
"Itu yang ingin kau dengar? Aku sedang serius dan kau selalu mengatakan jika aku jatuh cinta pada mu. Jawab aku, mengapa kau ingin belajar di sebuah perguruan." Ucap Haocun tegas lalu menanyakan pertanyaan sama.
Di-dia tidak serius mencintai ku, syukur lah aku pikir dia, dia cinta.. pada ku
Kristal diam sambil menunduk nampak masih memikirkan ucapan Haocun tadi. Haocun mengintip ke bawah dengan pandangan masih menuntut jawaban.
"Kenapa kau diam? aku sedang bertanya pada mu." Ucap Haocun lagi.
Kristal mengangkat pandangan, dia melihat pada arah Haocun dengan tatapan mengambang. "Mengapa kau ingin tahu alasan nya? Aku rasa cukup orang terdekat saja yang tahu, dan selebih nya tidak perlu." Jawab Kristal lalu membuang wajah ke arah lain.
Haocun tersenyum kecut, dia juga menyadari jika dia hanya orang luar tanpa status apapun di hidup Kristal. Dia menyeka kasar wajah nya lalu memandang Kristal kembali.
"Ya! aku tahu jika aku hanya orang luar. Pergilah, pergi sejauh yang kau mau! kalau perlu tidak usah kembali lagi, kau ingin pergi bukan?" Ucap nya pasrah sambil merentang kan sebelah tangan tanda mempersilah kan Kristal untuk pergi
Ada apa dengan nya, suasana ini sungguh sangat ambigu untuk ku.
"Apa masalah nya? aku hanya akan pergi untuk belajar. Apakah aku memerlukan sebuah ijin dari mu terlebih dahulu? apakah aku perlu sujut sukur terlebih dahulu? Tidak kan?" Kristal berbicara dengan meninggikan nada bicara nya, dia maju satu langkah mendekat pada Haocun, "Dari pertama kali kita bertemu pun, aku sudah tidak menyukai diri mu! kau adalah pria yang arogant!! Aku bahkan sempat berpikir jika kau adalah pria yang sopan, namun aku sadar jika kesopanan itu hanya tipu muslihat mu!" Sambung nya penuh penekanan dan memandang kecewa pada Haocun.
Kenapa? kenapa keadaan menjadi rumit seperti ini. Dari awal, Haocun hanya ingin berbicara dan menanyakan penjelasan Kristal. Namun Kristal memanas dan salah menyangka niat dari nya. Haocun tak berkutik dia diam melihat pada Kristal, setiap kalimat yang terlontar di mulut Kristal membuat nya sadar jika Kristal memang tidak pernah mengharap kan diri nya berada di dekat Kristal.
"Kehadiran ku mengganggu mu? Baiklah, aku berjanji tidak akan pernah muncul dihadapan mu lagi!" Ucap Haocun memelan sambil mengangkat tangan dan menunjukan jari kelingking nya, "Walau secuil kelingking ku pun, aku berjanji kau tidak akan pernah melihat diri ku! Pergilah sejauh yang kau mau, aku tidak perduli." Sambung nya lagi lalu pergi meninggal kan Kristal.
__ADS_1
Bahkan mengucap kan perpisahan pun sangat sulit, sungguh menyebal kan! Haocun mengapa kau begitu pengecut seperti ini!
Dia berjalan tanpa menoleh sedikit pun, Kristal memandang bingun dia benar-benar tidak tahu dengan situasi yang baru saja dia lalui. Dia meraba dada nya, terasa jantung yang berdegup sangat kencang. Dia memukul-mukul dada nya dan beransur-ransur merasakan sesak.
"Aku membenci mu," Kata-kata ini terlontar di bibir nya, dia memicing pada Haocun lalu pergi dari sana menuju pada arah sang kakak pergi.
Langkah sedikit goyah dengan ditaburi kekesalan itu terlihat sangat menggemas kan, namun ekspresi nya saat ini sedang menunjukan ekspresi kesal dan sedih. Rasa itu bercampur menjadi satu, kalut dan gundah.
**
Beralih pada sebuah lapangan yang lumayan luas, di lapangan itu terdapat beberapa perlengkapan memanah. Disana terdapat Linse yang sedang memanah dengan serius, skil memanah nya patut di acungi jempol karena sangat bagus dan tepat sasaran.
Satu persatu anak panah melesat dan tepat mengenai inti target, dia tersenyum begitu puas dan memandang bangga pada hasil panahan nya.
Terdengar suara tepukan tangan dari belakang, Linse menoleh dengan siaga. Disana terdapat Meili yang sedang melontar kan senyuman sinis pada Linse. Linse mengernyit kan kening karena bingung dengan kedatangan Meili ini. Dia sangat tidak menyukai Meili.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Linse datar pada Meili.
"Ck ck ck, Linse-Linse. Aku tidak menyangka jika kau memiliki bakat memanah yang begitu hebat." Puji Meili namun dengan nada mengejek.
"Aku tidak butuh pujian palsu mu itu, enyah dari sini! Jika tidak salah satu dari anak panah ini akan mengenai jantung mu!" Ancam Linse tidak main-main dengan perkataan diri nya.
__ADS_1
"Waww aku sangat takut, mengapa kau mengancam ku?" Ucap Meili bertingkah polos dan tidak tahu apapun, dia sungguh membuat Linse menjadi emosi melihat nya.
"Apa mau mu? Katakan lalu pergi dari sini." Tanya Linse kembali dengan memelan dan mencoba untuk tetap bersabar menghadapi gadis menyebal kan didepan nya.
"Gampang saja, bunuh Kristal untuk ku!" Jawab Meili sinis sambil mengangkat satu alis pada Linse.
"Kau gila! kau tidak memiliki otak, enyahlah sebelum aku membuat wajah busuk mu diketahui oleh pemaisuri!" Linse berbicara dengan nada tinggi, dia memandang tajam kearah meili.
"Hey santai lah... tenang. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan kepala dingin, lagi pula kita memiliki tujuan yang sama. Aku membenci Kristal dan kau juga membenci nya." Ucap Meili, Linse memicing dia berpikir sejenak sampai saat diri nya tersadar kembali. "Aku tidak mau, bunuh saja sendiri. Walau aku membenci nya aku tidak akan mau berbuat hal kotor seperti itu!" Jawab Linse menolak mentah-mentan ajakan Meili.
Dia meletakan busur dan hendak ingin melangkah meninggal kan Meili, namun Meili dengan seribu akal bulus nya itu berbicara kembali dan menghentikan langkah Linse.
"Pangeran ketiga dan wanita murahan itu sudah resmi menjalin hubungan, kau tidak sakit hati mendengar nya? Bukan kah kau telah jatuh cinta pada pangeran ketiga, lalu mengapa kau mau menyerah kan cinta mu itu pada wanita murahan seperti Kristal?" Ucap meili menaikkan oktaf suara nya
Linse berhenti melangkah, dia diam membatu sambil menunduk. Dia pejam kan mata nya, dia genggam pula jari jemari nya. Dengan berat hati dia mengatakan sesuatu pada bibir mungil nya itu.
"Mereka memang pantas untuk menjalin hubungan, lalu apa masalah nya? Berhentilah mengurusi urusan orang, atau tidak wajah busuk mu akan terbongkar dan membuat hidup sempurna mu hancur dalam semalam." Jawab nya walau pun terdapat sedikit getaran di nada suara nya.
Meili meremas jari jemari nya dengan erat, dia mengerat kan gigi dan memandang kesal pada Linse yang sudah mulai menjauh. Dia menendang busur dengan keras sebagai pelampiasan amarah nya, tak henti pula dia montarkan sumpah serapah andalan milik nya itu.
"Brengsek! Mengapa gadis ini sama sekali tidak terpengaruh! Aku pikir dia akan marah saat mendengar kebohongan ini, namun apa yang sedang terjadi! Aku harus mencari rencana lain, tunggu saja wanita sialan aku akan membuat hidup mu menjadi seperti di neraka!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG^^^