
Kediaman Oliver
Mommy sedikit terkejut dengan kedatangan Clara kerumahnya, meskipun akhir-akhir ini perempuan itu sering terlihat berkunjung tapi berbeda dengan hari ini karena wajahnya terlihat sangat kesal
" kenapa wajahmu murung begitu Clara?!"
"Aku masih kesal dengan Rey Mom, ia masih saja mengusirku kalau aku berkunjung ke apartemennya​"
"Kau menemui Rey di apartemennya?!"
"Iya mom, aku mencarinya ke kantor tapi dia tidak bekerja jadi aku menyusulnya ke apartemen. Aku hanya ingin mengajaknya mencoba baju pernikahan kami tapi dia malah mengusirku dari sana"
"Apa Rey sakit sampai tidak bekerja?! setahu mommy dia maniak kerja bahkan ia tidak pernah mengambil cuti hanya untuk sesuatu yang tidak penting"
"Dia baik-baik saja Mom, cuma aku melihat ada perempuan hamil disana. Apa Mom mengenalnya?!"
"Perempuan hamil?? Rey tidak pernah menceritakan apa-apa soal itu, apa mungkin itu hanya teman yang sedang berkunjung"
"Perempuan itu terlihat kampungan Mom, tidak mungkin Rey memiliki teman seperti itu"
"oh mungkin itu anak bi Inah yang datang untuk membersihkan apartment itu menggantikan ibunya"
"Apa Mom yakin, perempuan itu tidak ada hubungan dengan Rey?"
"Yakin sayang, Kamu saja yang terlalu cemburu"
"Rey kan calon suamiku Mom, aku tidak mau ada yang merusak rencana pernikahan kami"
"Tidak akan sayang.. sudah ah ngomongin itu terus, bagaimana kalau sekarang kita pergi melihat gaun pengantinmu"
Clara antusias dengan ajakan mertuanya itu, sudah lama ia menantikan hari dimana ia akan memilih gaun yang akan ia kenakan nanti sekalipun ia tidak bisa datang bersama Rey namun setidaknya langkahnya untuk menjadi nyonya Rey makin dekat
***
Suara ketukan pintu membangun Clara, ia merasa heran karena tidak biasanya Rey akan sesopan ini ketika masuk kedalam kamarnya sendiri. Semula ia abaikan tapi ketukan itu tidak juga berhenti, dengan langkah gontai ia mendekat ke pintu dan melihat siapa yang ada di baliknya
"Maaf non, makanannya sudah saya siapkan sebaiknya non makan dulu sebelum dingin"
__ADS_1
Serena memperhatikan wanita paruh baya di hadapannya, wanita yang mengingatkannya dengan bi Darni yang dulu merawat Serena sewaktu orang tuanya meninggal namun semenjak meninggalkan rumah pamannya ia tidak tau lagi bagaimana nasib wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu
"Non..loh kok nangis, apa bibi ada buat salah sama non?"
"ah..tidak bi. Mataku hanya kelilipan saja, kalau begitu saya mandi dulu ya bi gak sopan kalau makan masih bau begini" Serena menyeka sudut matanya, sambil tersenyum ia melihat wanita paruh baya itu
"Baik non, kalau begitu bibi ke belakang dulu. Kalau non butuh sesuatu bilang saja pada bibi"
Serena hanya mengangguk, mungkin Rey sedang berbaik hati mencari seseorang untuk menemaninya yang selalu kesepian di rumah saat ia tinggal bekerja.
Serena merendam tubuhnya cukup lama di bathup, wangi sabun membuatnya sedikit merasakan kenyamanan setelah kemarin ia habiskan untuk menangisi nasibnya
Selesai berpakaian dan memoles wajahnya yang bengkak, ia keluar dari kamar dan menuju meja makan yang sudah tersedia banyak makanan
"Kemari bi,makan bersamaku disini"
"Tidak usah non, bibi sudah makan tadi"
"Jangan sungkan bi, kalau Rey tidak ada disini bibi boleh menganggap ku seperti anak bibi sendiri"
"Maaf non bibi tidak berani"
Bi Inah merasa tidak enak melihat wajah memelas istri tuannya itu, akhirnya ia memilih duduk di kursi di depan gadis itu
"Bibi sungguh pandai memasak, lain kali bibi harus mengajariku memasak masakan enak seperti ini" Serena memakan makanan itu dengan lahap, selain karena enak rasa lapar juga yang menjadi alasannya makan banyak begitu membuat bi Inah tersenyum melihatnya
"Jangan malas makan non, kasian kan Dede bayi di perut non kalau di biarkan kelaparan"
"Pasti Rey yang mengatakan itu pada bibi, huh padahal itu bukan salahku bi dia saja yang selalu lupa membawakan makanan untukku" ucap Serena di sela kunyahannya
"Apa non selama ini selalu memesan makanan jadi di luar?!"
"Iya bi, pria kasar itu melarangku melakukan apapun"
"Pria kasar?? maksud non, tuan Rey??"
"Eh.. iya..maksudku Rey. maaf bi, aku keceplosan" Serena nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia malu karena ketahuan memanggil Rey dengan sebutan begitu. Bi Inah tertawa melihat ekspresi wajah Serena, ia bersyukur tuannya itu mendapat istri sebaik dan seramah Serena yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan tunangan tuannya itu
__ADS_1
"Tuan pasti sangat menyayangi non Serena"
uhuk!!!uhuk!!! Serena tersedak mendengar ucapan bi Inah, ia meragukan ucapan bi Inah karena kalau memang sayang tidak mungkin Rey akan menyakiti dirinya seperti ini terlebih di hari yang istimewa dalam hidupnya itu
"Makannya pelan-pelan saja non" seloroh bi Inah seraya memberikan air minum untuk Serena
"Makasih bi" Serena melanjutkan makannya dalam diam, ia tidak mau salah dalam berbicara karena menurutnya belum saatnya bi Inah tau permasalahan rumah tangganya
***
Clara sedang sibuk memilih baju yang menurutnya sesuai dengan pesta pernikahannya yang akan di gelar dengan mewah, namun menurutnya tidak ada satupun baju yang sesuai dengan keinginannya
"Apa sudah ada baju yang kau sukai sayang??" mom mendekati Clara yang terlihat belum menemukan baju yang ia sukai
"Belum Mom, semua bajunya terlihat sama saja terlalu sederhana untuk pesta pernikahanku yang mewah"
Mom mengangguk paham, ia sangat mengerti selera calon menantunya itu karenanya mom memanggil pemilik butik yang merupakan kenalannya untuk membawakan beberapa baju koleksinya yang sesuai dengan kriteria yang Clara mau
Mata Clara berbinar saat melihat gaun berwarna merah yang menjuntai indah di lantai dengan belahan dada yang rendah yang bila di padukan dengan mahkota di kepalanya pasti akan membuat penampilannya bagaikan putri dalam dongeng
"Kau menyukainya Clara??"
"Suka mom, sangat suka ini sesuai dengan keinginanku"
"Coba lah baju itu sayang, Mom yakin kau pasti sangat cocok memakainya"
Serena masuk ke dalam ruang ganti sementara Mom menunggunya di luar, baru saja Clara keluar dari ruang ganti matanya bertatapan dengan seseorang yang baru saja memasuki butik itu dan hampir membuat jantungnya melompat karena terkejut
"Kau sungguh cantik memakai baju ini sayang, Mom yakin pasti Rey tidak akan bisa memalingkan wajahnya darimu" ucap Mom menyentuh lengan Clara
Clara tersadar lalu memalingkan wajahnya, meskipun dengan senyum terpaksa ia menjawab ucapan calon mertuanya itu untuk menghindari mata seseorang yang masih melihatnya dengan takjub
"Kalau begitu kita ambil yang ini saja mom, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengan teman"
"Baiklah sayang, kalau begitu Mom selesaikan transaksinya dulu kau boleh berganti pakaian"
Clara buru-buru mengganti pakaiannya lalu secepatnya mengajak Mom keluar dari butik itu karena ia tidak mau Mom bertemu dengan orang yang sedari tadi tidak berhenti melihatnya itu
__ADS_1
"Aku pastikan baju pengantin itu akan kau pakai saat pernikahan kita nanti, sayang" gumam pria tersebut sembari tersenyum penuh arti