
Sebulan sudah Serena berada di rumah peninggalan neneknya di kampung, rumah masa kecil ibunya sebelum menikah dengan ayahnya. Selama disini pun ia terus mengurung diri di dalam rumah kecuali untuk membeli beberapa kebutuhan baru lah ia keluar.
"hhh...tabunganku hanya cukup untuk sebulan kedepan, sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan" desahnya
Selama ini Serena hidup hanya mengandalkan tabungan yang di kumpulkannya ketika bekerja, gajinya sebagai pegawai restoran yang tak seberapa terus iya sisihkan karena ia sadar suatu saat hari ini akan tiba. Hari dimana iya akan kesulitan bertahan hidup bahkan untuk mengisi perut..
Ia tetap bersyukur setidaknya dulu pamannya tetap memberinya makan walaupun terkadang cuma sehari dua kali atau bahkan sehari sekali tapi itu sudah cukup membantu mengirit pengeluaran..
Serena segera memakai pakaian terbaiknya dan bergegas berkeliling mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Sudah seharian Serena berkeliling kota tapi setiap tempat yang ia datangi selalu menolak dengan alasan yang sama, karena lelah ia beristirahat di sebuah taman di pusat kota.
"hhh.... keberuntunganku buruk sekali" desahnya
Ia tidak menyangka mencari kerja di tempat ini begitu susah padahal sebelumnya ia sudah punya pengalaman bekerja, ia tidak mau menjadi gelandangan di kota kelahiran ibunya bahkan untuk membayangkannya saja iya tak mau
__ADS_1
Drrrrttt...drrrrttt....
"Kamu dimana sayang?"
"Kenapa pergi tanpa kabar seperti ini?"
"Apa aku berbuat salah sampai kamu meninggalkan aku begitu saja?" cerca si penelpon di sebrang sana
Serena awalnya terkejut ketika mengenali suara penelpon yang membombardirnya dengan pertanyaan, sebab iya sudah mengganti nomor handponennya yang lama. Tapi Serena sudah bisa menebak darimana penelpon ini bisa mendapat nomornya yang baru. Setidaknya kerinduan Serena sedikit terobati hanya dengan mendengar suara dari sosok kekasih yang sudah menemaninya selama 4 tahun itu.
"Serena Anindra Sanjaya..."
"aku tidak mungkin salah mengenali suara kekasihku sendiri"
"jangan berpura-pura bahwa kau juga tidak mengenali suaraku" sanggahnya
__ADS_1
Serena menelan ludah mendengar perkataan Dani kekasihnya, mana mungkin ia lupa bahkan saat inipun ia tidak bisa berbohong kalau ia sangat merindukannya. Tapi bukannya membantah Serena lebih memilih diam menutupi jati dirinya
"aku cuma mengkhawatirkanmu yang entah ada dimana sekarang"
"aku sudah seperti orang gila, tiap hari cuma berjalan tanpa arah hanya untuk menemukanmu"
"tolong katakan kalau aku ada salah apa"
"jangan siksa aku seperti ini" ucap Dani sedih
Serena menutup mulutnya yang mulai terisak, ia juga tau perasaan Dani saat ini yang tidak jauh berbeda dengannya namun ia sadar saat ini ia bukan lah orang yang tepat untuk orang sebaik Dani
"maafkan aku Dani...maafkan aku..."ucap serena di tengah isakannya, ia pun langsung mematikan sambungan telepon sebelum nanti hatinya akan kembali di Landa kebimbangan bila terus mendengar semua perkataan kekasihnya itu.
Menyadari ia yang sedang menangis menjadi tontonan orang-orang yang berada di taman tersebut, ia segera beranjak dari tempat duduknya hendak kembali ke rumah karena saat ini semangat mencari kerjanya pun sudah hilang
__ADS_1
Ketika baru saja akan melangkah, kepalanya tiba-tiba sakit dan penglihatannya pun menggelap, tubuhnya pun ambruk ke tanah. orang-orang yang terkejut langsung berkerumun di sekelilingnya, kesadarannya mulai menghilang saat sebuah lengan kekar mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi..