
"Bagaimana? apakah kondisi nya baik - baik saja?."
Tanya kristal. para tabib menyelesaikan pekerjaan nya dan kemudian menjawab.
"Adik mu mengalami demam tinggi, dimungkin kan jika dia tidak akan sadar selama lima hari. tapi kau tenang saja, dia akan baik baik saja setelah lima hari itu berlalu."
Jelas mereka. kristal mengerti dan kemudian meminta resep obat yang di perlukan, boji. mereka memberi nya dan kemudian tanpa berlama - lama, mereka pergi dari sana.
Ketujuh orang tadi dengan setia berada disana. pangeran ketiga terlihat sangat kesal dan duduk dengan wajah masam nya.
Kristal berdiri, dan kemudian melihat ketua. sebelum ingin berbicara, kristal melirik yang lain nya lalu berkata
"Aku tidak akan tinggal disini begitu lama, aku akan membawa adik ku pulang kerumah. jadi apakah kau bisa menyiap kan kereta untuk kami?"
Tanya kristal, mereka saling pandang dengan raut wajah yang sangat enggan. lalu mereka memberanikan diri untuk bertanya.
"Mengapa terburu - buru? kau bisa tinggal disini sampai kondisi adik mu benar - benar pulih. lagi pula dia adalah murit disini, dan sudah tugas kami untuk mengobati diri nya."
Mereka meminta agar kristal tetap tinggal disana, namun pangeran ketiga dengan sombong berdiri, lalu berkata.
"Silah kan, tidak ada yang melarang mu untuk pergi dari sini. lagi pula, dengan berlama - lama berada disini,, kau akan menyusah kan pihak sekolah."
Ketus pangeran ketiga, raut wajah datar itu di arah kan pada kristal yang sedang memperhatikan diri nya dengan santai.
"Kenapa dia? seperti nya memiliki dendam dengan diriku?."
Batin kristal bingung, perlahan dia menarik nafas lalu membuang nya.
Para tetua menegur sikap pangeran ketiga. namun pangeran ketiga tak ingin mendengar dan terus saja mendumel tidak jelas.
"Boji akan berhenti bersekolah,"
Putus kristal membuat para tetua maupun ketua membola, bagaimana kristal bisa memutus kan pendidikan boji sesingkat ini?
Boji baru saja bersekolah satu hari disana, dan sekarang dia berhenti begitu saja? itu sangat jelas membuat para tetua agak ragu. apalagi mereka sangat mengharap kan kristal agar bergabung bersama mereka disekolah sihir, namun apa boleh buat? ini sudah menjadi keputusan kristal dan mereka tak berhak melarang nya.
"T-tapi, mengapa?"
Tanya lirih ketua menunduk dengan suara serak nya. oh astaga, disaat seperti itu kristal merasa tidak tega. dia melihat sosok kakek nya pada sang ketua, namun apa boleh buat?
Adik nya hampir mati dibuat oleh kelalaian mereka. kristal tak akan mengambil resiko lebih jauh lagi.
"Kita semua sudah tahu bukan? ini sangat jelas, dan tak perlu ditanyakan lagi penyebab nya."
Kristal membelakangi mereka, pandangan nya jatuh pada boji. tangan nya mengenggam dan kemudian kembali melihat kearah ketua
"Jangan halangi aku, atau tidak hubungan baik ini akan benar benar hancur......
__ADS_1
"........."
...****************...
Semua murid sedang mengintip dari balik jendela asrama. sedang kan ketua maupun para tetua sedang menghantar kepergian kristal dan boji.
Hey ini tidak lah jauh, untuk apa sampai repot repot menghantar seperti ini?
Boji sedang di papah masuk kedalam kereta dengan ukuran besar yang sudah dipinjam kan oleh ketua. kristal berdiri dan tanpa berlama lama dia menunduk hormat dan masuk kedalam kereta..
Dari kejauhan, pangeran ketiga sedang duduk di pohon persik besar,, memperhatikan kereta yang sudah mulai berjalan...
Wajah nya datar dan tangan yang terus saja memain kan sihir dengan melayang kan selembar daun hijau.
"Apa hebat nya gadis itu? dia sangat arogan dan berhati busuk. untuk apa mereka sampai menghormati nya begitu?"
Ketus pangeran ketiga tidak suka, sudah jelas jelas dia iri terhadap kristal. namun dia masih saja menutupi keirian hati nya dan terus mengumpat kristal
HASYUHHHH
"Hah siapa yang memaki ku, hidung ku gatal sekali."
"...."
Saat perjalanan berlangsung, kristal sedang memangku kepala adik nya yang sedang tertidur. dia mengelus rambut boji dan memain kan alis mata boji.
Kristal memeluk tubuh adik nya, lalu meletakan kepala boji dengan perlahan kebawah.
Dia mengeluarkan kepala nya dan melihat dua orang pria berbadan besar sedang mencegat mereka.
"Sial!! apa mau mereka, hampir saja kami celaka."
Umpat kristal jengkel dan kemudian turun dari kereta.
"Oh ini gadis sialan yang sudah membuat tuan muda kami di usir dari sekolah sihir? sangat tidak tahu malu!."
Maki nya pada kristal, kristal membola dan kemudian membantin
"Matilah, badan mereka sangat kekar. aku sampai merinding melihat nya."
Batin kristal bingung ingin berbuat apa lagi, namun sebuah ide timbul di pikiran nya. dengan perlahan dia berprilaku lemah lembut polos yang tak mengetahui apa pun.
"A-apa yang tuan maksud? aku benar benar tak mengerti. aku sangat lah lemah, jadi bagaimana aku bisa mengusir seorang tuan muda dari sekolah sihir?"
Ujar kristal dengan nada dibuat takut dan bergetar ingin menangis. kedua orang itu memicing dan melihat prilaku dari kristal, mereka saling pandang dengan raut wajah yang sama bingung nya
"Heheh, aku adalah atris berbakat."
__ADS_1
"Tidak mungkin kami salah orang, kereta mu sama percis dengan milik sekolah sihir."
Mereka masih tak percaya, kristal berdecis dan berpikir kata kata apa lagi yang akan dia lontar kan.
"Kereta ini adalah pemberian kakek ku. kakek ku adalah salah satu tetua di sekolah itu, pe-percaya lah,, aku benar benar tak mengerti perkataan mu."
Lagi dan lagi kristal membuat drama dan meraih ujung juntaian tali panjang baju nya dan kemudian mengelap mata nya seolah baru saja menyeka buliran air mata
"Tak seharus nya kalian merunding gadis kecil seperti ku. aku begitu lemah dan tak berdaya."
Ujar kristal lemah dan tak berdaya, dia memegangi kepala nya seolah dia sedang sakit kepala dan hampir ingin tumbang.
Kedua pria itu mengerut dan kemudian berpikir jika mereka sudah salah melabrak orang. dengan cepat mereka menunduk dan meminta maaf.
"Maaf kan kami, kami benar benar tak mengetahui jika kau adalah cucu dari tetua sekolah sihir. kami berpikir jika kau adalah wanita sialan jelek yang sudah membuat tuan muda kami di usir dari sekolah. sekali lagi kami minta maaf."....
"Sialan!! berheti lah memaki ku."
Kristal memekik dalam hati, bagaimana mereka menjelek jelek kan orang disaat orang itu ada didepan mereka. huhh sangat tidak ramah
Kristal tersenyum pepsoden dan kemudian menunduk dengan terus menyeka mata nya yang padahal itu kering tanpa air mata
"Tidak masalah, aku mengerti."
Ujar kristal dengan suara mendayu dayu. kedua pria itu terpana melihat kristal lalu tersadar dan ikut menunduk.
"Kami minta maaf, kalau begitu kami pergi dulu."
Dengan terburu - buru, mereka pergi menahan rasa malu. kristal mengangkat kepala nya dan kemudian tersenyum miring
"Konyol."
.........
Bersambung....
...selamat membaca dan menikmati cerita ini...
...ditunggu ya Chapter berikut nya...
...sehat selalu ~(≧▽≦)/~...
Kristal."selamat tahun baru....... 😚, semoga kita semua sehat dan mendapat kan rejeki melimpah, banyak harapan yang saya nanti kan agar terkabul."
Salam hangat...
~ROSA~
__ADS_1