
Semuanya tanpa henti berdebat dan mencoba memperebutkan setetes air surgawi tersebut. Sedangkan keempat manusia dari perguruan tauxing itu, sedang duduk menyimak kegaduhan didepan mata mereka.
Tak jarang Kristal menutup telinganya karena bising dari dua orang pria kaya, paruh baya. Dia berdecis sebal dan memicing pada kedua orang kaya, itu.
"Ck! Apakah para anjing-anjing ini tidak tahu aturan." Ucap pelan Kristal dalam mode datarnya, dan hawa sekitar cukup panas dirasa.
Hal itu bisa dirasakan oleh guru Lebin, Tiamo dan Uno. Mereka secara bersamaan melihat kearah Kristal dan kemudian mereka saling bertemu pandang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Guru Lebin.
Kristal melirik dengan ujung matanya, "Tidak apa. Hanya saja, kondisi hati ku sedang buruk sekarang." Jawab Kristal begitu datar. Memijat keningnya yang terasa agak pusing. Entah mengapa, sakit kepala dan suasana hati nya bisa datang dan berubah secara bersamaan.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan mendaftarkan tanaman obat milik kita." Ucap Tiamo menepuk-nepuk punggung Kristal.
Kristal hanya menanggapi dengan senyum tipisnya, dan kemudian dia kembali melihat pada altar yang sudah terdapat salah satu orang kaya yang berhasil mendapatkan air surgawi. Dia bisa mendapatkan air surgawi dengan tawaran 9000 tael emas. Harga yang tidak masuk akal jika dirasa, akan tetapi masuk akal bagi orang kaya seperti mereka.
"9000 tael emas? Apakah dia sudah kehilangan akal sehatnya?" Cicit Uno.
"Harga seperti itu, sungguh tidak masuk akal." Sahut Tiamo mengerdik ngeri mendengar nominal yang sangat besar itu.
"Bagi mu itu tidak masuk akal, lain lagi dengan pendapat mereka. Harga seperti itu tidak akan besar untuk mereka, karena mereka adalah orang kaya." Jawab guru Lebin sambil tersenyum menjelaskan kebingungan kedua muritnya.
"Kaya hasil korupsi buat apa? Apa yang patut untuk dibanggakan?" Sahut Kristal mengangkat bahu, melihat datar pada sekelompok orang kaya disana.
"Shutt, tutup mulut mu. Jangan sampai ucapan mu ini terdengar oleh mereka." Bisik Guru Lebin, menegur Kristal.
"Memang benarkan?" Ucap Kristal tidak mau salah.
"Mengenai benar nya ucapan mu, tapi jika mereka mendengar ini, maka buat mereka itu tetap salah! Jangan mencoba memancing masalah untuk dirimu sendiri, mengerti?" Nasehat guru Lebin, pada Kristal.
Kristal menunduk dan memanyunkan bibirnya, "Baiklah," Jawabnya pasrah.
Mereka akhirnya lebih memilih untuk menyimak sepanjang acara lelang, dan akhirnya semua barang lelang yang didaftarkan sudah habis ditawar. Kini tinggal guru Lebin saja yang belum mendaftarkan tanaman obat dan gingseng pada panitia acara.
Mencoba mencari kesempatan, guru Lebin akhirnya maju dan datang pada panitia acara yang sedang berdiri di samping altar panggung.
Dia membisikkan sesuatu pada panitia, dan terlihat perubahan raut wajah pada panitia itu. Dia lihat guru Lebin dari atas sampai bawah, dan nampak berpikir sejenak.
__ADS_1
"Hem.. baiklah. Aku akan mengabarkan ini pada MC." Ucap sang panitia setuju untuk mempromosikan tanaman obat pada anggota lelang.
Guru Lebin tersenyum lebar, dia mengangguk dan akhirnya pergi dari sana menuju ketiga muritnya.
"Bagaimana, guru?" Tanya Tiamo, tegang.
"Panitia setuju." Jawab Guru Lebin disertai senyuman senangnya.
Mereka berempat akhirnya tersenyum senang, dan begitu gembira sekali mereka.
Beralih pada altar panggung, seorang MC wanita mengambil sebuah pengeras suara sihir dan mulai bicara.
"Tuan dan Nyonya, senang bisa melibatkan kalian dalam acara kali ini. Sangat disayangkan jika__" Ucapan sang MC terputus tatkala sang panitia memanggil dirinya.
Panitia itu datang berjalan pada sang MC, dan nampak membisikan sesuatu pada telinga sang MC tersebut.
"......................."
Sang MC mengangguk mengerti, dan akhirnya kembali fokus pada para peserta lelang.
"Tambahan? Selangka apa tanaman obat itu? Aku penasaran."
"Tanaman obat yang langka? Hem.. menarik."
Para orang kaya itu memilih untuk tinggal karena rasa penasaran mereka pada tanaman obat langka tersebut, mereka duduk dengan raut wajah remeh mereka.
Merasa jika tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari kursi, sang MC kembali pada pengeras suara sihir lalu bicara.
"Baiklah, senang para peserta lelang sangat bersemangat pada barang lelang kami kali ini. Langsung saja, sang pemilik tanaman obat dipersilahkan untuk maju." Ucap sang MC menyuruh perwakilan dari tanaman obat.
Dengan ragu, guru Lebin berdiri. Seketika, semua pandangan tertuju padanya, dan itu tentunya tidak luput dari pandangan merendahkan.
"Orang ini? Aku tidak yakin dengan tanaman obat yang dia jual itu."
"Orang ini terlihat tidak meyakinkan, dia kampungan!"
Mereka mulai melontarkan makian demi makian pada Guru Lebin, akan tetapi guru Lebin lebih memilih untuk tutup telinga dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan para orang kaya itu.
__ADS_1
Dia maju dengan mengambin sekeranjang tanaman obat dan mulai meletakan pada panggung.
Canggung! Hal itulah yang dirasakan oleh guru Lebin. Dia memandang gugup pada orang kaya yang memandang remeh padanya.
"Silahkan perkenalkan tanaman obat mu ini, jangan sampai membuat para peserta menunggu." Bisik sang MC sangat ramah.
Guru Lebin tersenyum tipis dan kemudian mulai menarik napas lalu membuang perlahan, dia beranikan diri untuk memandang yakin pada peserta lelang kali ini.
Guru Lebin mulai mengambil pengeras suara sihir, lalu bicara. "Halo perkenalkan, aku adalah orang yang akan menjual tanaman obat pada kalian. Tanaman obat kali ini, sangat istimewa. Mungkin saja kalian hanya bisa melihat tanaman obat ini dibuku sejarah. Kalian tidak akan kecewa membeli tanaman obat milik kami." Jelas Guru Lebin mulai menjelaskan kelebihan pada tanaman obat yang akan dia jual.
"Sangat percaya diri!"
"Cepatlah, jangan membuang banyak waktu!"
"Terlalu banyak basa-basi."
Para peserta dengan kesal meneriaki guru Lebin. Dan hal itu tentunya, membuat Kristal, Tiamo dan Uno begitu jengkel karena guru mereka dipermalukan oleh para orang kaya tidak tau diri itu!
"Hem.. baiklah. Tanaman obat yang akan aku tunjukan adalah, sebuah Jenggot naga merah langit, yang hanya dikabarkan sebagai legenda. Kalian pasti sudah tahu bukan, seberapa langkanya tanaman obat ini?" Jelas guru Lebin mengeluarkan sebuah tanaman obat bewarna merah yang berbentuk akar-akar/atau kerumbu karang.
Seketika, semua peserta berdiri dengan pandangan yang begitu takjub mereka tunjukan. Mulut mereka terbuka dengan lebar dan mata yang sudah lama membulat.
"Itu sangat mustahil! Ini adalah keajaiban!"
"Aku harus mendapatkan nya! Tanaman itu harus menjadi milik ku, mau bagaimana pun caranya!"
"Berapa harga yang kau buka?"
Semua peserta saling melemparkan pujian dan bahkan ada yang bertekat untuk mendapatkan tanaman obat itu, mau bagaimana pun caranya.
Mereka maju kedepan, bersiap mengambil papan harga penawaran dan melihat pada guru Lebin dengan lapar.
Seolah mengerti, guru Lebin tersenyum dan membuka harga sebesar.
"Harga dibuka sebesar, 5000 tael emas." Teriak guru Lebin, tak luput senyuman dari wajahnya.
^^^BERSAMBUNG^^^
__ADS_1