PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
Batu misterius


__ADS_3

Tiamo dan Uno bangun lalu duduk dengan wajah kebingungan, begitu juga Kristal, dia tak kalah bingungnya dengan dua orang yang sedang berada didepannya itu.


Kristal memperhatikan dengan aneh, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah dua orang ini sedang mempermainkannya, tapi jelas-jelas tadi terlihat begitu nyata! Keduanya berteriak kesakitan.


"Apa kalian mempermainkanku?" Tuding Kristal dengan pandangan menyelidiknya.


Dengan cepat dua orang didepannya itu menggelengkan kepala, "Tidak, kami sedang tidak bercanda." Tepis Uno melambai-lambaikan tangan menolak tudingan Kristal.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Kristal kembali bertanya-tanya begitu heran, dia nampak memikirkan sesuatu dikepalanya itu.


Dia pegang dagunya sembari berpikir dan mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Seketika keningnya mengerut, menyadari sesuatu yang memang agak membingungkan untuknya.


"Apa jangan-jangan, benda itu tidak bekerja padaku? Lalu jika ada seseorang yang berdekatan denganku maka orang itu juga akan kebal dengan energi misterius tersebut? Tapi ini mustahil! Aku tidak yakin." Bisik Kristal masih memikirkan hal tersebut. Agak membingungkan baginya, namun dia tetap memikirkan cara untuk mengetahui apakah dugaannya itu benar adanya.


Tiamo dan Uno terus saja memperhatikan kulit mereka yang sudah memerah dan tergores oleh sesuatu, tapi anehnya, luka itu sama sekali tidak terasa sakit. Pemikiran mereka terus saja melanglang buana.


"Senior, aku akan kembali menjauh dari kalian. Apakah kalian siap?" Tanya Kristal.


Dua orang yang ditanyainya itu sedang melihat Kristal dengan bingung, dengan polosnya mereka mengangguk.


"Ya." Jawab mereka serempak.


Kristal mundur perlahan menjauh dari keduanya, dengan hati-hati Kristal melangkah dan terus memandangi dua orang didepannya itu.


Masih tidak terjadi apapun pada mereka, dan Kristal memutuskan untuk berhenti setelah dirasa jika, dia sudah mundur terlalu jauh dari dua seniornya.


Kristal berdecak pinggang, dia bingung mengapa tak terjadi sesuatu pada kedua seniornya? Apakah dugaannya salah? Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi.


Namun tak lama dirinya melamun, terdengar kembali suara jeritan dari kedua seniornya. Kristal membesarkan mata, menampal mulutnya dengan kedua tangan. Hebat! Dugaannya benar terjadi, dia maju untuk memastikan kembali,, "Apakah sakit?" Tanya Kristal dengan wajah kasihan.


"Akhh tentu saja sakit, kau malah menanyakan hal itu!" Pekik Uno kesakitan bercamput kesal dengan pertanyaan bodoh milik sang junior.


Dia semakin maju mendekati medua seniornya itu, "Apakah masih sakit?" Tanya Kristal lagi.


Keduanya berhenti berteriak dan mendapati jika rasa sakit ditubuh mereka sudah menghilang, mereka duduk dengan wajah kebingungan. Terdapat tanda tanya besar dikepala mereka.

__ADS_1


Kristal tersenyum begitu lebar setelah mengetahui jika dugaannya ini benar terjadi, bukankan ini sebuah penemuan yang hebat? Dia bisa menjadi pelindung bagi orang-orang didekatnya. Dia patut untuk sombong.


"Ini hebat. Senior, kalian harus tahu apa penyebab rasa sakit ditubuh kalian menghilang!" Ucap Kristal diiringi dengan tawa renyahnya.


"Apa?"


"Minum obat." Kristal menjawab dengan polos sambil terkekeh tidak jelas. Kedua orang didepannya itu memutar bola mata mereka dengan jengah. Candaan ini sangat basi.


"Kami serius." Ucap Uno.


"Haih santai! Apakah kalian tidak menyadari dengan hal yang aku lakukan dari tadi?"Tanya Kristal.


Keduanya saling menoleh lalu menggeleng tidak tahu, "Apa? Apa yang kau lakukan dari tadi?" Tanya Tiamo.


"Ck! Masa kalian tidak sadar sih. Aku dari tadi mendekat dan menjauh dari kalian. Setiap kali aku menjauh, kalian akan merasa kesakitan, sementara jika aku mendekat maka rasa sakit kalian akan menghilang." Jelas Kristal.


Keduanya berpikir, dan mengingat-ngingat. "Benarkah? Aku tidak yakin," Ucap Uno, "Ini mustahil." Lanjut Uno.


"Kalian tidak percaya? Baiklah, aku akan mencobanya sekali lagi ok." Ucap Kristal mulai mundur perlahan.


"JANGAN."


...****************...


Mereka sudah bersiap, akan tetapi Pian memanggil dan menghentikan langkah keempatnya.


"Guru, master, ijinkan saya pergi bersama guru dan master." Ucap Pian menunduk menyatukan kepalan tangan dengan telapak tangannya.


"Tidak Pian, sebaiknya kau tetap tinggal disini. Jaga semua murit-murit yang lainnya." Tolak Master tauxing.


"Tapi master," Pian melihat dengan kecewa, dia memaki dalam hati.


"Sebaiknya kau tetap tinggal disini. Kami pergi dulu, kau jaga semua murit yang ada disini." Guru Piok berbicara dan akhirnya keempat guru tersebut menghilang dengan sekejab mata.


Pian terdiam, dia menggenggam jari-jemarinya. Wajah ketidak sukaan itu terlihat diwajahnya yang bisa dibilang cantik.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara gadis pembawa sial itu! Lihat saja, apa yang akan dilakukan master pada gadis pembawa masalah sepertimu!" Bisik Pian tertawa jahat lalu pergi dari sana.


...****************...


"Junior jangan jauh-jauh dari kami." Uno berusaha berlari mendekat kearah Kristal.


"Haiya, sudahlah mari kita berpegangan tangan saja," Kristal mendengus, kemudian dia pegang kedua tangan seniornya itu. "Ayo ikut aku, kita akan menemukan sesuatu yang hebat." Lanjutnya lagi menyeret keduanya untuk pergi kebagian hutan terdalam.


"Ta-tapi." Sebetulnya kedua seniornya ini sangat enggan apabila masuk kedalam hutan yang terdalam, akan tetapi mereka juga sadar diri jika mereka sedang menumpang keselamatan pada Kristal.


"Kemana kita akan pergi?" Tanya Tiamo.


"Ikut saja."


"Tapi kemana?"


"aku bilang ikut saja!


****


Kristal, Tiamo dan Uno berjalan mendekat kesebuah batu besar yang sedang berdiri dengan tegap. Batu itu begitu megah dengan lelumutan hijau yang sudah menutupi. Kristal melepas genggaman tangan dari dua seniornya dan mencoba untuk mendekat kearah batu tersebut.


"Batu apa ini?" Tiamo heran lalu mendekat hendak ingin menyentuh batu tersebut.


"Jangan sentuh, jika tidak kau akan hancur lebur." Tegur Kristal menepis tangan Tiamo.


Tiamo menarik tangannya, dia lihat batu itu dengan horor. "Benarkah?" Cicitnya menjauh lima jengkal dari batu tersebut.


Kristal semakin maju dan mencoba untuk memeriksa Chi pada batu itu. Hal yang pertama dia rasakan, sebuah hawa panas dan juga tajam, seakan-akan hawa semacam ini akan membunuh siapapun itu. Terkecuali Kristal, dia menyentuh batu tersebut dengan jari - jemari nya yang mungil, dan mulai menyerap semua energi yang ada pada batu tersebut.


Sialan! ini sangat sakit, rupanya ini adalah mantra segel. Apa yang ada dihutan ini sehingga begitu dijaga? Apakah sangat special?


Kristal terus saja menyerap energi itu walau dirinya sudah merasakan kesakitan pada aliran meridian nya. Namun hal itu tidak akan pernah bisa merusak titik meridian Kristal, karena hanya hal tertentu lah yang bisa merusak nya. Seperti gagal kultivasi, misalnya.


Tiamo dan Uno saling melihat, mereka menyadari jika Kristal sedang merasakan kesakitan karena raut wajah Kristal. Timbul kekhawatiran didalam diri mereka.

__ADS_1


"Adik perguruan, sudah jangan lanjukan lagi!"


^^^BERSAMBUNG^^^


__ADS_2