
Plak!!
"Gara-gara mulut bodohmu itu, rencanaku semuanya gagal"
Leo hanya diam menerima semua amukan kekasihnya yang datang menemuinya di apartemen, setelah kejadian hari itu ia sempat di rawat sehari di rumah sakit karena luka yang cukup parah di beberapa bagian tubuh serta wajahnya
Namun ia cukup beruntung karena tidak ada luka serius yang ia alami akibat penyiksaan yang di lakukan Mike padanya
"aaaarrrggghhhh!!! hidupku hancur, itu semua karena kebodohanmu Leo" Clara melempar barang-barang Leo yang ia temukan ke lantai sebagai pelampiasan amarahnya hingga kamar tersebut seperti kapal pecah
"Jawab aku breng***!! Bagaimana bisa mereka menangkapmu dan membebaskan wanita kampung itu??!"
"Mereka menyekapku kemudian memaksaku untuk membuka mulut tentang lokasi kita menyembunyikan perempuan itu"
"Lalu dengan bodohnya kau mengatakan kepada mereka, begitu??!"
"Mereka mengatakan akan melakukan sesuatu padamu dan anak kita kalau sampai aku tidak mau mengatakannya"
"Mereka hanya mengancam dan kau dengan mudahnya termakan omongan mereka??! cih.. ternyata selama ini aku memiliki kekasih bodoh sepertimu"
"Berhenti menyalahkanku Clara, ini semua karena kamu yang terlalu meremehkan Rey. Cintamu padanya membuatmu lupa akan siapa Rey sebenarnya"
"Semua ini salahmu, harusnya kau tidak membuka mulutmu itu sekalipun mereka membunuhmu"
"Jadi kau tidak peduli sekalipun aku mati, begitu Clara??! bahkan setelah apa yang aku lakukan untukmu selama ini??!" Leo berjalan mendekati Clara yang masih berdiri menatapnya
"Ya.. aku tidak peduli, selama ini aku hanya memanfaatkanmu saja"
"Coba ulangi perkataanmu itu Clara" Leo mencengkram wajah Clara hingga membuat Clara meringis kesakitan
"Apa yang kau lakukan breng***??! kau menyakitiku" Clara melepaskan cengkraman tangan Leo namun justru cengkraman itu semakin kuat
"Aku melakukan apapun demi kamu, tapi balasanmu sungguh menyakitkan. Ternyata selama ini cinta yang membuatku buta akan keburukanmu, tidak heran jika Rey begitu jijik kepadamu" Leo menghempas tangannya hingga membuat Clara terhuyung jatuh
"Bajing** kau Leo!!! kau akan menerima akibat dari perbuatanmu ini"
"Pergi dari sini Clara, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi"
"Berani kau mengusirku, hah!!!"
"Pergi!!! atau aku seret kau keluar dari sini"
__ADS_1
"Ok, aku akan pergi tapi tunggu saja nanti akan aku kirim jasad anakmu ini padamu"
"Lakukan apa yang kau inginkan Clara, aku tidak peduli tapi jangan salahkan aku kalau nanti akan aku bongkar kebusukan mu di hadapan orang banyak" Leo menyeret keluar Clara dari rumahnya, ia tidak mau berhadapan lebih lama lagi dengan perempuan itu
"Bajing** kau Leo...aku membencimu!!!"
***
Rey mengulum senyum saat melihat wajah datar istrinya, ia tau persis kalau istrinya itu sedang cemburu kepadanya karena sedari tadi Serena hanya diam saja meskipun ia masih melayani Rey saat tadi di meja makan
"Tak perlu cemburu seperti itu bee, Rebecca itu satu-satunya adik yang aku punya" Rey duduk di samping Serena yang sedang sibuk menatap layar televisi
"Siapa yang cemburu??! aku tidak peduli perempuan itu siapa??!"
"Yakin tidak cemburu??! tapi dari tadi kamu hanya diam saja"
"Aku lagi malas ngomong saja"
"Ya sudah kalau kamu tidak cemburu" Rey mengambil ponsel miliknya kemudian dengan sengaja menghubungi Rebecca di depan Serena
"Ada apa kak??!" sahut Rebecca di sebrang sana
"Iih.. kakak apa-apaan sih, manggil sayang begitu kan geli Re dengernya"
"hehe..kan memang aku sayang kamu" Rey melirik Serena, meskipun matanya menatap televisi tapi Rey yakin Serena tidak fokus pada apa yang ia tonton terbukti dari wajahnya yang semakin di tekuk
"Dasar pria kasar bodoh, bisa-bisanya dia bermesraan di depanku yang berstatus istrinya" batin Serena kesal
"iih udah deh ka, kenapa telepon Re??!"
"Kamu ke apartemen yah, temenin aku disini"
"Ka Rey tidak lagi sakit kan??!"
"Tidak sayang!! sudah sebaiknya cepat kesini, aku merindukanmu"
"Iya deh..Re mau ganti baju dulu baru kesana"
Tut!!Tut!!Tut!!!
"Aaarrggghh!!! bisa-bisanya dia mengundang pacarnya kesini padahal aku masih ada di rumah ini" batin Serena berteriak. Ia lalu pergi meninggalkan Rey karena tidak tahan mendengar suaminya itu bermesraan dengan kekasihnya
__ADS_1
***
Rey menyusul istrinya ke kamar, ia melihat Serena yang sedang tertidur atau lebih tepatnya pura-pura tidur untuk menghindarinya. Perlahan ia ikut naik ke kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping Serena
"Kamu sudah tidur bee??!" Rey memeluk Serena yang membelakanginya
Serena hanya diam, ia tidak berniat menjawab pertanyaan Rey karena saat ini air matanya tidak bisa ia tahan lagi
"Kamu menangis bee??!" Rey langsung duduk berusaha membalik tubuh Serena supaya menghadap ke arahnya
"huuuaaa..." tangis Serena pecah membuat Rey kebingungan di buatnya
"Kamu kenapa sayang??!"
"aku tau pernikahan kita terpaksa tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengundang perempuan lain kesini" ucap serena di sela isakannya
"sssstttt... aku hanya mengundang adikku kesini bee, memangnya kalau kakak merindukan adiknya tidak boleh??!"
"hiks... mana ada kakak yang berbicara mesra pada adiknya sendiri"
"Apa sekarang kamu cemburu bee??!"
"Tidak!!! jangan harap aku akan cemburu padamu" Serena menyeka air matanya
"Kalau tidak, kenapa kamu sampai melarang aku membawa perempuan ke rumah ini??!"
"iiiihhh...terserah padamu saja, mau membawa sepuluh atau seratus perempuan kesini aku tidak peduli toh ini rumahmu" Serena kembali membelakangi Rey yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung akan sifat Serena yang mudah berubah
"Tadi menangis tapi kenapa sekarang malah marah sih bee??!"
"Sudah sana temui kekasihmu, aku mau tidur jadi jangan menggangguku"
"Ayolah bee, jangan seperti ini"
"Temui dia, kasian sudah jauh-jauh kesini hanya untuk bertemu kekasihnya yang tampan ini" sarkas Serena kemudian menutup telinganya dengan bantal
"Maafkan aku bee, dia itu Rebecca adikku" Rey menarik bantal yang menutup telinga Serena namun Serena menahan supaya bantal itu tidak terlepas dari tangannya hingga tarik menarik bantal pun terjadi
Brakk!!
"Kakakku sayang...aku data...ng"
__ADS_1