PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH SEMBILAN: UANG BUKA MULUT.


__ADS_3

Oleng tergiur dengan tawaran Nadira, Jadi mereka tidak perlu menggunakan cara kekerasan untuk minta petunjuk.


"Berapa hadiah yang kamu berikan!" tanya Oleng menatap Nadira.


"Hadiah apa yang kamu minta akan kami turuti!" kata Hadi disamping Oleng menimbali.


"Saya mau uang kes!" toleh Oleng memandang Hadi.


"Berapa!" seru Hadi.


Terlihat Oleng bingung dan ragu mau menyebut berapa yang di minta, akhirnya mulutnya keceplosan juga menyebut nominal uang yang di minta.


"Seratus juta!" pinta Oleng tidak yakin ucapannya. Tangannya menutup mulutnya menyebut uang terlalu banyak seperti merasa malu.


"Kuberikan kamu hari ini dua ratus juta, kes... asalkan kamu jujur!" timbal Nadira.


"Hah!" Oleng terperanjat tidak percaya dengan ucapan Nadira. Seratus juta saja Oleng tidak yakin. Malah Nadira menawarkan dua kali lipat.


Uang dua ratus juta tidak seberapa bagi orang kaya seperti Nadira dan Hadi, apalagi kedudukan mereka sekarang pimpinan perusahaan di perusahaan masing-masing.


Itulah keuntungannya berteman dengan orang kaya seperti Roman, selain dermawan Roman juga tidak segan-segan mengeluarkan isi banknya dalam jumlah yang banyak untuk memberikan modal pada sahabatnya.


"Jika dua ratus juta yang engkau berikan, maka aku akan berikan keterangan yang lengkap. Tanpa takut di gebuk atau di bunuh oleh Ghazan dan Winda!" ucap Oleng kelihatan senang.


"Okey, kalau begitu nanti kita lanjutkan pembicaraan kita di apartemen setelah kau terima uangnya!" ucap Nadira seraya mengalihkan tatapannya pada Restu.


"Restu, sebelum polisi datang bawa Oleng ke apartemen!" pinta Nadira.


Restu mengangguk, langsung meminta Oleng masuk kedalam mobil. "Baik Nadira, Leng! Masuk!" ucap Restu menyuruh Oleng masuk kedalam mobil.


Tidak beberapa lama polisi pun datang mengamankan seluruh anak buah Ghazan.


Ketiga sahabat Roman pulang dengan menelan pil pahit. Mereka gagal meringkus dua buruannya setelah berusaha dengan maksimal.


Akan tetapi, ada secercah harapan dari anak buahnya Ghazan yang bersedia mengungkap keberadaan Ghazan dan Winda dengan membuka mulutnya menggunakan uang.

__ADS_1


Mereka bertekad harus dapat mengoreksi keterangan yang lengkap, hingga tak ada kesulitan untuk menangkap dua gembong yang telah menewaskan kekasih sahabatnya.


Sebelum ke apartemen mereka mampir di sebuah bank swasta mengambil uang, lalu melanjutkan perjalanannya ke apartemen untuk mengorek keterangan dari Oleng Dimana keberadaan Ghazan dan Winda.


Tampak Oleng keluar dari apartemen dengan hati berteriak kegirangan membawa tas berisi uang 💸 dua ratus.


Tidak terlukis kebahagian Oleng membawa uang dua ratus juta. Hari ini, dunia seakan miliknya dan merasa orang paling kaya di dunia, padahal hanya dua ratus juta.


Dengan gaya dia menyetop taksi, sambil memeluk erat uang berisi dua ratus juta di kedua tangannya Tak bisa di gambarkan betapa bahagianya Oleng hari ini.


"Kemana? Pak!" tanya sopir taksi melihat Oleng yang tampak gembira.


"Kemayoran!" kedip Oleng sama si sopir taksi.


"Oke, sip silahkan naik!" kata si sopir taksi.


Sopir taksi memberikan tanda jempol, lalu beranjak menekan gas mobilnya perlahan menuju arah Kemayoran.


Mulai keluar dari salah satu bank swasta, sampai ke apartemen. Hingga keluar lagi dengan membawa uang dua ratus jutanya. Oleng tidak menyadari ada dua orang berboncengan motor mengikutinya.


Oleng yang sudah bertahun-tahun, terjun di dunia kriminal. Sudah paham kalau dua pengendara motor itu mengincar dirinya. Maka, diapun siap akan melakukan siasat licik seperti yang sering di lakukan.


Dua lembar merah telah di persiapkan untuk membayar taksi, begitu salah satu begal mendekat.


Dengan cepat Oleng membuka pintu mobil di benturkan ke tubuh si pembegal yang hendak membegalnya, hingga si pembegal tersungkur jatuh.


Oleng langsung kabur setelah melemparkan dua lembaran merah kearah sopir taksi, "Bang! Ini bang ongkos taksinya!" ucap Oleng melempar uang ke samping sopir taksi lalu kabur.


Bersamaan dengan itu si sopir taksi tancap gas tidak mau ambil resiko.


Dua pengendara motor segera mengejar Oleng, "Kejar Ki...," seru si pembegal yang jatuh segera bangun lari nyamperin temannya.


Oleng ngumpet di balik gerobak pedagang mainan keliling sambil ngintip dua begal yang mengejarnya dengan motor.


Oleng mencoba minta bantuan Hadi, Nadira dan Restu. Dan alhamdulillah ketiganya merespon datang membantu setelah mengetahui tempat keberadaannya.

__ADS_1


Dalam beberapa menit, Hadi datang memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah di tentukan Oleng. Hati Oleng lega melihat kedatangan mobil Hadi dan kawan-kawan nya. Oleng langsung masuk kedalam mobil.


"Begalnya mana? Leng!" toleh Hadi kepada Oleng yang duduk di samping Restu di belakang.


"Tu di depan!" tunjuk Oleng.


"Yang rambut gondrong pakai baju oblong hitam, Dua orang yang mengendarai motor!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah dua laki-laki yang celingak-celinguk sedang mencarinya.


"O..., yang itu. Ni telah kusiapkan tas yang mirip dengan tas uang mu yang berisi dua ratus juta itu!" ucap Hadi memberikan Oleng tas.


"Sekarang pergi samperin mereka, ajak dia main-main sebagaimana kamu menghadapi aku. Tinggalin uangmu disini dan bawa tas itu!" seru Nadira menyuruh Oleng mengajak dua pembegal itu duel.


"Tapi dia bawa senjata bos!" seru Oleng menatap Hadi dan Nadira.


"Itu softgun, senjata mainan Jangan takut!" ucap Hadi.


"Buset..., kalau aku tahu itu bukan senjata sungguhan, aku tidak perlu kabur dan minta bantuan kalian?!" timbal Oleng jengkel lalu keluar nyamperin dua pembegal yang sedang mengejarnya.


Dua pembegal itu tersenyum melihat Oleng keluar mendekatinya. "Nah, begitu dong..., kalau pingin selamat! Pakai kabur segala. Nah, mari tas itu serahkan!" pinta si pembegal yang berdiri di depan Oleng.


"Bang! Jangan bang..., ini tas milik bos saya bang..., nanti saya di bunuh bang...," pinta Oleng berpura-pura pada si pembegal dengan tubuh gemetaran.


"Heh! cepat lempar tas yang kau pegang itu atau ku tembak kepala kau!" bentak si pembegal dengan logat Batak dan matanya melototi Oleng.


"Aduh, bang jangan tembak bang dari pada mati sia-sia nih, ambil bang!" seru Oleng melempar tas yang di pegangnya ke arah pembegal yang memegang senjata api.


Hahaha...,


Hehehe...,


Kedua pembegal itu tertawa senang mendapat rezeki banyak. Karena mereka berdua melihat sendiri uang yang di ambil Nadira di salah satu bank swasta.


Begitu menangkap tas yang di lempar Oleng si penjahat merasa curiga dengan isi tas yang dilempar kepadanya. Si pembegal segera memeriksa isi tas yang di pegangnya.


Betapa murkanya kedua pembegal itu, begitu tahu isi tas yang di pegang nya sampah kertas semua. Dengan mata merah si pembegal mendekati Oleng.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2