
Perasaan Nadira sedikit sejuk ketika Roman bersedia untuk mengendalikan dirinya, "Baik aku janji untuk bisa mengendalikan diriku!" jawab Roman penuh keyakinan memandang Nadira.
Hadi memutar tubuhnya ketika Nadira menyodorkan Bros ditangannya kepada Roman. Dia membayangkan kepedihan dan kemarahan yang akan di rasakan Roman setelah tahu siapa yang menculik Morrin.
Dengan tenang Roman menerima Bros dari Nadira, tanpa ada rasa curiga sedikitpun di hatinya. Roman melihat Bros yang membuat dua sahabatnya itu menjadi pucat.
Mata Roman terbelalak saat matanya melihat foto Winda dan Ghazan sedang berhubungan tidak pantas. Tanpa sadar Roman langsung membuang Bros itu.
Sekarang mereka bertiga yakin kalau Roman dan Ghazan adalah pelaku yang menculik Morrin, "Berarti benar Morrin di culik. Dan pelakunya adalah Ghazan dan Winda!" desah Roman tampak geram.
"Setidaknya kita telah mengetahui kejadian yang menimpa Morrin!" seru Hadi menenangkan Roman.
"Yang ku takutkan jangan sampai mereka mengeksekusi Morrin! karena Winda berangan-angan menikah denganku!" ucap Roman jijik.
"Hah!" tatap Nadira kaget. Baru tahu sekarang, ternyata Winda menginginkan Roman.
"Apa kau bilang..., Winda berangan-angan ingin menikah denganmu?" Mulut Hadi menganga tidak percaya atas apa yang didengarnya dari ucapan Roman. Hadi juga walau bertahun-tahun menemani Roman, baru tahu sekarang. Winda menginginkannya.
"Aku juga tidak tahu dari mana mamaku mengenal Winda! dan mama menjodohkan aku dengan dia!" tutur Roman dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Lalu apa tindakan kita sekarang, melaporkan mereka ke polisi atau mencari keberadaannya!" tanya Hadi.
"Kita tidak perlu ke polisi, kita cari keberadaan mereka sekarang juga!" pinta Roman.
"Kita doakan Morrin baik-baik saja!" ucap Nadira.
Sebelum bergerak mencari keberadaan Ghazan dan Winda, Roman berunding dulu menyusun keputusan. Langkah- langkah apa yang akan di ambil dalam mencari keberadaan Ghazan dan Winda..
Mereka bertiga mengambil keputusan untuk tidak melibatkan polisi dan segera membebaskan Morrin dalam waktu yang secepatnya.
Mereka langsung bergerak dengan menggunakan mobil sendiri. "Kemana tujuan kita sekarang!" call Hadi dari mobilnya.
"kita ke cafe Nusantara dulu baru kita bergerak menelusuri yang lain!" timbal Nadira merespon Roman.
"Oke!" timbal Roman.
Setelah mendengar perintah oke! dari Roman, Hadi dan Nadira langsung star mengendarai mobilnya menuju satu tempat tujuan dari jalan yang berbeda.
Dari suara Roman yang terdengar berat dan parau, Nadira merasakan betapa pedihnya hati Roman memikirkan kekasih hatinya yang sekarang dalam keadaan terancam.
__ADS_1
Demikian pula Hadi sangat memaklumi ketakutan Roman. Dirinya dan Nadira saja hampir terbunuh kalau tidak ada bantuan pria bercadar menolongnya dan ternyata pria bercadar itu adalah Roman sendiri.
Jadi wajarlah kalau tujuan pertama Roman adalah Toni, karena Tonilah yang membayar Ghazan dan Winda menghabisi Nadira dan Hadi.
Dua hari sudah mereka mencari keberadaa Toni dan baru bertemu sekarang. Toni tambah congkak dan berani karena dia sudah punya anak buah sekali gus pengawal.
Anak buahnya tidak sembarangan mereka terdiri dari preman pilihan yang tampak kuat dan tidak bisa diremehkan.
Tiga sekawan melangkah dengan tenang menghampiri Toni. Toni yang melihat musuh besarnya datang tampak duduk dengan tenang pula memperhatikan langkah kaki tiga orang yang mendekatinya.
Tanpa pikir panjang Roman langsung mencengkram leher baju Toni.
"Sekarang katakan! Dimana Ghazan dan Winda menyekap Morrin!" tanya Roman dengan tatapan mata merah menyala-nyala.
Melihat bosnya dalam bahaya, Ogang dan Tarzan bergerak cepat untuk menyelamatkan Toni. Namun Toni mengangkat tangannya memberikan kode kepada anak buahnya untuk mundur.
Toni tersenyum menatap Roman yang memandangnya dengan tatapan mata merah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1