
Hingga pagi menjelang, Rey sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih saja mengutuk kebodohannya yang bisa masuk dalam jeratan Clara, beruntung Tuhan masih berbaik hati menolongnya di detik-detik terakhir karena bila terlambat sedikit saja maka rencananya untuk menyingkirkan Clara akan hancur berantakan
Sekacau apapun ia, profesional dalam bekerja tetap ia utamakan karena itu lah hari ini ia tetap bekerja meskipun lingkaran hitam di bagian matanya nampak jelas terlihat
"Sepertinya suasana hati Presdir sedang buruk, lihat saja wajah tampannya itu terlihat semakin menakutkan" bisik-bisik antar pegawai pun terjadi kala melihat sang bos pujaan hati berjalan melewati mereka
"Itu benar, bahkan matanya sudah terlihat macam mata panda" ucap pegawai yang lain
"Tapi herannya makin dingin ekspresinya malah ketampanannya makin terpancar" celoteh pegawai wanita yang cukup cantik membuat yang lain kembali mengagumi ketampanan dari bosnya itu
"Sudah hentikan obrolan tidak berguna kalian, lebih baik lanjutkan lagi pekerjaan kalian sebelum Presdir melampiaskan kemarahannya pada kalian" pimpinan HRD membubarkan kelompok rumpi tersebut yang kalau di biarkan sampai besok juga obrolannya tidak akan selesai
Sementara di ruangannya, Rey tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya. Kejadian semalam masih saja terbayang di ingatannya semacam memori otaknya merekam dengan jelas setiap adegan yang ia lakukan bersama perempuan itu dan hingga saat ini ingatan itu terus menyiksanya
Belum lagi ucapan Indra di telepon yang mengabarkan kalau ia mendapat laporan dari orang suruhannya yang ia tugaskan membuntuti Clara bahwa saat ini perempuan itu tengah hamil dan maksud kedatangannya ke klinik waktu itu berniat untuk menggugurkan janinnya
Oleh karena itu, pagi ini juga ia meminta asistennya itu untuk menemuinya di kantor membicarakan tentang hal ini
tok!!tok!!! tok!!!
"Ada apa Tuan memanggil saya kesini?!"
"Apa benar informasi yang kamu sampaikan tadi malam?!"
"Benar tuan, orang suruhan kita sudah memastikan hal itu kepada pihak klinik namun katanya tidak lama setelah kepulangan nona Clara ada seseorang yang datang dan mengaku sebagai suami nona Clara dan mengatakan bahwa istrinya tidak jadi melakukan hal itu"
"Breng*** jadi ia sudah menyusun rencana untuk menjebak ku!!!" Rey menggebrak meja di hadapannya melampiaskan emosinya
"Apa terjadi sesuatu tuan?!"
__ADS_1
"Yah wanita breng*** itu semalam mengundangku makam malam dan ternyata di makanan itu ia sudah mencampurnya dengan obat kuat. Dan kau tau hampir saja aku melakukan hal buruk itu dengannya beruntung kau menelpon di saat yang tepat"
"Mungkin nona Clara menginginkan Tuan menikahinya dan mengakui janin di rahimnya sebagai anak tuan" meskipun sedikit terkejut namun ia bersyukur hal itu tidak terjadi pada tuannya karena perempuan seperti Clara yang penuh dengan tipu muslihat tidak cocok untuk hidup bersama tuannya itu
"Sudah pasti seperti itu, yang penting saat ini aku harus membalas semua yang ia lakukan padaku"
"Selanjutnya apa rencana tuan?!"
"Kumpulkan semua bukti tentang kehamilan perempuan itu serta cari tau siapa ayah dari anak tersebut, nanti sisanya biar aku yang menyelesaikan karena menurutku orang tuanya pasti tau tentang hal ini"
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan"
"Oh ya, malam ini aku ingin kau membawa Serena ke apartemenku. Sebelum aku pulang kerja nanti ia sudah harus berada disana"
"Siap Tuan, kalau begitu saya undur diri"
Rey mengambil foto Serena yang ia simpan di dalam dompet miliknya, memandangi wajah teduh itu sekiranya membantunya melupakan sedikit masalah yang sudah terjadi
***
Sejak kejadian hari itu, Serena yang sedang berada di rumah sakit belum juga sadarkan diri padahal hal itu terjadi sudah dua hari yang lalu
Pria yang membawa Serena pergi, merasa khawatir dengan keadaannya sehingga langsung membawanya kerumah sakit untuk mendapat perawatan. itu juga ia putuskan setelah yakin pihak Dani tidak berusaha mengejar mobil yang ia kendarai
"Argh.. kepalaku sakit sekali!!" Serena yang baru tersadar memegangi kepalanya yang terasa sakit sambil memandangi ruangan yang ia tempati
"Akhirnya kau bangun juga gadis bodoh, untungnya kau masih hidup kalau tidak bisa aku yang mati di bunuh oleh tuan Rey"
""Baji****, Apa yang terjadi dengan teman-temanku?!"
__ADS_1
"Mulutmu ini sudah pandai mengumpat rupanya, aku tidak mempedulikan teman-teman mu yang sama bodohnya denganmu itu mau mereka hidup atau mati itu bukan urusanku"
"jangan sentuh mereka!! semua ini urusan kita berdua jadi jangan libatkan mereka"
"Mereka lah yang sudah mencampuri urusanku jadi wajar dong kalau aku beri sedikit pelajaran buat mereka"
Serena ingin mengumpat kasar pada pamannya itu namun kehadiran dokter membuatnya mengurungkan niatnya itu
Dokter wanita itu mengatakan kalau saat ini kondisi Serena masih lemah begitu pula dengan kondisi kandungannya sehingga ia meminta Serena untuk lebih menjaga kandungannya itu.
Selain memberi obat serta vitamin pada Serena dokter tersebut juga berpesan supaya Serena tidak stres ataupun tertekan karena akan berdampak buruk pada janin di kandungannya yang sudah memasuki usia 7 bulan itu
"Apakah keponakan saya sudah bisa pulang kerumah dok?!" ucap Evan di tengah-tengah penjelasan dokter
"Sebaiknya dia saat ini berada disini dulu sampai kondisinya membaik lagi pula ia juga baru siuman"
Evan memutar otak untuk mencari cara untuk membawa Serena pergi dari sana karena tadi ia sudah mendapat telepon dari asisten Rey yang mengatakan kalau bosnya itu ingin Serena berada di rumahnya sebelum ia pulang dari kantor malam ini
"Istri saya juga sedang sakit di rumah dok, pikiran saya jadi terbagi antara berada disini atau di rumah menemani istri saya. Setidaknya kalau ponakan saya ini di rawat di rumah akan memudahkan saya mengawasinya"
Mata Serena membulat ia tidak menyangka pamannya itu akan berbohong soal hal itu karena yang ia ketahui jangankan memiliki istri berfikir untuk menikah saja pamannya itu tidak mau
"Kalau memang istri anda sakit kenapa tidak sekalian saja di rawat disini jadi anda tidak kerepotan mengurusi dua orang sekaligus. Disini juga ada perawat yang bisa membantu Anda menjaga keduanya"
Dokter meragukan ucapan pria di hadapannya itu, setelah melihat respon yang gadis ini tunjukkan saat mendengar ucapannya
Serena tersenyum senang mendapat pembelaan dari dokter tersebut, dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada dokter itu
"Tapi dok, anak saya masih kecil kasian kalau harus saya tinggalkan di rumah"
__ADS_1
"Saya lihat pengawal yang anda bawa sangat banyak, saya pastikan bahwa anda adalah orang kaya dan sangat sibuk jadi kalau urusan anak bisa anda percayakan pada pengasuh saja"
Evan sudah tidak bisa lagi bersilang pendapat dengan dokter tersebut, akhirnya ia mengalah dan memilih jalan lain untuk membawa Serena pergi dari tempat itu