
Di Rumah sakit nampak sedikit ramai dengan datangnya orang-orang yang berniat untuk mengunjungi sanak keluarganya yang sedang di rawat disana
Hal itu dikarenakan rumah sakit itu memiliki aturan hanya dalam waktu-waktu tertentu saja Keluarga pasien di izinkan untuk menjenguk Keluarganya yang sakit
Waktu ini pula yang di manfaatkan oleh Evan untuk membawa Serena kabur dari sana, tentu saja semua dapat berjalan lancar karena ia mendapat bantuan dari perawat yang sebelumnya sudah ia bayar
Kedua perawat itu sebelumnya memberikan obat bius kepada Serena dan ketika Serena sudah tidak sadarkan diri mereka membawa tubuh Serena dan menutup wajahnya dengan kain putih seakan membawa pasien yang telah meninggal
Tidak ada yang mencurigai keduanya karena untuk memudahkan rencananya, Evan menyewa sepasang suami istri untuk berakting sebagai orang tua dari Serena yang tengah bersedih karena kehilangan putrinya
Mereka melewati jalur berbeda dari yang biasa di gunakan pasien yang akan di bawa pulang sebab kedua perawat itu merupakan perawat senior sehingga ia bisa dengan mudah melewati pintu tersebut
Tubuh tak sadarkan diri Serena pun di bawa pergi oleh anak buah Evan yang sedari tadi sudah menunggu disana, lalu mereka membawa Serena menuju ke apartemen Rey sesuai yang di perintahkan oleh bosnya itu
***
Rey masih berada di ruang rapat ketika asistennya memberi kabar kalau Serena sudah berada di rumahnya
Ia sebenarnya ingin segera mengakhiri rapat tersebut namun mengingat orang-orang yang saat ini ia temui merupakan pemilik tertinggi dari tiap perusahaan yang akan bekerja sama dengannya membuat ia harus menahan diri
Setelah menunggu selama satu jam akhirnya rapat itu selesai, Rey buru-buru pamit karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Serena
Entah kenapa begitu melihat Serena yang sedang tertidur di kamarnya, membuat debaran jantung Rey bekerja lebih cepat apalagi saat ia memandang wajah yang sudah lama ia rindukan itu
Meskipun ingin rasanya ia segera merengkuh tubuh Serena dalam dekapannya namun ia tetap menahan diri karena sedari awal ia sudah bertekad akan memperlakukan Serena Dengan baik dan melakukannya dengan keadaan sadar tidak seperti pertemuan mereka sebelumnya
"Hmmm.. wangi apa ini?! sejak kapan rumah sakit memiliki bau seenak ini" gumam Serena ketika pengaruh obat biusnya sudah hilang
__ADS_1
Perlahan ia membuka matanya namun yang membuatnya terkejut saat ini ia bukan berada di ruang perawatan tapi sebuah kamar yang mirip dengan kamar hotel mewah bintang lima
"Cukup lama juga ternyata harus menunggumu bangun dari tidur"
"Kau-kau siapa?! kenapa aku bisa ada disini?!" teriak Serena takut ketika melihat seorang pria yang tidak ia kenal keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya sehingga Serena bisa dengan jelas melihat roti sobek pria tersebut
" Aku Rey dan kau saat ini sedang berada di dalam kamarku" jawab Rey sembari duduk di sisi yang bersebelahan dengan Serena
"Untuk apa kau membawaku kesini?!" Serena menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat melihat pria itu tidak juga segera memakai pakaiannya
"Untuk apa?! tentu saja karena aku menginginkanmu sayang"
"Apa maksudmu?! saya tidak mengenalmu jadi jangan seenaknya memanggil dengan sebutan seperti itu"
"Hahaha!!! tujuh bulan tidak bertemu tapi kau semakin galak saja. Apakah dengan menyentuhmu bisa membuatmu mengingatku?!" Rey bergerak mendekati Serena ia sengaja membuat gadis itu kesal karena menurutnya wajah kesal itu sungguh menggemaskan
"Daripada melukaiku bukan kah lebih baik kalau kau memberikan tanda kepemilikan padaku seperti yang kau lakukan di hotel malam itu"
Deg!!!
Serena baru mengingat nama pria ini sama dengan nama yang sering pamannya itu ucapkan, yang berarti pria ini juga yang bersamanya di malam itu serta ayah biologis dari anak yang di kandungnya membuatnya seketika memucat
"Kau-kau pria itu?!"
"Akhirnya kau mengingatku juga sayang, padahal hampir saja aku bersedih karena cuma aku yang selalu mengingatmu"
"Bu-bukannya utang pamanku sudah lunas, lalu mau apa kau sekarang denganku?!"
__ADS_1
"Ckckckck.. biar kau tidak penasaran akan aku ceritakan padamu kenapa sampai kau bisa berada disini malam ini"
Rey menceritakan semuanya dari awal pada Serena yang hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarahnya
"Untuk apa kau rela membayar mahal hanya demi seorang perempuan yang sedang hamil besar begini?! masih banyak perempuan cantik di luaran sana yang bisa memuaskan hasratmu dari pada aku"
Seperti tersambar petir mendengar ucapan Serena, Rey lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Serena untuk memastikan ucapannya.
"Anak siapa itu?!" Rey menatap tajam ke arah Serena, ia berharap jawaban Serena bukan pembenaran dari apa yang saat ini ia pikirkan
"Siapapun ayah anak ini, itu tidak ada hubungannya dengan Anda Tuan Rey"
"Oh... jadi secara tidak langsung kau mengatakan kalau kamu ternyata tidak lebih dari seorang pela*** yang menjual tubuhnya hanya untuk kesenangan semata, begitu?!" Rey mencengkram lengan Serena hingga ia meringis kesakitan
"Lepaskan!!! jaga ucapanmu itu, saya tidak sebejat yang kamu katakan"
Rey sudah tidak memperdulikan ucapan serena, rasa marah yang sudah menguasai membuatnya melampiaskan kemarahannya pada gadis di hadapannya itu
Ia menci** bi*** Serena Dengan kasar membuat Serena kesulitan untuk bernafas.
Serena sekuat tenaga mendorong tubuh kekar Rey hingga Rey terjatuh dari tempat tidur, hal itu tidak ia sia-siakan karena ia pun langsung berlari ke arah pintu
Kecepatan Serena yang sedang hamil tentu saja kalah dengan pria sehat seperti Rey, belum juga sampai di dekat pintu Rey sudah mengangkat tubuhnya dan melemparnya kembali ke tempatnya semula
Rey menarik pakaian Serena hingga sobek di beberapa bagian dan menampakkan sebagian tubuh Serena yang membuatnya makin tergoda
Tanpa menunggu kesiapan Serena, Rey telah menyatukan tubuh mereka berdua. Sontak Serena berteriak kesakitan karena Rey melakukan hal itu dengan kasar, ia tidak peduli saat ini perempuan itu sedang menikmatinya atau tidak karena menurutnya setelah membeli barang sudah seharusnya ia menikmati barang yang sudah ia beli
__ADS_1
Rey melakukan hal tersebut berulang kali, hingga membuat Serena sampai tidak sadarkan diri karena kelelahan serta sakit yang ia rasakan di area intimnya