
Rey merebahkan tubuhnya di samping istrinya, sebenarnya ia cukup lelah dan mengantuk karena semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan nasib Serena
Baru saja hendak terlelap tiba-tiba ia di kejutkan dengan teriakan dari Serena, dengan sigap ia memeluk tubuh istrinya itu menenangkan
"Tenang bee..kita sudah di rumah sekarang..tenang ya sayang ada aku disini" kata-kata itu berulang kali Rey ucapkan semacam mantra sihir yang sudah ia hapalkan di luar kepala
Lama kelamaan nafas Serena terdengar teratur serta tubuhnya sudah tidak gemetaran lagi, Rey melonggarkan pelukannya dan melihat istrinya yang sedang menatap dirinya
"Aku takut ...hiks..aku takut..." Serena terisak, ia lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rey
"sssstttt...tenang ya bee, semua sudah lewat kamu sudah aman disini"
"Kamu kemana?? kenapa tidak datang, kenapa??"
"Maaf bee, ada urusan yang harus aku selesaikan"
"Kamu bohong..kamu lebih memilih menikah dari pada menolongku, kamu jahat Rey"
Rey tidak menghentikan tangan Serena yang terus memukul dadanya sekiranya dengan melampiaskan kemarahannya membuat perasaan Serena menjadi lebih baik
"Aku tidak menikah dengannya bee, kalau tidak percaya kamu bisa bertanya pada dokter Mei"
"Aku tidak percaya padamu"
"Aku sudah bicara jujur bee, tapi kalau kamu tidak percaya tidak apa-apa asal kamu tenang dulu kasian anak kita harus ketakutan karena kamu yang terus berteriak-teriak" Rey mengelus perut buncit Serena, ia merasakan pergerakan anaknya yang menurutnya seakan sedang ketakutan mengikuti perasaan ibunya
Serena sejenak melupakan nyawa yang ada di dalam perutnya, ketakutan membuatnya melupakan dunia sekitarnya
"Maafkan ibu nak, tidak bisa menjagamu dengan baik" gumam Serena sembari mengelus perutnya
"Tidak apa-apa Bu, aku baik-baik saja disini jadi ibu tidak perlu khawatir kan ada papi juga yang menjaga kita disini" ucap Rey menirukan suara anak kecil membuat Serena tersenyum
__ADS_1
Kruyukk!!! perut Serena berbunyi meminta haknya yang sedari kemarin belum terisi
"Kamu lapar bee??!"
"iya, perutku tidak terisi apapun sejak kemarin"
" Apa bajing** itu tidak memberimu makan??!"
"Aku menolaknya, aku tidak mau mereka melakukan sesuatu pada anakku melalui makanan yang mereka berikan"
"Kasiannya istriku ini. Apa kamu ingin makan sesuatu bee??!"
"Apa saja yang ada, aku sudah sangat lapar"
"Tunggulah disini, aku akan menyuruh bi Inah untuk membawakan makananmu kesini"
"Baiklah"
Clara masih saja menangis sesenggukan setibanya di rumah, ia merasa seluruh dunia tengah menertawakannya dan cuma ibunya saja yang masih berpihak padanya sedangkan papanya ikut menyalahkannya tentang semua yang telah terjadi
"Aku akan membalasnya Rey, aku akan buat hidupmu lebih menyedihkan dari yang sudah kau perbuat padaku" teriaknya di tengah isakannya
"Sabar sayang..kau jangan gegabah, ingat anak dalam perutmu"
"Aku tidak butuh anak ini, karena dia aku gagal menikah dengan Rey"
"sssstttt..tidak baik berbicara begitu, anak itu tidak salah apa-apa"
"Aku akan menggugurkannya bu, aku benci anak ini" Clara memukul perutnya yang mulai nampak membuncit
Plakk!!!
__ADS_1
sebuah tamparan mendarat di pipinya membuat Clara menghentikan tangannya yang sedari tadi memukul perutnya
"Cukup membuat papa malu dengan semua perbuatanmu Clara, cukup!!!"
"Tampar aku lagi pah, jangan berhenti sampai papa puas" Clara berdiri di depan papahnya sambil memegangi pipinya yang nampak merah, tidak ada tangisan lagi yang terdengar dari mulutnya karena emosinya juga sedang ikut naik seiring tamparan papanya yang mengenainya
"Pernikahanmu baru saja batal sekarang kamu mau menggugurkan anak itu juga setelah itu apa lagi yang mau kamu lakukan untuk mencoreng muka papamu ini Clara!!!"
"Papa memang cuma memikirkan kehormatan papa saja, sejak dulu papa sama sekali tidak pernah memikirkan Clara"
"Jaga ucapanmu itu Clara, semua keinginanmu sudah papa penuhi. Bahkan seluruh cinta yang papa dan ibumu miliki kami berikan hanya buat kamu putri semata wayang kami"
"Apa dengan mengatakan semua yang sudah papa berikan pada Clara, itu sebagai bukti cinta papa pada Clara?? cih.. bahkan seekor anji** tidak pernah menghitung hal yang sudah ia berikan pada anaknya"
Tangan Arnold sudah terangkat hendak menampar lagi wajah putrinya yang sudah berbicara keterlaluan padanya, namun istrinya sudah lebih dulu berdiri di depan anaknya itu untuk menghalangi tindakan suaminya
"Jangan menyentuh anakku lagi pah, atau kita akan bercerai saat ini juga" Eveline menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca
"menyingkir dari sana Bu, papa akan mengajari anakmu itu bagaimana cara berbicara pada orang tuanya"
"Sampai kapanpun, aku akan selalu melindungi anakku sekalipun itu dari papanya sendiri"
"Kamu juga sudah tidak menghargai ku sebagai kepala keluarga di rumah ini Eve??" hanya dalam keadaan marah saja Arnold menyebut nama istrinya itu
"Karena kamu yang memintanya"
"Kalau itu yang kalian inginkan, baiklah. Lakukan sesuka kalian tapi jangan pernah menemuiku untuk meminta bantuan karena kamu dan anakmu yang sudah tidak mengakuiku sebagai kepala keluarga di rumah ini"
Brakk!!
Arnold membanting pintu rumahnya dengan keras melampiaskan rasa marahnya yang sudah tidak tertahan lagi, ia lalu pergi meninggalkan rumah yang ia bangun bersama dengan Eve istri yang di cintainya
__ADS_1