
"Lihat tuh, bapakmu! Dari baru masuk di rumah ini. Dia duduk diam tidak berbicara sepatah katapun!" ucap Bu Sri lemas melihat Nilam.
"Pa...," tegur Nilam memandang bapaknya.
"Tak apa-apa nak, bapak hanya masih belum percaya saja!" kata pak Imran bimbang dan tampak seperti orang bingung.
Sudah terbiasa hidup sederhana. Dengan rumah biasa dengan memiliki, satu ruang tamu, satu ruang makan dan satu ruang tempat kumpul keluarga. Ada dapur, kamar mandi dan Toilet merupakan rumah mewah bagi pak Imran.
Tapi ini rumah! Bukannya rumah! Bagi pak Imran, tapi istana mewah untuk bangsawan dan raja-raja. Bagaimana pak Imran tidak bergetar tubuhnya. Dan jantungnya hampir saja copot, di berikan rumah oleh orang yang pernah membenci putrinya.
Rumah mewah sebesar dan seluas ini. Baru bisa didapat oleh orang, kalau sudah bekerja puluhan tahun. Inipun orang itu harus berpenghasilan di atas seratus juta sebulan.
Sedang pak Imran mengumpul kan seratus juta dalam waktu dua tiga tahun saja tidak akan sanggup. Apalagi berpenghasilan seratus juta sebulan.
Inilah penghidupan orang di Indonesia, terlalu jauh jarak antara orang miskin dan orang kaya dan pemerintah sejak awal hingga kini belum ada satupun yang berhasil memangkas jarak itu.
Setidak-tidaknya ada pemerataan diantara kehidupan daerah yang terpencil dan daerah-daerah yang sedang berkembang.
Mari kita tinggalkan pak Imran yang sedang dalam kebingungan berada di dalam rumah mewahnya menuju Winda yang kabur dari amukan tiga sahabat Roman.
Winda yang kabur dari amukan sahabat-sahabat Roman, Bersama-sama Barra dan Zalu membuat rencana baru agar terhindar dari buruan polisi.
Untuk mendapatkan kehidupan dunia yang bertaburkan harta tidak hanya dengan angan-angan, tapi perlu perjuangan yang telah tertanam tekad yang kuat, untuk menyelam di dalamnya dengan keringat dan pikiran.
Orang yang seperti Winda dan Ghazan beserta lingkarannya, tak kan mungkin mau menyelam di dalamnya dengan menggunakan keringat dan pikiran.
Mereka mau yang instan, yakni tidur bermalas-malasan sambil mengkhayal menemukan pohon yang berdaun kan emas, berbuah intan berlian lalu memetiknya hanya dengan memejamkan mata.
Itulah sebabnya jangan heran jika melihat orang berlomba- lomba pamer harta tapi dari hasil korupsi. Disana sini terjadi penipuan dengan bermacam cara, ramai-ramai mencetak dan mengedarkan uang palsu serta terjadi penculikan dengan tebusan tinggi dan perampokan terjadi dimana-mana.
Kita mestinya punya pemimpin yang benar-benar memikirkan rakyat bukan pemimpin yang benar-benar gimana dia memoroti uang rakyat.
Seperti apa yang direncanakan Winda sekarang. Winda bukannya sadar, meskipun sedang di buru aparat. Malahan dia bersama teman-temannya menyusun rencana baru untuk membentuk kejahatannya.
Sekarang rumah orang tuanya yang dijadikan sebagai tempat bersembunyi bersama temannya dan tetap berhubungan dengan Ghazan kekasih gelapnya.
__ADS_1
Kedua orang tua Winda sudah tahu permasalahan putrinya. Untuk itu dia melakukan segala cara untuk menyelamatkan putrinya dari tangkapan polisi, bukannya menasehati putrinya.
Pada depan lobi rumahnya, terlihat Zalu sedang menyirami bunga di sekitaran halaman rumah itu. Sesekali Zalu memungut sampah dan daun-daun kering yang berserakan.
Ada juga asisten rumahnya yang bernama Zulaikha tampak sibuk bekerja. Sesekali dia menggoda Zaky tanpa malu-malu. Sedangkan Winda duduk didepan lantai dua rumah itu, sedang berbicara melalui handphone dengan seseorang.
"Bang Zalu...," panggil Zulaikha pada saat sedang beristirahat, Winda menoleh kebawah memperhatikan tingkah laku asistennya.
"Iya neng...," timbal Zalu berlari kecil nyamperin Zulaikha.
"Minta tolong boleh, bang!" seru Zulaikha manja sambil kedipkan mata dan goyangkan tubuhnya.
"Minta tolong apa?" timbal Zalu polos tidak paham dengan godaan Zulaikha.
"Antar aku belanja ke pasar!" pinta Zulaikha tetap genit dengan kedipan matanya.
"Boleh!" sahut Zalu masih polos tidak ngerti dengan sikap genit dari Zulaikha.
Zulaikha tampak sedikit gusar karena tidak di respon Zalu.
Zalu merinding timbul gairah di perlakukan seperti itu. Winda yang melihat Geleng-geleng kan kepala di lantai dua.
Sesudah semua kerjanya beres, Zulaikha segera naik keatas nyamperin Winda minta ijin kepasar diantar Zalu guna membeli segala kebutuhan yang sudah menipis.
Beberapa saat setelah itu Winda turun bersama Zulaikha memanggil Zalu,
"Zalu..., sini!" panggil Winda melambaikan tangannya ke arah Zalu yang sedang duduk di gardu pojok kanan rumah itu.
Tanpa pikir panjang Zalu segera mendekat,
"Tolong antar Zulaikha belanja ke pasar, kamu mesti hati-hati. Gunakan baju penutup wajah, biar tidak di kenali orang. Pakai topi dan masker!" ucap Winda menasehati Zalu.
"Siap, non!" timbal Zalu membungkuk sedikit.
Zulaikha hari ini tampak senang bisa belanja di temani cowok. Di jalan, Zulaikha berbicara banyak tentang status Zalu.
__ADS_1
"Bang..., hari ini aku senang banget..., bisa belanja sama abang!" ucap Zulaikha dengan raut wajah berseri-seri.
"Sama..., aku juga senang sama cewek cakep!" sahut Zalu sambil tertawa kecil.
"Bang..., Abang asli mana?!" tanya Zulaikha dengan mata ke arah jalan raya.
"Aku asli Jambi!" timbal Zalu menolah ke arah Zulaikha mulai berani.
"Orang Jambi cakep-cakep bang!" seru Zulaikha berharap Zalu paham maksudnya.
Gedung-gedung tinggi, sederetan taman dan rumah-rumah mewah yang di lewati mobil Zalu lewat dengan satu sanjungan Zulaikha. Gaya tubuh centil yang di peragakan Zulaikha serta kedipan yang di lontarkan baru sekarang di sadari Zalu.
"Bang Zalu sudah berkeluarga kagak!" tanya Zulaikha.
"Kagak ada yang mau sama abang! Abang kan jelek!" timbal Zalu.
"Berarti Abang sendiri dong sekarang?!" tanya Zulaikha lagi.
"Bukannya sendiri? Memang dari dulu hingga sekarang Abang bujangan!" timbal Zalu.
Zulaikha tampak senang mengetahui Zalu masih bujangan, dua pekerja Winda bertemu di bawah naungan dan tampaknya mulai saling mendekati.
"Zalu, disana nanti ada pertigaan jalan. Belok kiri iya?" seru Zulaikha.
"Itu kan jalan Cempaka Putih Zulaikha!" ucap Zalu, sepertinya mengetahui tempat yang di maksud Zulaikha.
"Iya Zalu, nanti kita belanja di pasar Rawasari. Tapi sebelum kita belanja di pasar, kita mampir dulu di kontrakan kakak iparku!" pinta Zulaikha.
"Kalau boleh tahu neng Zulaikha, ada perlu apa kesana? Apa sudah minta ijin sama bos!" kata Zalu ingin tahu, sebab Zalu tidak ingin bosnya khawatir kalau terlalu lama keluar belanja dan belum balik-balik.
"Aku kan mau ajak kamu pacaran, ya enggak perlu minta ijin Zalu...," seru Zulaikha.
Zalu terperangah mendengar ajakan Zulaikha yang tidak malu-malu mengutarakan maksudnya. Padahal Zalu merasa belum lama bertemu dan ini pertama kalinya pergi, sudah di ajak pacaran.
BERSAMBUNG.
__ADS_1