PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
MENGINAPLAH, TERLANJUR AKU LAGI BAIK


__ADS_3

"Ah begitu, aku ingin ikut. Lihat saja aku akan kalah kan pria itu." Ucap Kristal menunjuk pria yang ada pada panggung sambil menyinsing lengan baju nya.


Dia maju dengan percaya diri, dua pria dibelakang nya bertepuk tangan dengan senyum bodoh mereka.


Namun tiba-tiba, "Hey kenapa kalian memegang__" Kalimat nya terhenti saat melihat siapa orang yang memegang tangan nya segingga langkah nya terhenti dengan terpaksa.


"Gu-guru." Gumam Kristal melihat jika orang itu adalah guru Tauxing, "Apa yang akan kau lakukan?" Tanya nya memicing.


"Ah Tidak-tidak, aku hanya ingin menonton." Ucap Kristal sambil tertawa dan mencari berbagai alasan.


Guru Tauxing menggelengkan kepala melihat tingkah calon murit nya ini, "Tidak bisa, ayo kita harus pergi sekarang." Ucap nya menyeret tangan kristal. "Ah tapi.. tapi mau kemana guru?" Tanya Kristal gagu tidak mengerti.


"Kita akan pulang ke kekaisaran Xitang menuju perguruan Tauxing," Jawan Guru Tauxing masih memegang tangan Kristal.


Kristal membesarkan kedua mata nya, dia berusaha melepas tangan nya dari genggaman guru Tauxing.


"Tidak mau! aku belum pamit dengan keluarga ku, apakah kau tidak bisa menginap dulu?" Bantah Kristal.


Guru Tauxing menghela napas, dia melihat Kristal penuh arti. "Sejak awal semua orang sudah mengatakan jika perguruan Tauxing sangat miskin, guru tidak punya biaya untuk lebih lama berada disini, untuk menyewa kamar saja tidak mampu. Lebih baik kita mulai perjalanan nya." Ucap guru Tauxing.


Kristal hanya bisa terdiam, dia menunduk lalu bicara, "tidak masalah, kau bisa menginap di kediaman keluarga ku. Keluarga ku sangat baik, mereka akan menyambut mu dengan senang hati." Ujar Kristal lembut tersenyum dengan manis.


"Ta-tapi... aku bahkan tidak enak dengan keluarga mu. Apa yang akan aku katakan jika ternyata anak nya memilih perguruan yang bahkan tidak bisa membeli selimut untuk para murit?" Ucap guru tauxing serau sambil menunduk.


Kristal sangat kagum dengan kepribadian guru Tauxing, dia adalah seorang master di perguruan nya namun dia begitu rendah hati. Pria paruh baya ini sangat berbeda dari guru-guru yang lainnya.


"Aihh jangan berpikir seperti itu, mereka tidak seperti yang kau bayangkan. Ayo kita pergi ke kediaman keluarga ku, jangan sungkan seperti itu." Ucap Kristal lalu menyeret tangan guru tauxing untuk ikut bersama nya.

__ADS_1


Guru tauxing ikut dengan patuh, baru kali ini dia dekat dengan seorang murit apa lagi ini adalah murit baru. Semua murit yang ada di perguruan tauxing hampir 80% laki-laki, sementara sisa nya adalah perempuan.


Namun baru kali ini ada murit yang bahkan bisa bergandengan tangan dengan nya, terlihat seperti ayah dan anak.


Kristal menuju pada tribun lempar belati, disana ada Hong dan Long yang sedang berjuang untuk ikut demi mendapat kan hadiah kesukaan Hong, awal nya Long tidak ingin mengikuti acara tersebut namun Hong memaksa diri nya. Jika Hong kalah setidak nya ada Long yang pandai bermain belatipasti akan menang dan jika dia menang mereka berdua bisa mendapat kan hadiah yang sedang di incar oleh Hong.


Babak sudah menuju akhir, Hong melempar belati terakhir milik nya dan.... yup! belati itu mendarat sempurna pada bidik target.


Hong bersorak bahagia, "Huuuuu kakak kau sangat hebat." Teriak nya bahagia lalu berlari pada panitia yang sedang memegang hadiah berupa potongan belati yang legendaris, Hong senang mengoleksi barang semacam itu.


Tapi panitia menghalangi, "Maaf anak muda namun hadiah ini bukan milik mu." Tegur panitia.


Long datang pada mereka berdua, "Tidak masalah berikan saja, dia adikku dan aku mengikuti lomba ini karena dia, jadi hadiah ini adalah milik nya." Ucap Long, Hong tersenyum lalu merampas hadiah itu dari tangan sang panitia.


"Terimakasih kak," Ucap nya bahagia. Long hanya tersenyum pasrah karena kelakuan adik nya ini.


"adik lihat lah ini hadiah yang dimenang kan kakak Long, bagus kan?" Tak lengah lagi Hong segera memamerkan hadiah nya itu


"Wah bagus." Puji Kristal tersenyum pepsoden, "Kakak perkenalkan ini adalah guru ku." Ucap Kristal lagi, Hong dan Long melihat pada guru Tauxing mereka menunduk dengan sopan pada calon guru adik mereka ini.


"Salam," Ucap mereka serempak begitu rendah hati. Guru tauxing terlihat gelagapan, dia tidak menyangka jika reaksi yang akan dikeluarkan oleh kakak Kristal akan seperti ini.


"Sa-salam untuk mu juga," Ucap nya.


"Kakak, guru akan menginap di kediaman kita jadi apakah kalian tidak keberatan?" Tanya Kristal. "Tidak masalah, kami senang jika master menginap di kediaman kami." Jawab Long tersenyum.


Guru tauxing melihat pada Kristal, Kristal tersenyum menanggapi. "Benar bukan.. guru jangan sungkan." Ucap Kristal lagi.

__ADS_1


"Baiklah sekarang ayo kita cari Bong dan Boji, hari sudah larut." Ajak Long, lalu mereka pergi dari sana.


Perasaan guru tauxing benar-benar tidak bisa diutarakan, dia sangat senang mendapat kan murit seperti Kristal. Awal nya dia tidak ingin memiliki seorang murit karena dia adalah seorang master, pengurus perguruan Tauxing. Namun pemikiran nya berubah saat bertemu dengan Kristal, dia ingin menjadikan Kristal murit nya. Jika bisa lebih dari itu juga boleh, seperti seorang anak misal nya.


Mereka benar-benar orang yang baik, seorang bangsawan tapi masih tetap rendah hati. Aku beruntung mendapatkan murit seperti diri nya, tapi aku juga malu karena perguruan kami sangat miskin lalu apa yang bisa aku berikan pada nya selain penderitaan.


Guru tauxing selalu berperang dengan pikiran nya, dia delema apakah akan tetap memilih Kristal sebagai murit atau tidak.


***


Diarena pedang terlihat pria yang menantang Bong kini sedang terkapar tidak berdaya, pedang nya terbelah menjadi dua. Bong dengan sigap membersihkan sisa darah dari pedang nya menggunakan baju pria yang terkapar itu, dia menyobek nya tanpa ijin.


"Hanya ini permintaan ku jika kau kalah, sekarang aku menang jadi jangan sombong lagi! sangat memalukan!" Sinis Bong pada pria yang hendak akan diangkut oleh tim kesehatan tabib istana.


"Si-sialan kau! ak-aku akan membalas mu!"Lirih pria itu penuh akan dendam yang membara, namun dia tidak sadar dengan kondisi nya saat ini dan masih saja berprilaku sombong.


"Aku menunggu nya, sembuhkan dulu diri mu." Jawab Bong menanggapi namun tetap dengan pandangan pada pedang milik nya.


"Huh seharusnya aku tidak menggunakan pedang ini, kasihan dia sudah tercemar oleh darah kotor."Gumam Bong jengkel.


Dia kembali memasukan pedang pada sarung nya, lalu melihat panitia yang tak henti membuka lebar mulut nya.


"Tutup mulut mu,"Suruh Bong.


Bukan hanya panitia namun para penonton menganga tidak percaya melihat aksi tarung pedang Bong, mereka melihat Bong dengan Takjub disusul dengan tepukan tangan yang meriah.


Bong tersenyum miring, dia begitu percaya diri."Ya aku tau aku hebat, tidak perlu sungkan bertepuk tangan lah yang lebih keras." Ucap nya tersenyum seperti orang yang menyebal kan!

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG^^^


__ADS_2