
Sudah tiga hari berlalu semenjak Rey mengikuti saran dari dokter untuk tidak menemui istrinya itu sementara waktu. Ia akan berada disisi Serena saat perempuan itu sedang tertidur sedangkan saat ia terbangun bi Inah atau Rebecca yang akan menjaganya
Sebenarnya hari ini ia ingin memberitahukan kepada Serena bahwa ia akan keluar kota untuk mengurus masalah yang sedang anak cabang perusahaannya alami namun ia hanya bisa mengatakannya saat perempuan itu tertidur karena ia tidak mau Serena akan kembali menangis saat melihatnya
"Dad akan pergi sebentar jadi daddy titip Mom padamu ya boy" gumam Rey mengelus perut buncit istrinya kemudian ia beralih pada wajah istrinya yang sedang terlelap, menatap wajah yang selalu ia rindukan yang entah mengapa saat ini berat rasanya ia tinggalkan padahal Mei sudah mengatakan kalau kondisi Serena sudah membaik namun ada perasaan takut yang membuatnya seakan tidak ingin jauh darinya
"Aku sangat mencintaimu bee" di ciumnya kening Serena lama bahkan tanpa sadar ada air mata yang mengalir di sudut matanya, dengan cepat ia seka karena tidak mau membuat tidur Serena terganggu
"Ma-af tuan, pesawatnya sudah siap" Indra yang menyaksikan semua dari awal merasa tidak tega namun ia juga tidak bisa berbuat banyak karena memang harus atasannya itu sendiri yang harus turun tangan menyelesaikan masalah yang perusahaannya alami
"Bi tolong jaga Serena selama saya tidak ada, jangan lupa laporkan semua yang Serena lakukan seharian ini pada saya"
"Baik tuan"
"Ayo berangkat" setelah menatap sekilas pada Serena, Rey pun berjalan keluar dari kamar inap itu yang di ikuti oleh Indra dari belakang
"Perintahkan dua orang bodyguard untuk berjaga di depan kamar Serena"
"Baik tuan"
***
Saat Serena terbangun yang pertama kali ia lihat adalah kamar bercat putih yang selama hampir seminggu ini menjadi tempat tinggalnya. Ia sebenarnya merasa bosan karena selama ia hamil sering kali ia berada disana namun bila harus kembali ke apartemen Rey rasanya ia belum siap karena sudah pasti ia akan setiap hari bertemu dengan suaminya itu
Ia bukan benci kepada Rey hanya saja setiap kali melihatnya kata-kata orang tuanya selalu terngiang hingga membuat hati Serena sakit. Ia sadar kalau memang ia tidak cocok menikah dengan Rey yang notabene adalah pria kaya yang terlahir dari keluarga terhormat tapi bukan dia yang menginginkan semua ini justru Rey lah yang menjeratnya dalam hubungan yang sakral bernama pernikahan
(Maafkan ibumu ini nak, bukannya ibu membenci daddy serta Oma opamu tapi keadaan yang membuat Oma opamu belum bisa menerima kehadiran kita di keluarga mereka)
__ADS_1
Serena menghela nafas panjang, ia tidak menyangka hidup dengan Rey akan sesulit ini padahal selama ini ia hanya meminta kepada Tuhan kesehatan dan kesempatan untuk merawat dan membesarkan anaknya seorang diri tapi apalah daya takdir berkata lain
"Non sudah bangun toh, ini makanannya sudah datang" ucap bibi meletakkan senampan makanan di hadapan Serena
"Terima kasih bi, saya belum lapar"
"Makannya jangan males non, biar Dede bayi di perut sehat"
"Iya bi, sebentar saya makan makanannya" Serena tersenyum menatap bi Inah yang sudah seperti ibu baginya
"Tadi tuan kesini non, mau pamit katanya mau ke luar kota ada urusan tapi non masih tidur"
"Keluar kota kemana bi?!"
"Bibi juga kurang tau deh non, tuan cuma pesen supaya jagain non disini selama tuan tidak ada"
"Ya itu karena tuan sayang sekali sama non, makanya tuan ngejagain non sudah seperti menjaga nyawanya sendiri"
"Aduduh bibi mah bahasanya nakutin amat, paling juga khawatir sama anaknya ini bi"
"Beneran loh non, tuan itu saking sayangnya tiap hari kan kesini nemenin non kalau lagi tidur malah tadi bibi lihat tuan nangis waktu nyium kening non"
"Rey menangis?! ah bibi salah lihat kali"
"Gak mungkin non, lah kan tadi ada mas Indra juga disini. Kalau non gak percaya coba deh nanti tanyain sama mas indranya"
Serena termenung, mendengar Rey menangis rasanya ada sudut hatinya yang tercubit. Apakah perlakuannya sudah keterlaluan sampai membuat pria itu terluka atau ah sudah lah ia tidak mau terlalu memikirkan tentang hal itu karena hanya akan membuat dadanya semakin sesak
__ADS_1
***
Pria yang mengintai Serena menyunggingkan senyumnya saat mengetahui kalau Rey sedang tidak berada disana sehingga rencananya untuk melenyapkan Serena makin mudah.
Hal itu ia ketahui dari kamera tersembunyi yang sudah ia letakkan di kamar rawat perempuan itu tentu saja dengan bantuan salah satu perawat yang sudah ia bayar sebelumnya
Pria itu pun kembali menghubungi seseorang yang sedang menunggu kabar darinya
"Kita bisa melakukan eksekusi malam ini bos"
"Bagus!! itu yang ingin aku dengar darimu"
"Apa bos akan turun tangan langsung atau cukup saya saja yang menyelesaikan misi ini"
"Tentu saja aku yang akan turun tangan langsung, bagaimanapun juga aku sudah tidak sabar mendengar teriakan kesakitan dari seorang wanita yang akan menemui ajalnya" Pria itu terkekeh saat membayangkan teriakan kesakitan dari korbannya yang menurutnya nyanyian paling merdu yang terdengar di telinganya
"Apa tuan juga sudah tau kalau suami dari target adalah sahabat dari Mike musuh bebuyutan kita"
"Menarik, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Aku tidak sabar untuk menunggu sampai malam nanti"
anak buah pria itu bergidik ngeri mendengar ucapan bosnya itu. Ia sudah paham betul kelakuan bosnya yang merupakan seorang psikopat yang tidak akan segan-segan melukai korbannya untuk kesenangan pribadi
"Kalau begitu saya akan persiapkan segala keperluan kita untuk malam nanti bos"
"Pastikan jangan sampai ada kesalahan atau kau yang akan menggantikan posisi perempuan itu"
"Baik bos" pria itu menelan salivanya dengan susah, tentu saja ancaman itu bukan sekedar ucapan karena akan terlaksana kalau ia sampai gagal melakukan misinya kali ini
__ADS_1