
Waktu masih sangat pagi namun Serena sudah berpakaian lengkap bahkan wajahnya sudah ia hias dengan riasan natural,sedangkan Rey masih terbuai akan mimpi indahnya.
"Bangun mas..katanya mau ziarah ke makam mama sama papa"
"Hmmm...ini masih pagi bee, Mei saja pasti masih tidur"
"Perjalanan kesana lama mas, kalau berangkat siang bisa-bisa sampai disana malam"
"Lima menit lagi ya bee, aku masih mengantuk"
"Ya sudah tidur saja terus, aku masih bisa kesana sendiri" Serena menghentakkan kakinya kesal kemudian keluar dari kamar meninggalkan Rey yang kembali melanjutkan tidurnya
Ia memanyunkan bibirnya karena ancamannya pada Rey tidak berguna mungkin karena pria itu tau kalau Serena tidak akan bisa pergi kemana-mana
"Ibu hamil gak bagus loh non pagi-pagi sudah cemberut begitu, nanti anaknya ketularan cemberut juga" goda bibi saat melihat nonanya duduk sambil menekuk wajahnya
"Dia yang mengajak pergi tapi di bangunkan malah tidur lagi, huuffttt..."
"Tuan Rey maksud non?!"
"Iya bi, siapa lagi kalau bukan tuan muda Rey itu"
"Yah di maklumi saja non, kan tuan sepanjang hari bekerja makanya masih lelah jadi pengen istirahat"
"Dia kan tinggal bilang bi jadi saya tidak usah berharap begini"
"Sabar saja non, nanti juga tuan muda bangun"
Serena berpindah ke sofa, berbicara dengan bi Inah hanya membuatnya makin kesal. Seandainya bisa, ia ingin berangkat duluan kesana tapi apalah daya Tuan muda itu pasti tidak mengizinkan
Ia lalu menyalakan televisi namun bukannya nonton ia malah sibuk menggonta-ganti siaran hingga akhirnya ia malah tertidur disana
***
Rey terbangun namun tidak melihat istrinya itu di sampingnya, setelah meregangkan ototnya ia berjalan keluar mencari Serena yang ia duga sedang mempersiapkan sarapan untuknya
"kenapa tidur disini bee?! ayo bangun.." Rey mengelus pipi serena namun perempuan itu malah semakin nyenyak, Rey kemudian mengangkat tubuh Serena lalu memindahkannya ke kamar
"huuff..kau ternyata berat juga bee" gumam Rey sambil mengusap keringat di keningnya, ia yang duduk membelakangi Serena tidak sadar kalau istrinya itu sudah terbangun dan mendengar ucapannya
"Kalau memang tidak kuat ya tidak usah di gendong juga, memang ada yang minta" Serena merajuk, baru juga permulaan hari tapi suaminya itu sudah menaikkan level emosinya
"Eh..kamu sudah bangun bee, ma-af maksud aku bukan kamu yang berat hanya saja aku yang sudah lama tidak berolahraga"
"Terserah, aku mau tidur" Serena menutup tubuhnya dengan selimut, moodnya bahkan bertambah buruk mendengar ucapan suaminya itu
__ADS_1
"Ja-ngan marah bee, aku kan sudah minta maaf"
Hening, Serena bahkan tidak membuka selimut yang menutupi wajahnya sekalipun selimut itu sudah di tarik oleh Rey
"Katanya mau ziarah ke makam mama sama papa, tapi kok malah tidur lagi"
"Aku sudah tidak mau, kamu pergi sendiri saja sana"
"Aku kan gak tau dimana tempatnya bee, semalam kamu kan bersemangat sekali mau kesana kenapa sekarang jadi males begini"
"Emang siapa yang di bangunin malah bilang masih ngantuk?!" kepala Serena menyembul keluar dari dalam selimut
"Ya ma-af bee, tapi kan sekarang aku sudah bangun jadi selesai mandi kita bisa berangkat"
"Sudah siang baru mau jalan, sampainya bisa besok" selama ini Serena menggunakan bus atau kereta untuk bisa sampai ke kampung halamannya jadi dia beranggapan akan tiba tengah malam kalau berangkat sekarang
"Kita naik jet pribadi kesananya bee, paling satu jam juga sampai"
"Jet?! memang kita pinjam punya siapa?!"
"Tentu saja milikku bee, memangnya kamu tidak tau kalau suamimu ini memiliki segalanya" Rey terkekeh melihat kepolosan istrinya
"Ah..ya aku lupa kalau suamiku ini adalah tuan muda Rainer"
"Katanya mau ke makam, kenapa harus bertemu dokter Mei lagi?!"
"Bukankah kita harus memeriksakan kandunganmu dulu bee, apa kamu lupa?!"
"Oh iya, lantaran emosi jadi bego begini ya" Serena terbahak sementara Rey hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya
"Cepat bersiap, atau kita tidak jadi pergi dan aku akan menerkammu seharian ini"
Mendengar ancaman itu, ia bergegas bangun lalu menyiapkan keperluan suaminya, merapikan dandanannya kemudian menyiapkan makanan sambil menunggu suaminya selesai dengan ritualnya
***
"Permisi dok, Tuan Rey datang bersama dengan istrinya"
"Persilahkan mereka masuk"
"Baik dok"
Rey masuk sambil menggenggam tangan Serena, membantunya untuk berjalan karena perut yang sudah membesar mempersulitnya
"Wah kalian datang tapi tidak mengabari ku terlebih dulu, ada apa ini Rey?!"
__ADS_1
"Aku datang tentu saja ingin memeriksakan kandungan istriku, mana mungkin merindukanmu"
"ckckckck..Serena kau harus banyak bersabar menghadapi suami yang arogan sepertinya" Serena hanya tersenyum, ia lalu berbaring di tempat yang sudah di sediakan.
"Jangan banyak bicara Mei, cepat periksa Serena. Aku ingin melihat apa yang di lakukan jagoanku di dalam sana"
"ya..baiklah Tuan Rey"
Dokter memperlihatkan layar yang menampilkan bayi dalam kandungan serena, serta menjelaskan segala macam hal yang di tanyakan oleh calon bapak yang ternyata semakin cerewet kalau berhubungan dengan anaknya itu
" Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan Rey?!'
"Tentu saja ada, apa aku boleh menyentuh Serena?! dia kan sedang hamil tua aku takut kalau menyentuhnya bisa berakibat buruk pada anakku"
"Masa untuk menyentuh saja kau harus butuh izinku Rey, bukan kah sekarang kau juga sudah menyentuhnya" Mei sengaja meledek Rey dengan berpura-pura tidak mengerti akan maksud ucapannya
"Bukan itu maksudku Mei, apa aku boleh melakukan itu padanya"
"Melakukan apa Rey?! aku tidak mengerti" Mei menahan tawanya, kapan lagi bisa mengerjai Rey yang selama ini selalu bersikap buruk padanya
"Menembaknya Mei" tawa dokter seketika pecah, ia tidak mengira kalau Rey akan memilih kata menembak yang kalau orang lain yang mendengar pasti menyangka dia seorang mafia
Wajah Serena sudah memerah padam, ia tidak menyangka Rey menjadi tidak tau malu karena menanyakan hal itu pada dokternya sekalipun mereka itu berteman
"Boleh Rey, kau boleh menembaknya tapi jangan buat dia sampai mati" Mei memegangi perutnya yang sakit, sungguh hiburan yang jarang terjadi tapi bisa membuat moodnya hari ini membaik
"Terus saja menertawakanku, dan lihat besok tempatmu ini sudah rata dengan jalanan"
"aku lupa sedang menertawakan seorang pewaris Rainer group. Hhh..baiklah maafkan aku, kau boleh berhubungan dengannya tapi ingat pakai cara halus dan atur jaraknya karena sebenarnya berhubungan juga penting untuk membantu pembukaan jalan lahir"
"Kau dengar bee, Mei sudah memperbolehkan kita" Serena mencubit pinggang Rey, ia kehabisan kata untuk membuat mulut suaminya itu berhenti membicarakan hal itu karena wajahnya saat ini sudah sama dengan warna baju yang di kenakannya
"Oh ya dok, bolehkah saya melakukan perjalanan dengan pesawat?!" tanya Serena mengalihkan pembicaraan
"Memang kalian mau kemana?!"
"Kami berencana ke kampung halamanku untuk berziarah"
"Kalau kamu merasa sehat tidak apa-apa tapi ingat jangan sampai kelelahan"
"Baik dok, saya akan ingat itu"
"Kalau begitu saya tuliskan surat izin untuk berpergian biar kalian tidak kesulitan nantinya"
Setelah menerima surat dari dokter Mei mereka pun berpamitan lalu menuju ke tempat jet pribadi Rey menunggu
__ADS_1