
Meskipun ia tidak bisa kemana-mana setidaknya Serena bersyukur karena ia tidak harus berlama-lama menatap wajah tampan yang mengesalkan milik pria itu.
Semenjak ia tinggal disana, rumah itu sama sekali tidak kedatangan pelayan yang biasa bertugas membersihkan rumah tersebut. Merasa bertanggung jawab, Serena pun mengambil alih tugas itu karena berpikiran kalau pria kasar itu juga tidak akan tau
Serena melirik jam di dinding, seharusnya pria kasar itu sudah pulang karena ia tau ini sudah waktu istirahat siang untuk pekerja kantoran.
"hah!! apa pria bodoh itu tidak tau kalau perutku sudah sangat lapar!!" Serena mengutuk kebodohannya yang tidak meminta ponselnya di kembalikan, setidaknya kalau benda pipih itu ada ia bisa menghubungi pria kasar itu dan menyuruhnya segera pulang membawa makanan
Setelah menunggu beberapa saat namun yang di tunggu juga tidak datang-datang akhirnya Serena tertidur karena kelelahan
Sementara di kantor Rey, Sudah satu jam rapat dengan perusahaan A di lakukan namun belum ada tanda-tanda akan selesai. Sedari tadi Rey sudah gelisah, ia sibuk melirik jam di pergelangan tangannya. Hal itu juga tertangkap oleh mata Indra yang juga ikut hadir dalam rapat tersebut menemani bosnya itu
"sial!! kapan rapat membosankan ini akan selesai!!" batin Rey yang sudah mengkhawatirkan Serena yang ia tinggal sendirian di rumah
Rey juga sempat mengecek hpnya yang sudah tersambung dengan CCTV di apartemen miliknya, rahangnya mengeras saat melihat Serena yang tidak mengikuti perintahnya untuk beristirahat justru sedang sibuk membenahi rumah itu
"Bagaimana tuan Rey, apakah anda berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan kami?!" ucap Tuan Ben yang merupakan direktur perusahaan tersebut
Indra menyenggol lengan bosnya itu yang sedang sibuk dengan lamunannya
"ah..ya..ya..saya tertarik dengan kerja sama yang anda tawarkan"
"Saya senang mendengarnya, kalau begitu kapan kita akan menandatangani kontrak kerja sama itu tuan Rey"
"Untuk urusan itu bisa anda atur waktunya dengan asisten saya. Hmm tapi maaf sebelumnya, mungkin saya tidak bisa ikut rapat ini sampai selesai karena saya ada urusan penting, tidak apa kalau saya permisi tuan Ben?!"
"Silahkan tuan Rey, sepertinya urusan anda sangat mendesak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih"
Setelah berjabat tangan tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Indra, Rey langsung menuju mobil miliknya dan langsung mengemudikannya dengan kencang menuju ke rumahnya
***
Setelah satu jam perjalanan akhirnya Rey tiba di rumahnya, dengan hati-hati ia memasuki rumahnya tersebut karena takut melihat ekspresi marah Serena padanya. Bagaimana tidak gadis itu belum memakan apa-apa sedangkan ia mengunci gadis itu di dalam rumah sendirian
__ADS_1
Wajah Rey mengiba begitu menemukan Serena yang sedang tertidur di sofa. Ia memandangi wajah cantik Serena yang sedang tertidur, entah mengapa sejak kedatangan Serena di rumahnya ia selalu ingin menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandangi wajah cantik itu
Rey mengusap lembut wajah Serena yang tertidur hingga membuat Serena terbangun karenanya
"Kau sudah pulang?!"
"Maaf sayang, tadi ada rapat yang tidak bisa di tinggalkan"
"Lapar" Serena tidak lagi ingin mendengar alasan apapun dari pria itu, perutnya yang keroncongan lebih penting dari sekedar penjelasan yang tidak penting itu
"Ya..ayo kita makan. aku sudah membawa makanan yang enak untukmu" ajak Rey dengan senyum yang terkembang melihat wajah memelas Serena
Rey menghidangkan makanan yang ia bawa di atas meja, Serena yang sudah tidak bisa menahan liurnya yang hendak menetes langsung menyantap makanan itu tanpa menunggu pria itu duduk terlebih dahulu
"Hey pelan-pelan saja makannya nanti kau tersedak"
"Salah siapa membuatku sampai kelaparan begini" ucap serena kesal dengan mulut yang penuh dengan makanan
"Ya itu memang salahku sayang, tapi aku kan sudah minta maaf" Rey memasang tampang memohon, mungkin kalau Serena baru mengenal pria itu melihatnya memasang wajah seperti itu akan membuatnya jatuh cinta tapi karena sedikitnya ia sudah tau watak pria di hadapannya itu membuatnya menggeram kesal
"Kamu cantik kalau lagi makan"
"Jangan menggombal, aku tidak makan rayuan"
"Tapi kenapa wajahmu memerah sayang?! apa karena kau menyukai rayuanku?!"
"Cepat makan sebelum makanan ini aku habiskan"
"Habiskan saja sayang, semua ini memang buat kamu"
Capek berdebat Serena tidak memperdulikan lagi kelakuan Rey padanya, ia sedang fokus memperburuk citranya di depan pria itu sekiranya pria itu akan jijik melihatnya dan mulai memikirkan ulang rencananya untuk menahan Serena disana
***
__ADS_1
"Apa kau akan kembali bekerja?!" tanya Serena yang melihat Rey sudah bersiap akan pergi
"Tentu saja sayang, kecuali kau yang memintaku untuk tetap disini maka aku tidak akan pergi"
"Tidak perlu, kau sebaiknya kembali bekerja"
"Apa kau mengusirku bee?!"
"Bee?!"
"Yah bee itu panggilan sayangku untukmu"
"hhh.. terserah anda saja tuan"
"Kalau begitu aku ke kantor dulu ya bee"
"Hmm.. tunggu.. apa-apa boleh aku meminta ponselku?!"
"Ponsel?!"
"Ya ponsel milikku, mungkin kau yang menyimpannya. Aku bosan disini, setidaknya kalau ada ponsel itu aku ada sedikit hiburan"
"Ponselmu tidak ada padaku, lagipula kau sama sekali tidak butuh itu"
"Aku lebih membutuhkan ponsel itu dari pada kamu!!" teriak Serena sambil menunjuk muka Rey yang sedang berdiri di hadapannya
"Jangan memancing emosiku Serena, atau kau akan menerima akibatnya"
"Lakukan saja apa yang ingin kau perbuat padaku, aku tidak takut"
Merasa di remehkan, Rey menarik pinggang Serena hingga bibir keduanya bertemu. Ia mencium Serena hingga membuat gadis itu sesak karena kekurangan oksigen
Makin Serena memberontak makin intens juga ciuman yang di berikan Rey padanya.
__ADS_1
"Bila kau mulai memancing emosiku lagi, jangan salahkan kalau aku akan melakukan yang lebih dari ini" bisik Rey di telinga Serena kemudian berlalu dari hadapan gadis itu yang sedang mengusap bibirnya yang seakan bengkak karena ulah Rey