aku mau ketemu bos mu!" jawab Nadira dengan Sabar.


"Baik, kalau begitu sebutkan identitasmu!" pinta Oleng.


Nadira bukannya memberikan jawaban, tetapi matanya yang mendelik marah yang menjadi jawabannya.


"Wai..., bagaimana aku bisa memberi laporan kepada bosku, kalau kamu mau bertemu tanpa menyebut namamu!" tatap Oleng kepada Nadira yang memandangnya tanpa berkedip.


"Tak perlu aku menyebut namaku! Bukakan aku pintu ini? Aku mau bertemu bosmu!" jawab Nadira.


Hahaha...., Oleng tertawa menggoyangkan tubuhnya yang kurus mengejek Nadira.


"Heh! Lu pikir lu siapa? Hah, ditanya malah bikin lagak didepan gua, gua disini ni pimpinan mereka!" tunjuk Oleng pada tiga kawannya yang berada di belakangnya.

__ADS_1


Nadira mau terpancing dengan ejekan Oleng. Tapi, dia tetap berusaha tenang. Tidak mau berdebat, Nadira melompati pintu gerbang besi baja dengan tenang , santai, gesit dan lincah.


Huuuups..., Hyiaaat..., Iyaaat!


Cuman dua kali pijakan kaki pada pintu gerbang, Nadira langsung salto memutarkan tubuhnya di udara.


Empat anak buah Ghazan terkesima melihat gerakan ringan dan lincah didepan mata mereka,


Huuup...,


Nadira mendarat sempurna didepan mereka. Melihat hal yang membahayakan Oleng langsung perintahkan anak buahnya mengepung Nadira, "Tahan dia dan...." belum sempat Oleng perintahkan anak buahnya menyerang Nadira,


Buk buk buk....,


Secepat itu Nadira menghantam dan menendang tiga kawan Oleng yang mengepung Nadira.


Akh..., Hugh..., ugh...


Hantaman di terima tiga penjaga, saat mata mereka melongo melihat gerakan Nadira salto memutar di udara, tidak di sia-siakan Nadira.


Sekarang tinggal Oleng berdiri berhadapan dengan Nadira. Dasar Oleng, bukannya takut. Malah bikin ulah didepan Nadira dengan memainkan matanya yang sebelah.


"Bangsat lu!" sumpah Nadira geram, Nadira marahnya bukan main di ejek Oleng.


Perkelahian satu lawan satu tidak berlangsung lama, karena tiga kawan Oleng yang kena gebuk tadi sudah berdiri dan gabung mengeroyok Nadira.


Winda yang lagi santai duduk di ruang tengah di kawal Barra dan Zalu mendapat laporan dari anak buahnya, "Non, diluar ada penyusup masuk!" lapornya.


"Kau kenal siapa mereka?!" tatap Nadira.


"Kenal non, mereka adalah dua orang yang pernah kita serang, salah satunya adalah perempuan yang mengakibatkan nona koma dan masuk rumah sakit!" timbalnya


"Hm..., iya! mereka adalah Nadira dan Hadi!" ucap Nadira.


"Rupanya mereka mencurigai kita, sebagai pelaku yang menyebabkan tewasnya Morrin kekasih Roman!" sambung Nadira seraya berdiri.


"Okey Zalu, cegat mereka. Jangan sampai mereka berhasil masuk ke ruang kamar Ghazan. Mengerti!" perintah Winda.


"Siap bos!" timbal Zalu.


"Dan kamu Barra ikut aku keluar meninggalkan tempat ini!" ajak Winda segera beranjak pergi meninggalkan tempat ini.


Baru saja Winda akan melangkah meninggalkan tempat ini, Winda melihat ada sosok bayangan mencurigakan melintas di ruangan samping menuju arah kamar Ghazan.


Bayangan itu sekarang berada di tempat biasanya Ghazan mengumpulkan semua anak buahnya untuk memutuskan suatu perkara.


Restu belum berpengalaman dalam pekerjaan yang berhubungan dengan dunia kejahatan, dia tampak tidak berhati-hati dalam mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


Winda memberi isyarat pada Barra untuk mengejar bayangan yang mencurigakan itu. Benar saja, Restu seperti mengambil jalan yang salah. Tampaknya dia berjalan di ruangan itu menuju keluar bagian belakang.


Begitu hendak balik, Restu sudah di hadang Barra dengan tatapan mata merah. "Hendak kemana? Kamu penyusup!" Hadang Barra seorang diri.


"Hendak menangkap mu semua!" gertak Restu berdiri siap untuk melawan. Restu berpikir keras bagaimana caranya mengakali musuh di hadapannya ini. Sementara dia tidak pandai bela diri. Nadira dan Hadi belum tahu Restu tidak pandai bela diri.


"Silahkan kalau kamu bisa menangkap kami!" tantang Barra.


Restu berusaha menutupi dirinya yang tidak pandai bela diri dengan cara menggertak Barra. Restu memasang jurus dengan melekukan tangan kanannya seperti gaya ular cobra.


Hahaha...,


Barra tertawa terpingkal-pingkal melihat cara Restu membuka jurus. Barra sekarang sadar, ternyata Restu tidak pandai bela diri. Ini terlihat dari Kuda-kuda kakinya yang tidak benar.


Akan ku buat tubuh jadi bulan-bulanan ku, sampai seluruh tubuhmu babak belur. Berani sekali datang ke sini menyusup, ucap Barra dalam hati geram.


Restu bisa merespon pikiran Barra, rupanya musuh didepannya tahu akan dirinya tidak bisa bela diri. Restu berpikir bagaimana bisa keluar dan mengelak dari serangan pria seram didepannya.


Haiyaaaat...,


Barra ngerjain Restu, Pura-pura akan menyerang. Belum di serang Restu sudah melompat ke belakang


Dan,


Kedebuuuk...,


Restu bukannya kena pukulan Barra, Melainkan tubuhnya sendiri membentur dinding tembok di belakang tempatnya berdiri.


Aduuuh....,


Restu merintih kesakitan meraba punggungnya.


Hahaha...,


Barra tertawa lagi terpingkal-pingkal melihat Restu kesakitan karena belum di apa-apa kan olehnya.


Ini baru saya kerjain, belum saya hajar yang sesungguhnya, ujar Barra dalam hati.


Restu menggeliat kesakitan. Belum usai merasakan sakit tubuhnya, Restu melihat bayangan tangan Barra hendak menghantamnya dan,


Buuuuk...,


Tangan kanan menghajar dengan keras dinding tembok belakang tempat Restu berdiri.


Auuu....,


Kali ini Barra yang merintih kesakitan. Darah bercucuran deras keluar dari jari-jari tangannya. Seluruh tangan kanannya terasa kaku, karena menghantam dinding tembok beton yang kokoh.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2