
Evan mengunjungi Rey di apartemennya, ia memberikan beberapa foto Serena yang sebelumnya ia ambil sebagai bukti bahwa kapan pun ia inginkan Serena akan datang menemuinya
Tidak biasanya Rey mengajak seseorang berkunjung ke kediamannya kalau bukan karena urusan pribadi. Ia memang termasuk orang yang tidak suka mencampur urusan kerjaan dan urusan pribadi, lagipula ia tidak mau kalau sampai Clara mengetahui kerja sama antara ia dan Evan karena sudah pasti Clara akan membahayakan nyawa Serena
Rey tersenyum memandangi wajah cantik yang sudah lama ia rindukan itu meskipun dari foto-foto itu tidak ada satupun yang memperlihatkan perut Serena yang sudah membuncit
Hal itu sengaja Evan lakukan karena ia tidak mau kerja samanya batal hanya karena kehamilan Serena. Kalau pun nanti Rey tau itu akan ia urus belakangan yang penting saat ini ia harus secepatnya memperoleh uang yang sudah di janjikan Rey padanya
"Kalau tuan mau, malam ini juga saya bisa mengatur pertemuan tuan dengan gadis itu"
Evan menyeringai melihat ekspresi bahagia yang jarang ia temui di wajah Presdir muda tersebut
"Tidak perlu, nanti saya sendiri yang atur semuanya. kamu hanya perlu membawanya saja ke tempat yang sudah saya siapkan"
"Baiklah kalau begitu, tuan bisa hubungi saya kapan saja"
"oh ya Tuan Evan, proposal sponsor yang anda ajukan sudah saya terima. Selanjutnya nanti asisten saya yang akan mengurus semuanya. Silahkan tuan berhubungan langsung dengan asisten saya"
"terima kasih Tuan Rey, kalau begitu saya pamit. Senang bekerja sama dengan Anda"
"Oh ya Tuan Evan, jaga gadis itu, jangan sampai kabur atau terluka karena nanti kau yang akan terima akibatnya"
"baik tuan Rey" Evan meninggalkan kediaman Rey menuju tempat Serena di sembunyikan, setidaknya ia harus memastikan keadaan Serena sebelum ia berikan pada Rey
***
Serena memegangi kepalanya yang terasa sakit, ia melihat sekeliling ruangan yang ia tempati namun tidak ada kejelasan ada dimana ia sekarang
Ia memeriksa setiap sudut di dalam kamar tersebut, ia berharap bisa menemukan celah untuk kabur dari sana tapi yang bisa ia temukan hanya sebuah kamar mandi yang juga tak memiliki ventilasi udara artinya ia benar-benar tidak memiliki cara lagi untuk kabur selain melalui pintu yang tadi ia jumpai
__ADS_1
Ia lalu menuju ke pintu tersebut dan ketika ia membukanya ternyata pintu tersebut tidak terkunci, dengan perlahan ia membuka pintu itu namun betapa terkejutnya ia ketika melihat seseorang yang sudah berdiri di balik pintu itu
"Apa kau berniat pergi dari sini Serena?!"
"Pa-paman!!!"
"Sepertinya kau tidak terlalu senang bertemu denganku, bukankah begitu Serena?!"
"Ck..jadi paman dalang dari semua ini?!"
"tentu saja, aku yang menyuruh mereka membawamu kemari"
"Untuk apa lagi paman?! apa paman tidak puas sudah merusak kehidupanku?!"
"Begini kah sambutanmu pada pamanmu yang sudah lama tidak kau temui ini Serena" Evan mengambil kursi lalu duduk di hadapan Serena
Evan mengelap wajahnya, ia geram dengan perbuatan Serena yang sudah kurang ajar padanya. Ia lalu melangkah mendekati Serena lalu mendaratkan sebuah tamparan keras ke wajah Serena hingga di sudut bibirnya mengeluarkan darah
"Jangan mentang-mentang Tuan Rey menyukaimu lantas kau sudah merasa hebat, kau itu tidak lebih dari seorang pela*** yang di bayar untuk memuaskan nafsunya saja. Nanti kalau dia sudah bosan kau akan di lempar bagai seekor anji** di jalanan"
Serena menatap tajam ke arah Evan, wajahnya memerah padam menahan amarah. Ingin rasanya ia mencabik wajah pamannya itu seandainya saat ini kondisinya memungkinkan untuk membalasnya
"Jangan sok suci Serena!!, paman tau kalau kau sudah tidur dengan banyak pria di luaran sana, kehamilanmu saat ini saja pasti kau tidak tau siapa ayahnya. Jadi bersyukur lah setidaknya seorang kaya raya seperti Tuan Rey mau menyentuh tubuh kotormu itu"
"Jaga ucapanmu paman!! aku tidak sekotor dirimu yang menghabiskan hidupnya hanya untuk meniduri perempuan yang tidak jelas asal usulnya" Evan mencengkram lengan Serena Dengan kencang, meski yang di katakan Serena merupakan fakta tapi kurang enak rasanya harus mendengar langsung dari mulut keponakannya itu
"Hhh... seandainya pria itu tidak memintaku untuk tidak menyakitimu, sudah pasti akan aku robek mulutmu itu"
Evan mendengus kesal, setidaknya saat ini ia tidak boleh terbawa emosi yang nantinya akan ia sesali karena ia sudah berjanji pada Rey untuk membawa Serena utuh tanpa kekurangan apapun
__ADS_1
Sepeninggalan pamannya, air mata Serena pun jatuh setelah dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tidak menetes di hadapan pamannya, ia sadar kejadian beberapa bulan lalu akan kembali terulang namun malangnya ia tidak tau harus meminta tolong pada siapa karena keberadaannya saja tidak ia ketahui
***
Setelah kejadian penculikan Serena, Frans tidak pulang ke rumah melainkan menunggu Dani dan Nisa yang sedang dalam perjalanan menuju kesana
Semalam Frans langsung menghubungi Nisa begitu Serena di bawa pergi, tidak banyak yang bisa ia ceritakan kepada mereka berdua karena memang semua terjadi begitu cepat
"Apa yang terjadi pada Serena Frans?! siapa orang-orang yang membawanya itu?! kenapa kau tidak mencegah mereka membawa Serena?!"" Nisa menyongsong Frans dengan rentetan pertanyaan bahkan sebelum ia masuk kedalam rumah milik Serena
"Tenang dulu Nis, sebaiknya kita membantu Frans dulu mengobati luka-lukanya" Dani menenangkan Nisa yang sedari tadi gelisah bahkan sudah berlinangan air mata
"Aku tidak apa Dani, luka-luka ini juga tidak parah. Maaf, aku sudah berusaha menolong Serena tapi orang yang menculiknya terlalu banyak sehingga aku tidak bisa mencegah mereka membawa Serena"
"Bisa kau ceritakan kejadiannya Frans?!"
Frans mulai menceritakan kejadian yang ia ketahui tanpa menutupi apapun kepada Dani dan Nisa, ia juga menceritakan ciri-ciri orang yang membawa Serena serta tidak lupa ia memberikan nomer plat mobil yang di kendarai pelaku tersebut yang sebelumnya sempat ia foto
Nisa hanya membuka tutup mulutnya mendengar cerita Frans, sedangkan Dani mendengarkan tiap kata yang di ucapkan Frans dengan serius. setidaknya saat ini mereka bisa memulai pencarian Serena menggunakan plat mobil pelaku
"Jangan merasa bersalah Frans, kamu sudah berusaha yang terbaik. Sebaiknya malam ini kita tetap berada disini, mungkin saja orang-orang itu tiba-tiba saja datang kembali kesini"
"Apa tidak sebaiknya kita melaporkan ke pihak kepolisian?! makin banyak yang mencari kemungkinan ditemukan akan semakin besar"
"Boleh juga, nanti urusan disini saya serahkan pada kamu saja. Besok saya mau kembali ke Jakarta dan memulai pencarian dari sana"
"Kalau begitu, aku mau bersiap ke kantor polisi. Takut kita makin kehilangan jejak Serena kalau terlalu lambat bergerak"
Frans meninggalkan rumah Serena, sedangkan Dani dan Nisa beristirahat sejenak sembari menunggu Frans datang kemudian bersama-sama membuat laporan penculikan Serena di kantor polisi
__ADS_1