
Hari masih pagi namun suasana hati Rey sudah memburuk, sudah beberapa malam ia selalu memimpikan seorang wanita yang membuatnya sulit memejamkan mata
Bukan mimpi buruk sebenarnya, namun sebagian tubuh Rey serasa tidak bersahabat ketika mengingat *******, wajah bahkan bentuk tubuh wanita itu
Ia tidak pernah menyangka akan merasakan sensasi, seperti ketika ia bersentuhan dengan mantan kekasih yang sangat di cintainya dulu
"arrghhhh... dimana aku harus mencari wanita itu"gumamnya sembari menjambak rambutnya sendiri
Sejak terakhir bersama dengan Serena di malam itu, Rey sama sekali tidak pernah lagi tidur dengan perempuan mana pun. Ia sudah mencoba memanggil wanita yang sudah sering bersamanya namun tubuhnya seakan menolak.
Ia pun tidak mengerti mengapa saat ini tubuhnya hanya merespon ketika ia kembali mengingat wanita tersebut,oleh karena itu setiap kali bermimpi ia memilih untuk tidak tertidur lagi dan menghabiskan waktu dengan terjaga hingga pagi hari
Begitupun hari ini, ia sudah berada di ruang kantornya meskipun karyawannya baru beberapa yang datang. Ia berharap dengan menyibukkan diri ia bisa sedikit melupakan perihal wanita tersebut
Ting...
"Tuan keperluan keberangkatan kita ke Sulawesi sudah selesai"
"kapan kita berangkat?"
"jam 10 pagi ini tuan"
"ok.."
Rey mendesah, ia bahkan terlupa hendak melakukan perjalanan bisnis hari ini. Beruntung ia memiliki asisten yang bisa di andalkan dalam situasi apapun
__ADS_1
Ia mulai fokus menyelesaikan pekerjaan yang akan di tinggalkannya beberapa hari ini
tok...tok..tok..
"Maaf Presdir, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda"
"siapa?"
"Seorang wanita namun ia belum membuat janji untuk bertemu dengan Anda hari ini"
"Katakan padanya saya lagi sibuk"
"baik Presdir"
Sekertaris itu undur diri setelah mendengar ucapan bosnya itu, baru hendak berbalik wanita yang di maksud tersebut langsung menerobos masuk
"Sayang.. lihat apa yang sekertarismu itu lakukan padaku.." ucapnya manja seraya memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman tangan Dewi
Rey tak sedikitpun menoleh ke arah Clara, ia justru melihat Dewi dan menyuruhnya meninggalkan mereka berdua
Dewi hanya mengangguk mengerti kemudian segera menarik diri dari hadapan bosnya itu
"Untuk apa kau kemari?" tanya Rey yang kembali sibuk dengan pekerjaannya
"Begini kah cara seorang Presiden direktur yang terhormat memperlakukan wanitanya" decaknya sembari duduk di salah satu sofa di ruangan itu
__ADS_1
"Apa kau tau di luar itu sangat panas, setidaknya bawakan aku segelas minuman"
"Cih... sebaiknya kau pulang, aku terlalu sibuk untuk melayanimu" cibir Rey
Clara menggeram mendapati Rey yang tidak terusik dengan kedatangannya, padahal hari ini ia sengaja berdandan yang cantik bahkan menggunakan pakaian yang sangat seksi berharap Rey akan tergoda dan jatuh kepelukannya
Bukan Clara namanya kalau belum mencoba segala cara untuk mencapai tujuannya, merasa terabaikan ia lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati calon tunangannya itu
"kau mengabaikan pesan yang aku kirim, bahkan tidak mengangkat telepon dariku"ucapnya seraya duduk di pangkuan Rey
Rencana Clara berhasil membuat Rey menatapnya meskipun cuma dengan tatapan tak suka tapi itu sudah cukup membuat Clara tersenyum
"Kau harus ingat sayang, sebentar lagi kita akan menikah jadi jangan mencoba untuk terus mengabaikan ku" ucapnya sambil merapatkan tubuhnya di dada bidang milik Rey
Mengetahui tak ada penolakan dari Rey, ia pun semakin berani meletakkan tangannya di wajah tampan itu
Ketika tangannya hendak menyentuh bibir Rey, tanpa ia duga Rey mencengkram tangannya dan menyentakkannya
Rey yang sudah merasa jengah, lalu bangkit berdiri membuat Clara yang tadi berada di atasnya terjatuh ke lantai
"Pergi dari sini sekarang juga sebelum kesabaranku habis"ucapnya dingin sembari membuka pintu dan menyuruh Clara keluar
Clara yang merasa di permalukan, buru-buru bangun dan memperbaiki pakaiannya yang berantakan. Ia mengambil tasnya dan berjalan melewati Rey yang tengah menahan amarahnya
"Tunggu saja Rey, suatu saat aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku"gumamnya kesal sembari terus berjalan keluar dari ruangan itu
__ADS_1
Baru hendak menutup pintu, Rey melihat Indra sudah datang untuk menjemputnya. Tak terasa waktunya terbuang percuma karena perempuan itu, ia pun menghela nafas untuk menetralisir amarahnya, lalu mengambil barang yang di butuhkan dan berjalan mendekati asistennya
"ayo kita berangkat"