PresdiR KeciL

PresdiR KeciL
Eps 14 (adik kesayangan)


__ADS_3

Di ruangan kerjanya Rey merenggangkan badannya, sudah dua hari ia tidak beristirahat dengan benar. Pinggangnya serasa mau patah, bahkan tubuhnya sudah sangat letih. Sejak kedatangannya ia hanya menghabiskan waktu berjam-jam lamanya duduk memelototi banyaknya kerjaan yang tertunda akibat di tinggal lama olehnya


"hah... pekerjaan ini tidak ada habisnya"


Ia lalu mengambil telepon genggamnya dan menghubungi asistennya yang sejak dua hari lalu ia tugaskan untuk mencari informasi lebih banyak perihal perusahaan Adiaksa


Ia sudah tidak sabar melihat kehancuran perusahaan itu, makanya begitu kembali ke Jakarta ia langsung menyuruh tangan kanannya itu mencari informasi terkait dengan Leo dan perusahaan nya.


Seperti itu lah watak Rey yang sesungguhnya ia tidak akan berhenti membalas seseorang yang berani menantangnya sekalipun orang tersebut sudah memohon ampun, ia tidak akan berhenti sampai merasa puas


"Kau sudah laksanakan apa yang saya perintahkan?"


"Sudah Tuan, saya berhasil mengumpulkan beberapa informasi penting yang nantinya berguna untuk tuan"


"kapan kau akan mengantarkannya padaku?"


" Saya sedang menuju ke kantor, mungkin 15 menit lagi saya sampai disana"


"baik lah saya tunggu"


klik...


Ia pun melanjutkan kesibukannya sambil menunggu kedatangan Indra


tok...tok..


"Maaf tuan saya sedikit terlambat tadi di jalan macet"


"Tak apa, mana hasil laporanmu?"


" Ini Tuan.."


Indra menyerahkan setumpuk berkas kepada Rey yang langsung di buka dan di amatinya.

__ADS_1


"Jadi selama ini kita memiliki saham disana" tanya Rey yang di angguki Indra


"Seberapa besar saham milik kita disana?"


"Sekitar 30% tuan"


"ck.. itu masih terlalu sedikit untuk bisa membuat mereka hancur" cibirnya


"Apa kau sudah mengetahui siapa pemegang saham tertinggi disana?"


"Menurut informasi yang saya dapat, Tuan Daniel adalah pemegang saham tertinggi. Miliknya sekitar 40% sedangkan Tuan Adiaksa sendiri hanya memiliki saham 30% saja"


" hmmm... Paman Daniel ya!!" gumamnya menaikkan sebelah alisnya


"Baiklah kau boleh pergi, bila ada informasi terbaru segera beritahu padaku"


"Siap Tuan kalau begitu saya permisi"


***


Rebecca menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika mendengar suara meringis saat ia membuka pintu ruangan kerja kakaknya


Ia terlalu bersemangat sehingga tidak mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Indra yang baru hendak membuka pintu merelakan mukanya mencium pintu tersebut


"Aduh..ma..maaf saya tidak sengaja. kau baik-baik saja kan"


"tidak apa-apa nona" jawab Indra sambil memegang hidungnya yang mengeluarkan darah


"Ya Tuhan kau berdarah..."


Reflek Rebecca mengambil tisu dari dalam tasnya dan membersihkan darah yang terus keluar dari hidung Indra


Indra terus menepis tangan Rebecca, menurutnya luka yang di alaminya cuma luka ringan. Ini tidak sebanding dengan luka yang dulu pernah di alaminya waktu menerima tugas dari tuannya itu

__ADS_1


"Hentikan Re, biarkan Indra mengobati lukanya sendiri" ucap Rey menghentikan kegiatan adiknya yang mulai membuat Indra tidak nyaman


"Seharusnya kakak kesini membantuku bukan malah hanya melihat dari sana" balas Rebecca sambil terus menempelkan tisu ke hidung Indra


Rey sadar ia dan adiknya orang yang sama kerasnya, bagaimana pun di larang bila itu sudah keinginannya maka akan di lakukannya


Ia akhirnya mendekat dan mengangkat tubuh adiknya lalu mendudukkannya​ di sofa di ruangan itu kemudian menyuruh Indra ke pantry untuk mengobati dirinya


"Makanya kalau mau masuk biasakan ketuk pintu dulu anak nakal"


Rey mencubit hidung adiknya itu hingga memerah, mendapat perlakuan begitu Rebecca hanya memanyunkan mulutnya


"Kakak macam apa yang mengetahui adiknya datang tapi tidak mengunjunginya"


"Jadi kau kesini karena merindukan kakakmu yang ganteng ini" godanya seraya tertawa melihat bibir adiknya yang makin meruncing


"Tentu saja aku merindukanmu kak, sudah lama kita tidak bertemu. Ck..Tapi sepertinya kakak tidak merindukanku, sebaiknya aku pergi saja dari sini"


Rey segera menarik tangan adiknya yang akan pergi, ia pun memeluk adik yang sudah sangat lama tidak di jumpainya itu


"Maaf Re pekerjaanku sangat banyak sampai tidak tau kalau kau sudah pulang"


"hhh... ini lah yang aku khawatir kan kak, kau sudah setua ini tapi belum memiliki pasangan"


"kau sedang mengejekku ya anak nakal"


Rey mengacak rambut adiknya membuat tampilan gadis itu sudah seperti singa kelaparan, tak berhenti sampai disitu ia lalu mencubit pipi adiknya itu hingga memerah macam tomat matang


"arrghhhh... rambutkuuuu.... wajahku..... kak Reyyyyy!!!!!" teriaknya kesal sambil memukul tubuh Rey dengan kedua tangannya


Rey makin terbahak melihat muka acak-acakan adiknya, ia membiarkan tubuhnya di jadikan sasaran pukulan adiknya itu


"Pokoknya kakak harus menemaniku ke salon hari ini kalau tidak aku akan memberutahukan kepada orang-orang kalau kakak sebenarnya.."

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Rey sudah lebih dulu menutup mulut adiknya itu. Ia pun dengan terpaksa mengikuti kemauan Rebecca, ia tidak mau ada yang mendengar ucapan gadis itu dan membuat image yang di bangunnya selama ini hancur


__ADS_2