PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE EMPAT PULUH DUA: HARI BERDUKA BAG I


__ADS_3

Lama Winda berpikir untuk dapat menyingkirkan Morrin dari atas dunia. Baru kemudian dia terinspirasi. Kalau cara yang tepat agar tidak dapat di lacak dan dituduh membunuh oleh polisi adalah dengan cara menularkan virus ke tubuhnya.


Namun, kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh jua maksudnya sepintar apapun kita menyembunyikan kebusukkan kita, pasti akan bau juga. Buktinya, ada Bros miliknya yang tertinggal saat menculik morrin.


Dalam perjalanan menuju apartemen Ghazan dan Winda, jantung Roman berdebar hebat seakan sudah terjadi sesuatu pada Morrin kekasihnya.


Dua ratus meter dari apartemen Ghazan dan Winda, terlihat puluhan polisi dan petugas covid sedang mengevakuasi empat wanita tewas karena terpapar virus COVID-19.


Ketika media mengumumkan nama-nama mayat yang tewas terdengar nama terakhir disebut nama Morrin Arsela binti Imran.


Mendengar nama tersebut wajah Roman pucat, bibirnya tidak bisa di gerakkan serta lidahnya terasa kaku. Dunia terasa gelap, seluruh isinya mengejek, menghina dan tertawa mengatakan kamu tidak berguna Roman.


Roman menghimpun kekuatan. Setelah merasa pulih dia keluar dari mobilnya menerobos masuk tapi, dia di hadang dan tidak di perbolehkan.


"Kamu tidak boleh masuk mas!" tegur polisi.

__ADS_1


"Aku harus ketemu pak! Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya!" mohon Roman.


"Kamu apanya korban!" tanya salah seorang dari mereka.


"Aku pacarnya pak!" Sahut Roman cepat menghiba memohon-mohon seperti anak kecil.


"Kamu pacarnya, bapak dan ibunya sekalipun tidak boleh mendekat!" ucap salah seorang dari petugas COVID tersebut.


"Ini COVID pak, semua tidak boleh mendekat. Kita semua disini, takut kamu tertular!" timbal petugas yang lain.


Nadira dan Hadi tidak dapat berbuat apa-apa, selain ikut larut dalam kesedihan. Keduanya merasakan apa yang melanda sahabatnya ini.


Keduanya berusaha membujuk Roman untuk menerima kenyataan. Dalam hati mereka bertekad untuk meminta pertanggung jawaban Ghazan dan Winda.


Toni yang ikut dalam menunjukan apartemen Ghazan dan Winda, memohon pada Roman untuk percaya kalau dirinya tidak terlibat dalam penculikan itu.

__ADS_1


Dia juga merasa kehilangan Morrin, rasa benci terhadap Ghazan dan Winda menjalar di darah nadinya. Dua makhluk yang pernah di bayar untuk menghilangkan nyawa Nadira dan Hadi, telah membunuh gadis yang sangat di cintai.


"Ku harap kamu percaya padaku, aku tidak ikut dalam rencana mereka..., aku juga kehilangan Morrin!" kata Toni pada Roman.


"Semua ini bisa kamu buktikan saat Ghazan dan Winda di tangkap polisi!" ucap Roman. hanya itu yang terlontar dari mulut Romannya.


Sementara di rumah morrin kedua orang tuanya belum mengetahui dan mendapat kabar meninggalnya putri mereka. Para tetangga tak ada satupun yang tahu walau beritanya sudah menyebar di media masa.


Orang tua Morrin hanya tahu putrinya di culik, dan sampai saat ini dia belum mendapat kabar. mereka masih menunggu dan berharap putrinya kembali.


Tangis ibu Sri ibunya Morrin tidak pernah reda. Hari ini dia menyalahkan dirinya sendiri. "Kalau ada apa-apa dengan putriku aku tak akan memaafkan diriku sendiri...," tutur Bu Sri terisak-isak menangis ngomong sendiri.


Kedua adiknya Morrin membujuk ibunya untuk sabar. Tidak lama kemudian terdengar dari luar orang mengetuk pintunya. Mereka semua terkejut, pak Imran segera membuka pintu dengan hati berdebar-debar.


Dalam hati dia berdoa semoga yang datang adalah Roman dengan membawa Morrin dalam keadaan selamat. Dengan perlahan pak Imran membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2