PresdiR KeciL

PresdiR KeciL
Eps 72 (target)


__ADS_3

Serena telah di pindahkan ke kamar VVIP yang berada di rumah sakit itu sedangkan Rey dengan setia mendampinginya yang hingga saat ini masih belum sadarkan diri


Saat masih di ruang gawat darurat tadi, dokter yang menangani Serena mengatakan kalau pendarahan berhasil di hentikan namun Serena harus istirahat total sampai nanti hari kelahiran tiba.


Dokter tersebut juga mengatakan kalau Serena harus menghindari stres dan tekanan karena dampaknya sangat buruk untuk kehamilannya. Tak lupa juga dokter mengingatkan bahwa keselamatan Serena kali ini merupakan keajaiban sedangkan keajaiban terkadang tidak terjadi untuk kedua kalinya membuat Rey semakin overprotektif padanya


"Akh... kepalaku sakit" erang Serena


"Akhirnya kamu sadar juga bee!!" Rey merengkuh tubuh Serena dalam pelukannya namun seketika ia terkejut karena Serena justru mendorong tubuhnya menjauh


"Pergi!!"


"Kamu kenapa bee?!"


"Aku bilang pergi!!"


"Aku salah apa bee?!"


"Aku benci denganmu mas, pergi!!"


"Tapi bee.."


Tangis Serena pecah, melihat Rey seakan mengingatkannya​ akan kejadian yang siang tadi ia alami. Meskipun ia sudah menduga akan mendapat penolakan dari kedua mertuanya namun ia juga tidak habis pikir akan ucapan mereka yang terlalu memandang rendah dirinya


"Akh..." perut Serena kembali terasa keram. Melihat istrinya yang merintih sambil memegang perutnya membuat Rey dengan segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Serena


Dokter yang datang langsung menyuntikkan pereda nyeri pada Serena lalu memintanya untuk beristirahat


"Maaf tuan, sebenarnya apa yang terjadi sehingga istri anda mengalami keram perut lagi?!"


Rey yang juga kebingungan akhirnya menceritakan yang terjadi saat istrinya itu sudah sadar dan dokter hanya bisa menghela nafas saat mengetahui penyebabnya

__ADS_1


"Sebaiknya untuk saat ini anda tidak bertemu dulu dengan istri anda karena ia akan kembali mengalami hal serupa kalau sampai ia melihat anda"


"Omong kosong dokter!! mana ada istri yang tidak suka melihat suaminya sendiri"


"Tapi saya sarankan yang terbaik untuk istri anda"


"Tidak dokter, saya akan tetap disini menemaninya"


"Terserah kalau anda bersikeras, tapi saya tidak mau bertanggung jawab kalau sampai istri anda mengalami hal yang lebih buruk lagi"


"Breng***!! berani kau mengancam seorang Rey Alderald Rainer yang bahkan bisa membeli rumah sakit ini, hah!!" Rey menarik kerah baju dokter yang memeriksa istrinya, meskipun dokter itu seorang perempuan tapi Rey tidak peduli karena apa yang menurutnya benar maka semua orang harus ikut dengan pemikirannya


Dokter tersebut hanya tersenyum sinis, ia bukan tidak takut kepada Rey hanya saja ia sudah merasa lelah seharian ini harus bertemu dengan orang yang sangat menyusahkan sepertinya


"Apa yang kau lakukan Rey?! lepaskan tanganmu itu" Mei yang baru saja tiba disana di kejutkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan


"Aku mau kau yang menangani Serena dan katakan pada perempuan itu untuk lebih berhati-hati dalam berbicara" ucap Rey dingin seraya berlalu dari hadapan dokter tersebut


"Aku mohon maaf atas perlakuan kasarnya padamu, dia memang orang yang pemarah" Mei menggantikan Rey memohon maaf karena ia tau pasti kalau Rey lah yang salah meskipun ia tidak tau apa permasalahannya


"Terima kasih atas bantuannya dok, biar pasien Serena menjadi tanggung jawabku sekarang"


"Tak perlu sungkan dok, selama ini juga dokter sudah banyak membantu saya. oh ya dok, saya harap suami pasien tidak bertemu dulu dengan pasien karena tadi sewaktu pasien sadar dan melihat suaminya justru membuat pasien jadi tertekan sehingga perutnya sempat keram lagi"


"Baik dok biar nanti saya coba bicara dengan suami pasien. sekali lagi terima kasih"


"Kalau begitu saya permisi"


Mei melangkah mendekati Rey yang sedang menggenggam tangan serena, ia yang sempat terkejut saat mendapat telepon mendadak dari asisten Rey perihal Serena langsung memutuskan kembali setelah kerjaannya di luar kota selesai bahkan selepas turun dari pesawat ia langsung ke rumah sakit karena khawatir dengan keadaan istri sahabat kecilnya itu


"Kendalikan dirimu Rey, tindakanmu tadi bisa menyulitkan keberadaan ku disini"

__ADS_1


"Kau tidak mengerti Mei, perempuan itu seenaknya mengatakan aku tidak boleh bertemu dengan istriku sendiri sedangkan saat ini kau tau sendiri bagaimana khawatirnya aku pada Serena"


"Aku mengerti Rey hanya saja dalam hidup ada hal yang harus kita lakukan demi kebaikan orang lain sekalipun hal itu bertentangan dengan hati kita"


Rey hanya terdiam, di dalam hati ia membenarkan semua yang Mei katakan namun tabiat Rey yang keras dan selalu ingin menang sendiri terkadang masih lebih berkuasa daripada akal sehatnya


"Kau harus memberikan ruang pada Serena untuk bisa menerima semua hal yang terjadi. karena kalau kau terus memaksanya untuk mengikuti keinginanmu ataupun sekedar mendengar penjelasanmu berarti sama saja kau ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anakmu"


"Aku yang sudah membuat Serena menderita seperti ini Mei. Aku hanya berharap kehadiranku bisa membantunya melewati semua ini tapi ternyata ia malah membenciku"


Mei menatap raut kesedihan dari wajah Rey, sungguh seorang gadis biasa seperti Serena bisa membuat pria dengan ego yang tinggi itu melunak bahkan tanpa malu memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain


"Sabar Rey, mungkin dengan cara ini kau bisa menunjukkan pada dunia seberapa besar cintamu pada Serena. Dan Berhubung sudah malam, sebaiknya kau istirahat yah setidaknya berjuang juga butuh tenaga"


Mei menepuk pundak Rey menguatkan, kemudian berlalu dari kamar rawat Serena meninggalkan Rey sendiri dengan sejuta pemikirannya


***


Di salah satu bangunan di sekitar rumah sakit, ada seseorang berpakaian hitam sedang mengamati seorang pasien yang sedang di rawat, ia sudah ada disana sejak pasien itu di pindahkan dari ruang gawat darurat dan saat ini ia sedang menghubungi seseorang yang memberinya perintah


"Target saat ini sedang di rawat di rumah sakit bos"


"Bagaimana kondisi disana saat ini?!"


"Melihat kondisi saat ini, di sekitar ruangan rawat target hanya terdapat dua orang perawat yang berjaga sedangkan target saat ini di temani oleh suaminya"


"Terus awasi perkembangannya, laporkan segera kalau kau menemukan celah untuk bisa menghabisi perempuan itu"


"Baik bos"


Tut!!Tut!!

__ADS_1


Pria itu menyeringai setelah mendengar laporan anak buahnya, sepertinya pekerjaannya kali ini akan sangat mudah di lakukan mengingat targetnya tidak memiliki penjagaan seperti yang semula ia perkirakan


"Tidak lama lagi perempuan itu akan segera menemui ajalnya sayang" bisik pria tersebut di telinga kekasihnya yang saat ini sedang bermain dengan miliknya yang telah mengeras(


__ADS_2