
Wajah kedua nya nampak bingung ingin melakukan apa, jika menunggu lebih lama dikhawatirkan kondisi tubuh boji akan memburuk, apalagi angin malam yang dingin menerpa kulit boji yang sudah keriput dan pucat akibat terendam air begitu lama.
Bong dengan cepat melucutin lapisan baju pertama nya dan menyelimuti tubuh boji menggunakan baju tersebut.
Dengan sisa - sisa energi yang dimiliki kristal, dia mengeluarkan elemen api lewat jari nya dan membakar tumpukan tumpukan dedaun kering.
"Ini tak baik, cepat temukan yang lain nya agar boji bisa segera dibawa ketempat yang nyaman. tubuh nya begitu lemah, ditakut kan jika dia tidak bisa bertahan lama lagi."
Kristal menyeringit, bibir nya berdecis. tak hanya boji saja yang merasakan rasa sakit, akan tetapi kristal mencoba menahan sakit luka dalam yang ia alami.
Bong paham dan kemudian setuju meninggal kan mereka berdua, mencari yang lain nya. walau agak ragu, tapi dia tetap melangkah dan menjauh.
Bola mata hijau, kristal, tergambar jelas bahu bong yang sudah mulai menjauh. dia menunduk kembali dan melihat wajah teduh adik nya, boji...
Tangan nya tergerak memurus rambut boji. seulas senyuman muncul.
"Kau sama percis seperti adik sepupu ku, helen. walau dia perempuan, tapi kalian terlihat mirip. andai saja mereka ada disini sekarang, mungkin hidup ku akan lengkap."
Bisik kristal. senyum manis tergambar jelas di bibir manis nya. helaan nafas terdengar hangat menerpa pendengaran.
"Kau harus bertahan, jika tidak,, aku akan marah pada mu. dan aku tidak ingin menjadi kakak mu."
Ucap nya kembali, dibenak nya dia teringat saat pertama kali mereka bertemu. disaat boji menawar kan keluarga nya agar diantar ke tempat istana sutong, pandangan polos yang boji miliki membuat kristal sempat merasa tertarik. namun entah kemana, boji malah menghilang begitu saja.
Dan pada pertemuan kedua, boji nampak terselungkup menahan rasa sakit akibat dipukuli oleh pemilik kedai roti. dia mencoba mempertahan kan sepotong roti dan rela dipukuli hingga babak belur.
Kristal marah melihat nya, apa lagi saat boji menatap mata kristal dengan sendu. membuat kristal tersentuh dan ingin mengangkat boji menjadi adik nya.
Hal itu membuat nya menghangat, apa bila mengingat kembali.
Tak lama berlalu, terlihat sejumlah orang dengan lentera sedang mendekat. suara teriakan, hong, terdengar nyaring memanggil nama kedua adik nya.
Kristal lega, karena tak butuh waktu lama dia menunggu dan bisa membawa boji ketempat yang lebih nyaman nanti nya.
Dercakan api berbunyi dan bayang bayangan api menerpa wajah kristal. senyuman lega dia lontar kan pada ketiga kakak nya yang sedang menatap sendu kearah, kristal.
***
Singkat cerita, ...
Pagi, masih berada disekolah sihir...
saat matahari baru saja naik kepermukaan langit menggantikan sang rembulan.
Kristal sedang berjaga di bawah ranjang boji, yang sedang tertidur belum sadar kan diri.
__ADS_1
Mata nya perlahan terbuka, lalu menguap. mata nya tertuju kearah boji yang masih belum sadar kan diri.
"Pagi, bagaimana keadaan mu?."
Sapa kristal, mengawali pagi dengan senyuman manis. tangan nya bergerak ingin menyapa lembut kulit sang adik.
"Tidur lah sepuas nya, dan bangun jika ingin. kakak tidak memaksa, kau agar cepat cepat bangun dan membuka mata kembali."
Lirih kristal membaringkan kepala nya ke ranjang yang ditiduri oleh, boji. dalam hitungan detik terdengar suara langkah kaki mendekat.
Kristal melirik lewat ujung mata nya, dia tau benar jika itu bukan lah ketiga kakak nya. karena ketiga kakak nya diharus kan pergi dan mengurus hal yang terlupakan yang seharus nya tak boleh dilupakan apalagi disepelekan.
Pandangan malas dia lontar kan kepada sosok guru dan sejumlah tetua yang turut hadir disana. tak lupa pula mereka datang bersama sejumlah tabib dan tentu nya pangeran ketiga sebagai murit senior dan asisten ketua....
"Drama apa lagi ini."
Gumam kristal malas, dan membuang muka kearah sang adik. dia berprilaku seolah tak ada orang disana.
Pandangan pangeran ketiga terlihat tak suka dengan tingkah kurang ajar, kristal. dia menganggap jika kristal tak memiliki sopan santun terhadap para guru yang sudah rela datang dan menyampingkan pekerjaan penting mereka.
"Wanita tidak tahu sopan santun, apa ini yang guru bilang penting? lebih baik aku pergi dan mengerjakan pekerjaan ku yang tertunda."
Bisik pangeran ketiga pada ketua, ketua nampak menahan dan menghentikan pangeran ketiga.
"Berhenti, jika kau pergi aku akan menurun kan pangkat mu."
"Memang apa hebat nya dia."
Gumam pelan pangeran ketiga jengkel.
Kristal memandang kembali kearah mereka yang hanya diam. kristal sudah dongkol dan jengah dengan kebodohan dari para manusia penghuni negri sihir ini. tak hanya lemah, tapi mereka memiliki otak yang lamban dan susah berproges
"Kenapa hanya diam? cepat periksa dia."
GLEKK!
Ujar kristal menaikan oktaf suara nya. mata nya memicing marah pada mereka. seperti nya kristal belum melupakan kejadian tadi malam.
Para tabib dan yang lain nya ketar ketir dan kemudian maju mulai memeriksa keadaan lanjut, boji. sementara pangeran ketiga, masih saja mendumel dan tak suka dengan sikap arogan yang dimiliki kristal
"Apa apaan, dia sangat arogant. dia jauh dari kata (wanita idaman) ku."
Batin pangeran ketiga tidak suka dan memandang sinis punggung kristal.
Heyy, tunggu dulu. siapa yang ingin jadi wanita mu? sialan....
__ADS_1
Dengan ragu, ketua mencoba untuk berbicara. mata nya sedikit menyipit dengan tangan terus saja memegangi kerah baju nya.
"Bagaimana dengan keadaan mu? apakah baik - baik saja?"
Tanya ketua dengan gelagat orang yang baru saja ketahuan mencuri. kristal bingung melihat nya, dia menghela nafas dan sedikit membuka diri nya.
"Pada inti nya saja, apa yang kau ingin kan?"
Singkat kristal, yang lain nya melotot tak percaya. bagaimana ketua yang agung ini bisa diperlakukan tidak sopan seperti itu?
Seperti nya mereka terlalu membiarkan gadis kecil ini sehingga melewati batasan yang seharus nya tak dilalui.
Pangeran ketiga maju selangkah dan ingin menyerang kristal menggunakan ilmu sihir nya.
Namun disayang kan, hati nya harus patah saat menyaksikan sihir nya ditepis oleh kristal bak seperti sebuah bulu yang melayang.
GLEKK!!
Dia menelan saliva nya kasar, dan melihat tangan yang baru saja mengeluarkan sihir untuk menyerang gadis kecil didepan nya.
"Bagaimana, i-ini meleset? dia menangkis nya?"
Para tetua mau pun ketua panik melihat prilaku dari pangeran ketiga. namun pangeran ketiga masih saja bandel dan menyerang kristal.
"Mófǎ."
Teriak nya mengeluarkan sihir andalan nya, yaitu sihir titik mati.
Namun lagi dan lagi. dia harus rela dan tabah melihat serangan nya bahkan tak ber'efek apa pun terhadap kristal.
Para ketua lega, karena sihir tersebut sama sekali tak ber'efek apa pun terhadap kristal. jika tidak, maka mereka akan mendapatkan banyak kesulitan lain nya.
"Sudah cukup, kau adalah murit senior disini. bersikap lah dewasa."
Tegas tetua satu, sedang kan ketua hanya diam menyaksikan sikap kekanak kanakan murit nya itu.
"Bersikap lah dewasa, kau adalah seorang pangeran. untung saja sihir mu tak mengenai adik ku, atau tidak kau akan kehilangan semangat hidup mu."
Ancam kristal tajam, namun pandangan nya masih setia tertuju pada sang adik yang masih di periksa oleh para tabib.
"Bagaimana dia tahu identitas ku? siapa dia sebenarnya"
Batin pangeran yang kali ini benar - benar bingung. siapa gadis mungil didepan nya ini? apakah dia seorang peramal
"Rencana yang jauh dari perkiraan ku, aku berpikir jika mempertemukan mereka, gadis ini akan jatuh cinta pada pangeran dan setuju menjadi murit ku. tapi malah sebalik nya."
__ADS_1
.......
Bersambung..