PresdiR KeciL

PresdiR KeciL
Eps 32 (rencana Clara)


__ADS_3

Clara telah kembali ke rumahnya setelah ia mengatakan kepada leo bahwa ia sangat lelah. Kehamilannya membuat ia selalu merasa cepat lelah meskipun tidak banyak hal yang ia lakukan


Baru hendak memasuki ruang keluarga, Clara mendengar perdebatan orang tuanya serta suara tangisan dari ibunya. Karena penasaran Clara langsung berjalan ke arah kedua orang tuanya berada


"Ada apa ini pah! kenapa ibu sampai menangis begini?!" Clara langsung memeluk ibunya yang sedang terduduk di sofa


"Katakan kepada kami Clara, kenapa benda ini ada di kamarmu?!" ayahnya meletakkan kasar alat tes kehamilan milik Clara yang istrinya temukan di kamar mandi sewaktu mencari anak gadisnya itu


Wajah Clara seketika memucat, ia mengutuk kebodohannya yang tidak berhati-hati dalam bertindak. Terlalu bersemangat ingin menggugurkan janinnya ia justru lupa membuang alat tes kehamilan yang sudah ia gunakan


"I-itu...hmmm...i-itu..."


"jawab Clara!!! jangan seperti anak kecil yang baru bisa berbicara"


"a-aku.... a-aku ti-tidak tau, i-itu punya siapa pah"


"Jangan berbohong Clara, ibumu menemukan benda itu di kamarmu"


"aku benar tidak tau itu milik siapa pah, tolong percaya padaku"


"Kalau begitu ikut papa sekarang ke rumah sakit, papa ingin memastikan kalau ucapanmu itu benar" Arnold menarik tangan Clara membawanya menuju halaman rumah tempat mobilnya terparkir


"Tolong lepaskan aku pah!!! hiks..hiks.. tespect itu memang milikku, hiks..aku sekarang sedang hamil pah"


Arnold seperti terkena sengatan listrik mendengar ucapan Clara, begitupula ibunya yang langsung memandang anaknya tak percaya


"Siapa laki-laki baji**** itu Clara?!"


"Rey pah..hiks..Rey lah ayah dari anak ini" semula Clara ragu untuk menyebut nama Rey namun ia tidak memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan diri


"Apa kau yakin Rey adalah ayah dari anak itu?!" tanya Arnold menatap anaknya menyelidik


"Betul pah"


"Baiklah kalau memang benar begitu, aku akan menemui Oliver dan secepatnya mengurus pernikahan kalian. Tapi sebelumnya aku akan menanyakan hal ini pada Rey, setidaknya ia harus tau kalau kau sudah mengandung anaknya"

__ADS_1


"Jangan!! jangan hubungi Rey pah biar aku saja yang akan mengatakan langsung padanya" Clara menarik lengan ayahnya ketika melihat ayahnya hendak menghubungi Rey


"Ya sudah kalau begitu, papa mau menghubungi Oliver dulu dan mengatakan kalau papa akan berkunjung kesana"


Setelah beberapa saat Arnold menghubungi Oliver, ia pun berkata akan bergegas mengunjungi orang tua Rey saat itu juga karena kebetulan Rey pun sedang berada disana


"Jangan kesana pa!! mereka pasti sedang menikmati waktu bersama, kehadiran papa akan mengganggu kebersamaan mereka"


"Kenapa kau seperti sedang menahan papa?! Apa ada lagi yang kau sembunyikan Clara?!"


"Bu-bukan begitu pa, hanya saja.."


"Kalau memang tidak ada apa-apa, papa mau kesana sekarang masalah ini harus secepatnya di selesaikan"


Clara terus menahan kepergian ayahnya, ia tidak mau kalau sampai ayahnya hanya akan di permalukan disana dan membuat hubungannya dengan Rey berakhir


"Pasti ada yang kau sembunyikan Clara, cepat katakan pada papa!!!" Arnold mencengkram lengan Clara hingga anaknya itu meringis kesakitan


"Aku-aku berbohong, bukan Rey ayah dari anak ini tapi....Leo" cengkraman di lengannya semakin kencang hingga ia memohon ampun kepada ayahnya


"Aarrrgghhh!!! kau sudah mencoreng muka papa di hadapan Rey dan keluarganya Clara!!!" Arnold membanting meja di hadapannya hingga kacanya pecah dan berserakan


"Sabar pah, semua sudah terjadi. Sebaiknya sekarang kita pikirkan bagaimana caranya memberitahukan hal ini kepada Oliver dan keluarganya" ibu Clara menengahi sembari memeluk Clara yang masih menangis


"Kau saja yang urus semuanya, aku sudah pusing dengan kelakuan anak kesayanganmu itu" Arnold pun meninggalkan ibu dan anak itu yang masih menatapnya dengan tatapan kesedihan


***


Setelah kepergian suaminya, Eveline mengajak anaknya untuk menenangkan diri di kamar. Ia sadar bagaimanapun seorang wanita hamil tidak boleh merasa tertekan ataupun stres karena bisa memperburuk kesehatan ibu dan janinnya


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu sayang" ia mengelus rambut putrinya yang terlihat sudah lebih tenang


"Kata dokter sudah masuk 5 Minggu Bu"


"Pantas akhir-akhir ini kau selalu merasa kurang sehat. Apa ada yang ingin kau makan?! bilang saja sama ibu nanti ibu buatkan"

__ADS_1


"Maaf kan aku bu!! tapi aku tetap ingin menjadi istri Rey Bu, aku sudah jatuh cinta sama Rey. Ibu harus menolongku!"


"Kita pikirkan nanti saja sayang, ibu juga belum mendapatkan caranya. Apalagi sekarang papahmu masih sangat marah"


"Aku akan melakukan apa saja asalkan Rey menjadi milikku Bu, Kalau perlu aku akan membuat Rey bertanggung jawab atas anak di kandunganku ini"


"Tidak semudah itu sayang, Rey pria yang cerdas akan sulit membuatnya mengikuti keinginanmu"


Clara nampak berpikir keras, saat ini di pikirannya hanya bagaimana caranya Rey bisa tidur dengannya supaya hal itu bisa ia jadikan alasan kehamilannya


"Aku akan mendatanginya bu! aku yakin Rey tidak akan menolak tubuhku yang indah ini" Clara bangkit lalu mengambil pakaian di lemarinya, secepatnya ia ingin melaksanakan rencananya menjerat Rey sehingga pernikahan mereka bisa segera terlaksana


"Kau mau pergi dengan wajah seperti itu sayang?! jangankan tergoda melirikmu saja Rey tidak akan mau"


Clara menghentikan kegiatannya mendengar perkataannya ibunya, ia lalu melihat dirinya di cermin disana nampak matanya yang bengkak, rambut acak-acakan serta wajahnya yang pucat tanpa riasan


"Masih ada hari esok sayang. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja, nanti baru siapkan rencanamu dengan matang"


Clara mengikuti apa yang ibunya ucapkan, memang tidak baik melakukan sesuatu hal hanya berdasarkan emosi saja karena yang akan ia hadapi adalah seseorang seperti Rey yang memiliki seribu macam cara ketika sedang berada dalam situasi yang sulit


***


Arnold melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah sebelumnya ia menghubungi bawahannya yang ia perintahkan membuntuti Clara selama ini untuk mempertanyakan alamat kediaman Leo


Layaknya seorang ayah, ia tidak terima kalau anak gadisnya di rusak oleh seorang pria seperti Leo


Begitu sampai di parkiran apartemen milik Leo, Arnold melangkah menuju ke tempat Leo berada. Ia membunyikan bel berkali-kali sampai kemudian sosok yang ia cari muncul di balik pintu


Bukkk!!!Bukk!!!


Arnold menghujani Leo dengan pukulan yang membabi buta membuat darah mengalir dari beberapa tempat di wajah leo. Meskipun sudah berusia senja tapi kekuatan fisiknya tidak kalah dengan anak muda itu karena sejak dulu Arnold selalu rutin berolahraga


Leo tidak melawan ataupun menghindar dari amukan ayah kekasihnya itu, ia yakin kalau saat ini orang tua Clara sudah tau akan kehamilan anaknya makanya ayahnya langsung datang mencarinya kesini


"Sekali lagi saya melihat kamu mendekati Clara, saya pastikan akan melenyapkanmu dari dunia ini"

__ADS_1


Setelah melayangkan sebuah pukulan lagi ke wajah Leo, Arnold pergi meninggalkan Leo yang menatapnya sembari menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya


"Pukulan ini aku anggap sebagai tanda bahwa Anda merestui hubunganku dengan clara, paman" gumam Leo di iringi dengan senyuman penuh kemenangan


__ADS_2