PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
BINAR MATAMU MERINGANKAN KEGETIRAN HATIKU.


__ADS_3

"Berarti benar kan kalian yang berada direkaman cctv ini?" tanya Hadi.


"Ya, benar itu kami berdua!" jawab Congol.


Pada saat itulah Lui hendak menghajar Congol.


"Tunggu dulu!" tahan Bisak, "Kami memang bersalah dan kami mengakui kesalahan kami, Roman baru saja melepaskan kami!" kata Bisak menjelaskan mereka berdua.


"Bagus! Sekarang kami yang pingin tahu! Kenapa kalian dilepaskan dan kenapa kamu menculik bu Marisa!" bentak Hadi berusaha mengendalikan emosinya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya secara keseluruhan, akan aku jelaskan poin-poinnya!" kata Congol. "Roman cuman ingin tahu siapa dibalik ini semua!" jelas Congol.


"Siapa dibalik ini semua!" tatap Hadi tak sabar pingin tahu.


"Kami tidak tahu nama orang yang menyuruh kami, tapi Roman sudah tahu orang yang membayar kami!" jelas Congol.


"Bagaimana Roman tahu! Sedang kalian tidak tahu!" tanya Lui tidak percaya.


"Roman menunjukkan kami photonya!" jawab Congol.


Kemudian Hadi menunjukan photo Ghazan, Winda dan photo seluruh anak buahnya. "Apa mereka orangnya?!" kata hadi sambil menunjuk photo Ghazan dan Winda.


"Yang laki-laki itulah yang membayar kami!" jawab Congol.


Mata Hadi bena-benar merah, dadanya kembang-kempis.


"Ini orang kalau kita tidak seret ke polisi. Akan saya bunuh dia, biar saya jadi penghuni penjara!" guman Hadi berapi-api.


"Ayo!"


Tanpa bicara, Hadi mengajak Lui meninggalkan Congol dan Bisak.


"Sekarang kita sudah tahu siapa dibalik semua ini!" ucap Hadi dengan mulut sadis.


"Apa langkah kita selanjutnya!" tanya Lui.


"Kita cari sarang mereka!" jawab Hadi.


"Itu butuh lama!" kata Lui cemas.


"Seperti yang kubilang kita minta bantuan Oleng!" jawab Hadi sambil vidio call Oleng.


"Pagi! Bos...! Tumben call saya!" sapa 0leng.


"Ya, gimana kabarmu!" balas Hadi.


"Alhamdulillah fine-fine saja, bos gimana!" tanya balik Oleng.


"Sama! Kamu sekarang dimana!" tanya Hadi.


"Saya sekarang di cuonter! Jual beli hp!"


"Itu cuonter milik siapa?!"


"Modal yang bos berikan dulu saya pakai beli tempat ini!"


"Berarti itu milik kamu? kan...,"


"Hehehe...,"


Oleng tertawa kecil malu-malu. "Iya, bos!" jawab Oleng.


"Kamu..., tidak pernah lagi berhubungan dengan bosmu yang dulu!" tanya Hadi.

__ADS_1


"Tidaklah bos!" jawab Oleng spontan. "Aduuuh bos! Tobatlah berbuat kejahatan terus!" sambung Oleng.


"Leng...! Aku butuh bantuanmu!" ucap Hadi.


"Siap! bos..., saya akan siap membantu, apapun yang bos pinta!" jawab Oleng.


"Nyonya besar diculik mantan bosmu!" ucap Hadi.


"Hah!," Oleng terkejut mendapat berita yang kurang baik ini.


"Bos! Hari ini juga saya siap membantu?! Apa yang harus saya lakukan!" pinta tegas Oleng.


"Cari keberadaan bosmu!" pinta Hadi.


"Siap! Bos! Hari ini juga saya langsung terjun kerja!" jawab Oleng.


"Terimakasih! Saya sangat butuh sekali bantuanmu!" pinta Hadi.


Oleng bisa merasakan getaran kesedihan Hadi. Tanpa berpikir lama-lama hari ini dia menutup tempat kerjanya.


Yang pertama kali ditelpon Oleng adalah Zalu. Oleng langsung disambut oleh Zalu dan diminta gabung lagi, karena bosnya Ghazan butuh orang-orang lama yang pernah di obrak-abrik Hadi dan kawan-kawannya.


...----------------...


Oleng langsung menemui Zalu diluar gerbang tol palimanan dimana bu Marisa dan Masturi disekap.


Sementara Oleng menuju luar tol palimanan. Mari kita beralih ke pantai Trantang dimana Roman dan Nadira sekarang berada.


Tampak Roman dan Nadira sudah kembali menuju pondok yang berada beberapa ratus meter dari tepi laut.


Dipondok sudah tidak ada siapa-siapa lagi, sepertinya pak Saipul dan pak Mansur juga sudah pergi, guman Nadira dalam hati. Ini karena mobil miliknya yang diambil di supermarket Surya Kencana tidak terlihat.


"Pak Saipul dan pak Mansur kayaknya keluar!" ucap Nadira yang baru meletakkan bokongnya dilantai pondok.


"Capai?" tanya Nadira.


"Lumayan!" jawab Roman.


Roman dan Nadira menelusuri tepi pantai Tratang cukup jauh saking asiknya memadu kasih mereka sampai lupa telah berjalan cukup jauh meninggalkan pondok.


Ketika Nadira akan berdiri tampak kakinya terasa kejang! Kelihatan sekali mimik mukanya menahan rasa pegal.


"Mau kemana lagi!" tanya Roman.


"Kubuatkan minum!" jawab Nadira melangkah pincang.


"Tidak usah! Biar aku yang buat!" cegah Roman menarik tangan Nadira.


Auuu...,


Nadira terpeleset tidak mampu menahan pegal kakinya ketika tangannya ditahan Roman.


Huuup!


Roman menangkap tubuh Nadira, yang terpeleset tepat jatuh dikedua tangan Roman.


"Kakak sengaja? Menarik tanganku!" tuduh Nadira.


Matanya langsung berada dengan mata Roman dengan senyum yang menggoda, "Tanganku yang Nakal! Bukan aku!" kata Roman mengelak.


Jari-jari Nadira menjentik bibir Roman yang menggodanya.


"Jangan membuatku terpancing!" bisik Nadira mengelus bibir manis didepannya sambil memejamkan matanya menggoda Roman.

__ADS_1


Darah Roman perlahan mulai mendidih, jantungnya bergerak perlahan bagaikan roda yang baru berputar lama-lama menjadi kencang.


Nalurinya tak kuasa menahan gejolak keinginannya yang berlomba meraih sentuhan bibir Nadira yang menggodanya.


Blam!


Akhirnya dua bibir itu menyatu saling memagut bagaikan tarian ular yang bertarung.


Nadira meladeni p*gutan bibir Roman dengan meng*lumnya lebih dahsat. Serangan itu memang sudah ditunggu-tunggu.


Keduanya jatuh dalam gelombang irama alunan suara angin laut yang masuk menerpa tubuh mereka. terbuai kenikmatan indahnya cinta mereka berdua.


Pancaran binar mata Roman yang melepas pagutan bibir Nadira, tersirat dari kedua bola matanya.


Rasa pegal dikaki mereka tiba-tiba lenyap seketika, keduanya kini sudah duduk berdampingan seperti biasa.


"Sebentar lagi kita juga akan meninggalkan tempat ini, untuk itu aku siapkan sarapan pagi dengan roti dan susu!" ucap Roman membelai rambut Nadira.


Tangan Nadira perlahan memegang erat tangan Roman, "Aku menyayangimu!" bisik Nadira lirih dengan tatapan berbinar-binar.


Roman menjawabnya dengan kecupan dikening Nadira, lalu bangkit menyiapkan sarapan mereka dengan menuangkan susu dari botol kedalam dua gelas dan menyiapkan roti langsung dengan bungkusnya.


"Sebelum kita pergi kamu ada usul!" tanya Roman.


"Ada!" tatap Nadira sambil meneguk susunya.


"Apa itu!" tanya Roman lagi dengan santai.


"Kita culik kedua orang tua Winda!"


"A,"


Mata Roman mendelik dengan bibir menganga, dia tidak menyangka usul Nadira.


"Kamu tahu kediaman mereka!"


"Tahu!"


Tenang, namun tidak main-main Nadira mengusulkan keinginannya.


"Kamu yakin?!"


"Ha'a!"


Nadira anggukan kepalanya dengan serius.


"Kalau itu usulmu, kita harus siapkan tempat penyekapan yang baik!" ucap Roman.


"Aku punya gudang penyimpanan barang diluar gerbang tol palimanan! Kurasa tempat itu cocok tempat kita menyekap kedua orang tua Winda," ucap Nadira.


"Okey! Kapan kita mulai operasi!" tanya Roman menyanggupi usul Nadira.


"Malam nanti! Lebih cepat lebih baik!" pinta Nadira.


"Gimana!" tanya Nadira.


"Siap!" jawab Roman.


Dua pasang kekasih ini dengan tenang meninggalkan pantai Tratang. Misi baru telah mereka rencanakan dengan matang, sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan Winda terhadap bu Marisa.


💟💟💟💟💟


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2