PresdiR KeciL

PresdiR KeciL
Eps 15 (masalah baru)


__ADS_3

Di salah satu bangunan tingkat tiga di kota tersebut, nampak di salah satu ruangan seorang pria sedang sibuk mencumbui wanitanya.


Meskipun hari masih siang dan para pegawainya masih ada disana, pria itu tidak terusik sama sekali begitu pula dengan para pegawai di kantor itu yang seperti sudah terbiasa melihat kelakuan bosnya itu


Bukan satu dua kali pria itu membawa perempuan yg berbeda tiap harinya kesana, itu sudah merupakan kebiasaannya yang tidak berubah sejak ia mulai menjadi direktur perusahaan tersebut


drrrrttt.. drrrrttt...


Aktivitasnya terhenti ketika mendengar suara telepon genggamnya berbunyi


"Ada apa mengganggu ku?"


"Maaf tuan pameran seni yang akan kita selenggarakan beberapa bulan lagi terancam batal"


"Ada masalah apa? jangan bertele-tele dan cepat katakan dengan jelas, aku terlalu sibuk untuk mendengar ocehanmu"


"hmmm...begini tuan, ada beberapa pelukis yang menolak untuk ikut serta dalam pameran ini. Di karenakan bayaran yang kita tawarkan tidak sesuai dengan keinginan mereka"


"Hal sepele macam ini seharusnya bisa kau atasi sendiri, kenapa harus memberi tahuku?"


"anu...itu.. tuan... Dana yang kita siapkan untuk pameran seni ini tidak cukup, saya sudah sampaikan ke bagian pendanaan kantor namun katanya sudah tidak bisa lagi membantu karena biaya operasional kantor juga belum semua terpenuhi"


Pria itu mengumpat dalam hati, tidak ia sangka perusahaannya kembali mengalami krisis keuangan seperti ini lagi


Hal itu di rasa wajar mengingat direkturnya sendiri yang selalu menghambur hamburkan uang demi kepentingan pribadinya


"hhh...kau sudah meminta bantuan dana kepada para sponsor"


"Sudah Tuan namun hanya beberapa sponsor saja yg ikut membantu namun selebihnya tidak menanggapi"


"argh... sial!!! kenapa baru memberitahu ku sekarang bodoh"


Pria itu menggebrak meja kerjanya membuat wanita yang sedari tadi duduk di pangkuannya terkejut, wanita itu buru-buru mengambil tas dan pergi dari ruangan itu ketika melihat raut wajah pria itu yang sudah semakin muram

__ADS_1


"Maaf tuan, saya sudah beberapa kali menghubungi tuan namun tidak di angkat. Saya juga sudah mencoba mendatangi tuan namun kata sekertaris tuan, tuan lagi berlibur di luar kota dan tidak ingin di ganggu"


Beberapa hari yang lalu pria itu memang pergi ke Bali untuk bersenang senang dengan para wanita penghiburnya, ia sengaja mengatakan tidak ingin di ganggu bahkan dengan sengaja mengabaikan panggilan telepon yang masuk


Saat ini otaknya seakan buntu, merasa belum menemukan solusi, ia kemudian membanting semua barang yang ada di hadapannya untuk meluapkan kekesalannya


"Dasar bodoh!!! jangan diam saja, cepat bantu aku berpikir"


Asistennya itu tak terkejut sedikitpun mendengar makian bosnya itu, ia sudah mengenal pribadi bosnya yang temperamen itu


Ia pun sudah mengusahakan segala macam hal sebelum akhirnya melaporkan semuanya kepada atasannya itu, hingga tiba tiba sebuah ide terlintas di benaknya


"Bagaimana kalau Tuan meminta bantuan kepada tuan Rey saja, bukannya saat ini hubungan tuan dengannya​ makin baik"


Seperti mendapat cahaya di ruangan yang gelap, pria itu tersenyum senang mendengar saran asistennya itu


"Ya tuan Rey... kau benar cuma Tuan Rey yang bisa membantuku saat ini"


Kemudian ia memutuskan sambungan telepon lalu mulai menghubungi Rey langsung tanpa melalui perantara asistennya


Sebuah mobil mewah berhenti di pelataran rumah besar milik Oliver, di dalamnya nampak sepasang suami istri beserta putrinya yang saat itu nampak sangat cantik


Ting...tong...


Oliver sendiri yang membukakan pintu untuk para tamunya itu ketika mengetahui yang berkunjung ternyata calon besan dan menantunya


"kenapa tidak menghubungi kalau mau datang, biar aku persiapkan jamuan spesial untuk kalian"ucapnya sambil mengajak tamunya itu masuk


"Tidak usah repot-repot, lagipula aku sengaja berkunjung untuk membicarakan perihal anak-anak kita"


"Untuk pembicaraan serius sebaiknya di temani dengan secangkir teh hangat, bukan begitu dad" gurau ibu Rey sambil membawa minuman di tangannya


"Wah terima kasih, sungguh nyonya Oliver paling mengerti soal ini" ucap istri Arnold menanggapi

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan dengan sesekali terdengar tawa dari kelimanya


Rebecca yang sedari tadi di kamar langsung keluar begitu mendengar keramaian di ruang tamu rumahnya, ia pun turun untuk menghilangkan rasa penasarannya


" kau sudah bangun rupanya nak, sini Mom kenalkan dengan calon istri kakakmu"


Rebecca berjalan mendekati ibunya, setelah memberi salam kepada Arnold dan istrinya tatapan matanya pun sampai kepada Clara yang saat ini sedang tersenyum manis kepadanya


"huh.. perempuan macam begini mana cocok untuk kakak, lihat saja pipinya itu sudah seperti habis di pukuli dan senyumnya itu sungguh palsu" batinnya seraya menggeleng gelengkan kepala


"haiii! salam kenal adik ipar, namaku Clara kau boleh memanggilku kakak Clara"


Rebecca menerima uluran tangan Clara sambil mengucapkan namanya, sungguh seandainya saat ini orang tua mereka sedang tidak disini ia enggan untuk berbicara dengan calon kakak iparnya itu


"Maaf aku tak bisa berlama-lama disini, masih ada pekerjaan yang harus aku urus"


"Baiklah Arnold aku mengerti, orang sibuk sepertimu pasti tidak memiliki banyak waktu"


"Kau bisa saja Oliver, seandainya kau masih mengurus perusahaanmu itu pasti saat ini kau lebih sibuk dariku"


Keduanya tertawa sembari berjalan menuju tempat mobil Arnold terparkir


"terima kasih jamuannya, lain kali kita bertemu lagi" ucap Arnold


"Sampaikan salam kami untuk Rey"timpal istrinya


"Hati-hati di jalan, nanti akan aku sampaikan pada Rey soal pembicaraan kita tadi"


Arnold hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil.


Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan pemilik rumah yang masih berdiri melihat kepergian tamunya


"Mari masuk, sepertinya cacing di perutku sudah bernyanyi" ajak Oliver kepada istrinya

__ADS_1


Istrinya hanya menanggapi dengan tertawa candaan suaminya itu, sambil berangkulan mereka memasuki rumah besarnya itu.


__ADS_2