
Keesokan harinya Clara baru pulang ke rumahnya, ia malu kalau harus mengatakan kebenaran pada orang tuanya karena itu ia tetap berpura-pura supaya orang tuanya mau membantunya mendapatkan Rey
"Apa terjadi sesuatu semalam sayang?!" sapa ibu yang mengunjungi Clara di kamarnya
"Tidak Bu, semua berjalan sesuai rencana"
"bagus lah sayang, ibu senang mendengarnya. Sekarang apa yang akan kau lakukan?!"
"Aku mau Rey secepatnya menikahiku Bu sebelum perutku ini makin membesar, ibu mau membantuku membujuk orang tua Rey kan?!"
"Ibu akan melakukan apa saja untukmu sayang, tapi membujuk orang tua Rey ibu rasa akan sulit"
"Bujuk papah juga bu, kalau ibu yang mengatakan pada papa pasti papa akan setuju. Aku mohon bu, kalau tidak bersama Rey lebih baik Clara bunuh diri saja" Clara melengkapi dramanya dengan tangisan, ia tentu tau kelemahan ibunya yang tidak bisa melihat anaknya bersedih
"sssstttt .. kau tidak boleh bicara begitu sayang, berhenti menangis biar ibu bicara pada papamu sekarang juga"
"Terima kasih Bu"
"Sama-sama sayang" ibu melepas pelukan clara, setelah menyeka air mata anaknya ibu pun berlalu meninggalkan Clara yang tengah tersenyum penuh kemenangan
***
Eveline mendekati suaminya yang sedang bersiap untuk ke kantor, ia pun membantu suaminya memakai dasi seperti yang biasa ia lakukan
"Apa anak itu sudah pulang?!"
"Sudah pah, Clara sedang beristirahat di kamarnya"
"Jaga anak itu, jangan sampai dia menemui pria breng*** itu lagi"
Eveline hanya mengangguk, ia tau persis siapa pria yang di maksud suaminya itu. Meskipun menurutnya kekasih anaknya itu terlihat seperti anak baik-baik sewaktu mereka bertemu
"Hmmm...Clara meminta bantuan kita untuk membujuk orang tua Rey segera menikahkan mereka sebelum perutnya makin membesar" Eveline berbicara dengan sangat hati-hati karena ia tau suasana hati suaminya masih buruk saat ini tapi ia juga tidak bisa menunda pembicaraan ini lebih lama lagi
"Tidak, suruh dia menyelesaikan masalahnya sendiri"
__ADS_1
"Tapi pah, bagaimana cara dia mengurus masalah besar seperti ini sendiri?!"
"papa tidak perduli, dia harus bisa tanggung jawab atas perbuatannya"
"Clara itu anak kita satu-satunya pah, masa papa tega bersikap seperti ini pada dia. Tolong lah pah kasian Clara kalau harus melahirkan tanpa seorang pendamping"
"Itu resiko dia, sudah cukup dia mencoreng wajah papahnya ini"
"Apa papa tega melihat Clara bunuh diri di hadapan papa?!"
"Itu tidak akan terjadi sayang, Clara hanya mengancam kita saja"
"Kalau sampai terbukti bagaimana pah, ibu tidak sanggup kalau harus kehilangan Clara"
"Kita bicarakan lagi nanti, papah sudah terlambat ke kantor"
Arnold mencium kening istrinya lalu berjalan keluar dari kamar, ia sedang berusaha menulikan telinganya dari teriakan istrinya
***
Di halaman belakang rumahnya terlihat Rebecca yang sedang menemani ibunya merapikan beberapa tanaman. Kegiatan ini berlangsung hampir tiap Minggu setelah kepulangannya ke Indonesia, ia merasa bersalah karena sudah beberapa tahun tidak mengunjungi orang tuanya makanya ia berjanji akan menghabiskan waktunya selama berada disini hanya untuk menyenangkan orang tuanya
Kebersamaan itu harus terhenti saat salah seorang pelayan memberi tahu kalau mereka kedatangan tamu yang sudah menunggu mereka di ruang tamu
Kedua ibu dan anak itu pun segera menemui tamu yang di maksud pelayannya itu namun wajah Rebecca seketika berubah masam saat tau yang mengunjunginya adalah tunangan kakaknya yang sama sekali tidak ia sukai
"Hai Eve, lama tidak berjumpa kau semakin cantik saja"
"Kau pun tak kalah cantik dariku sher" keduanya tertawa kemudian berpelukan melepas rindu
"kenapa kau jarang sekali menemui Mom disini Clara?! padahal Mom sangat merindukanmu"
"Maaf mom, aku sibuk akhir-akhir ini tapi nanti aku usahakan untuk lebih sering berkunjung kesini"
"benar ya sayang, kasian Rebecca harus di rumah terus menemani mom karena dad sedang ada urusan di luar negeri"
__ADS_1
Sherly mempersilahkan tamunya untuk duduk, sebenarnya Rebecca tidak mau berlama-lama bertemu dengan calon kakak iparnya itu tapi ia juga penasaran untuk apa perempuan itu tiba-tiba datang ke rumahnya
"Bagaimana hubunganmu dengan Rey sayang?! apa Rey memperlakukanmu dengan baik?!"
"Rey masih seperti itu Mom, ia masih dingin terhadapku. Jangankan​ untuk bertemu, menghubungi juga tidak" Clara memasang wajah sedih di hadapan calon mertuanya itu, berharap Mom kasihan padanya lalu mau membantunya mempercepat pernikahan
"Sabar ya sayang, biar nanti Mom coba bicara dengan Rey"
"Iya mom, aku berharap Rey bisa membuka hatinya untukku. Aku sudah jatuh cinta pada Rey Mom, aku tidak ingin kehilangan dia"
"Kau sungguh gadis yang baik, beruntung kau memiliki putri sepertinya Eve"
"Ya kau benar sher, aku sangat beruntung memiliki dia" ucap Eveline dengan mata berkaca-kaca
Rebecca mulai jengah melihat drama yang di mainkan Clara, perempuan itu sama sekali tidak menganggap kehadirannya disana karena memang sedari awal hanya Mom saja yang ingin ia temui
"Maaf Mom, aku mau ke kamar dulu"
"iya sayang" setelah berpamitan kepada kedua tamunya itu Rebecca segera menuju kamarnya untuk mengabari kedatangan Clara pada kakaknya
"Apa tidak sebaiknya kita mempercepat pernikahan mereka Sher?! aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu" Eve sengaja memanas-manasi ibu Rey karena ia tau Rey tidak bisa menolak permintaan ibunya itu
"Aku juga maunya begitu Eve, tapi Rey masih menolak untuk menikah padahal usianya sudah mapan"
"Apa mungkin Rey memiliki kekasih makanya menolak untuk menikah?!"
"aku rasa tidak, selama ini aku tidak pernah mendengar kabar tentang itu"
"Apa kau tau sher, saking cintanya Clara pada Rey akhir-akhir ini ia mulai belajar memasak katanya ingin belajar jadi istri yang baik"
"hahaha.. apa betul begitu Clara?!"
"ah..ibu sudah membuatku malu di depan Mom"
"Tak apa sayang, Mom senang mendengarnya. Nanti Mom coba bujuk Rey untuk segera menikah denganmu"
__ADS_1
Bagai mendapat angin segar setelah mendengar ucapan calon mertuanya itu, setidaknya saat ini Sherly sudah masuk kedalam perangkap yang ia dan ibunya pasang sekiranya ia tinggal menunggu apa perangkap itu mendapatkan hasil atau tidak