
Serena merasakan seluruh tubuhnya seakan mau remuk saking lelahnya, beberapa Minggu ini ia tidak bisa beristirahat dengan tenang meskipun saat ini ia sudah berstatus sebagai pengacara alias pengangguran banyak acara
Yah setelah resmi mengundurkan diri belum lama ini, ia pun harus menjadi saksi pada persidangan Karina di pengadilan. Meskipun sudah memaafkan Karina namun hukum tetap berjalan untuk orang yang bersalah
"Besok kami akan pulang, apakah kau tidak mau ikut bersama kami Sere?!" tanya Dani membuka pembicaraan saat mereka sudah tiba di rumah dari mengikuti sidang terakhir Karina
"Ayolah Ser, tidak baik ibu hamil tinggal di rumah sendirian" bujuk Nisa
"ma-af aku-aku belum siap"
"Apa yang kau takutkan Ser?! ada aku dan Dani yang akan melindungimu"
"Aku cuma tidak ingin merepotkan kalian berdua" Serena menunduk menghindari tatapan menyelidik dari mata Dani
"Siapa ayah dari anak itu?!" Serena mengangkat mukanya mendengar pertanyaan Dani yang sudah berusaha ia hindari karena ia bingung bagaimana harus menjawabnya
__ADS_1
"Jangan diam saja Sere!! apakah Frans yang sudah menghamilimu?! atau kau memiliki kekasih selain aku?! jawab Sere!!!"
"Apa yang kau lakukan Dani?! kau membuat Serena takut" Nisa memeluk tubuh Serena yang gemetar karena teriakan Dani yang tiba-tiba
"Aku hanya butuh jawaban Nis, kau Taukan bagaimana frustrasinya aku mencari Serena selama ini tapi begitu ketemu aku malah mengetahui kalau ia hamil. Kau tau bagaimana hancurnya perasaanku saat ini"
"Tapi kau bisa membicarakan ini baik-baik Dani, apa kau lupa belum lama ini Serena mengalami musibah. Jangan perburuk keadaan dengan amarahmu itu"
"Aku tidak lupa Nisa, tapi aku butuh jawaban!! aku perlu tau apa yang sudah terjadi?! apa Sere masih menyayangiku atau malah cuma aku yang selama ini menyayanginya?!"
"Aku masih menyayangimu, tapi apa gunanya kalau sekarang aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah kotor bahkan ayah dari anak ini pun aku tidak tau Dani-aku tidak tau..hiks.." teriak Serena di tengah isakannya
"hiks..Aku tidak tau..hiks..aku tidak tau..."
"Hentikan Dani!!! kendalikan amarahmu itu" Nisa melepaskan tangan Dani lalu membantu Serena meminum air yang di berikannya kemudian menenangkannya
__ADS_1
Setelah cukup tenang Serena mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada sahabat dan kekasihnya itu
"Hari itu paman mengajakku untuk menemaninya menemui rekan bisnisnya, tapi bodohnya aku tidak curiga sedikitpun saat itu namun keesokan harinya aku terkejut saat terbangun tanpa sehelai benangpun menempel di badanku dan kala itu aku hanya sendirian saja di kamar hotel itu"
"Tau kah kalian saat aku ke kantor paman, ia mengatakan kalau ia sudah menjual ku untuk melunasi hutang-hutangnya. Saat itu ingin rasanya aku mencabik wajah pamanku itu namun yang terjadi malah aku yang di usir dari rumahnya
Hhh...aku bingung harus kemana saat itu, beruntung aku masih punya rumah ini. Setidaknya aku tidak harus jadi gelandangan di luar sana"Dengan mata yang berkaca-kaca Serena memandang keluar, sedih rasanya harus mengingat kejadian menyakitkan itu lagi tapi bagaimana pun kebenaran harus selalu di ungkap sesakit apapun itu
"kamu ingat sewaktu kamu menghubungi ku hari itu, aku pingsan dan Frans menolongku. Ia membawaku kerumah sakit dan pada saat itu baru aku tau kalau ternyata aku sudah mengandung..
Hati kecilku mengatakan untuk membuang anak ini tapi naluriku sebagai perempuan tidak sampai hati melakukannya. Hhh..Terserah kalian mau percaya pada ceritaku atau tidak tapi aku sama sekali tidak menutupi apapun pada kalian berdua"
Air mata Serena pun jatuh, ada kelegaan di sudut hatinya setelah menceritakan segalanya. Nisa pun juga sudah berderai air mata, ia hanya bisa memeluk sahabatnya itu sebagai bentuk simpatik akan kemalangan yang dialaminya
Dani lah yang paling terpukul mendengar cerita itu, tidak ia sangka hidup yang di alami Serena begitu berat dan sayangnya ia tidak tau akan hal itu malah dengan tega mengatakan perkataan kasar padanya
__ADS_1
"Maafkan aku Serena" Ucapnya lirih sambil ikut memeluk Serena
Malam pun mereka lewati dengan tangisan, meski bukan tangisan bahagia setidaknya beban di hati mereka sudah sedikit menghilang