
"Apa.... bagaimana ini bisa terjadi,,? lalu, lalu dimana ke empat anak nakal itu?"
Hana, benar benar dibuat terkejut dan tak bisa berkata kata. tangan nya tergerak mengelus wajah sang putra.
"Malang sekali nasip mu, nak. Maaf kan bunda tidak bisa melindungi mu."
Mata nya berkaca - kaca, sang suami dengan sebisa nya menenangkan, Hana.
"Tenang lah, dia baik - baik saja."
Ujar pelan, Jibong.
Cou hanya bisa terdiam dengan menundukan wajah dengan mata tertutup. Hana benar - benar tak bisa tahan dan meneteskan air mata.
Bagaimana seorang anak - anak, bisa dengan mudah menyelakai seseorang? apa lagi itu sesama anak - anak dan bahkan usia nya tak terbilang begitu jauh...
Dengan sekejab Hana bangun dan mata coklat itu terarah memandang kearah sang suami. Bibir nya mengerucut dengan tangan mengenggam...
"Aku tahu, boji adalah anak yang kuat. dia pasti akan cepat sadar dan kembali bergumpul bersama kita. Tapi, tapi ke empat anak nakal itu belum pulang sampai sekarang.. aku takut, hal buruk terjadi pada mereka."
Ujar nya tanpa sadar menaikan oktaf suara nya, dia benar benar kesal terhadap ke empat anak nya itu.. mengapa mereka bisa setega itu tidak menemui diri nya,? jika mereka pulang, dia benar - benar akan menghukum mereka.
Seketika bulu roma, Jibong berdiri menyaksikan rubah yang sedang tidur kini sudah terbangun dan marah...
Dengan ragu bibir nya bergerak ingin mengatakan sesuatu..
GLEKKK
"Jangan terlalu dipikirkan. nanti tekanan darah mu naik."
Bisik, Jibong, gagu dengan memurus tangan sang istri.
Namun hana hanya diam lalu berdecis. dia mengalihkan pandangan pada Cou lalu mendekati nya....
"Panggil para tabib terbaik di kota ini.. Anak ku harus segera sadar secepat mungkin."
Titah nya, dan kemudian pergi keluar meninggal kan ruangan. Kala itu langkah kaki nya benar - benar terdengar keras sampai dinding pun ikut bergetar
Cou diam terpaku, sambil melihat kearah, Jibong.
Jibong hanya diam sambil mengangkat bahu, tidak tahu harus melakukan apa..
"Turuti saja,.."
Pasrah, jibong, dan kemudian turut pergi menyusul langkah sang, istri.
"Huff, pantas saja nona Kristal tidak ingin mengatakan secara langsung. Aku tidak menduka reaksi yang di keluarkan nyonya akan seperti itu."
__ADS_1
Gumam Cou menghela nafas lalu menyeka sedikit keringat di kening nya.
...ʕ•ε•ʔ...
"Hahahhaha, tangkap aku. Kau tidak akan bisa menangkap ku."
"Hey tunggu, jangan berlari seperti itu. Dasar anak nakal!!"
Mata hijau yang jernih itu memandang kehalaman tengah bangunan. Senyuman indah terukir di bibir nya, dan gigi putih itu bersinar dengan susunan rapi...
Sang pemiliki kedai dan para anak buah nya sedang bermain bersama ketiga puluh anak yang sedang di titip kan oleh kristal..
Mereka terlihat kewalahan, namun mereka juga terlihat senang saat bermain bersama anak - anak..
Ada yang sedang bermain bola, ada yang bermain rumah dan teh, dan bahkan ada yang bermain kejar kejaran bersama si pemilik kedai..
"Heyy, itu kakak. Dia sudah kembali."
Teriak salah satu anak perempuan kecil nan manis. Seketika saja, seluruh nya melihat dan berlarian kearah kristal.
"Kakak.... akhir nya kau datang juga."
Teriak mereka gembira, kristal hanya tertawa renyah sambil mebalas pelukan dari mereka.
"Apakah kalian baik - baik saja? kalian senang disini?"
"Terimakasih karna kau sudah menjaga mereka dengan baik. Aku tak menyangka jika mereka akan sebahagia ini."
Ujar kristal berterima kasih kepada si pemilik kedai. Dengan senyuman canggung pemilik kedai berbicara..
"Itu memang sudah tugas ku. Lagian kan kau juga sudah membayar ku dengan jumlah yang banyak."
Ujar nya tertawa renyah sambil menggaruk kulit nya yang sudah keriput itu.
"hmm ya baiklah, kalau begitu kami harus pamit."
"Apakah kalian ingin bersenang - senang bersama kakak?"
"Ya... kami ingin"
Mereka terlihat begitu gembira. Sebelum kristal dan para anak - anak pergi, tak lupa kristal memberi seratus keping emas lagi kepada si pemilik kedai.
Si pemilik kedai awal nya ragu, tapi kristal terus mendesak dan pada akhir nya dia menerima pemberian kristal tersebut.
Beralih pada pasar kota yang ramai. Tercium jelas aroma - aroma pasar pada umum nya, tercium bau mentahan produk, produk jadi, mau pun aroma asap panggangan yang berasal dari, ayam, bebek, babi, mau pun roti.
Aroma itu tercium jelas dihidung kristal. dia berjalan paling belakang bersama salah satu anak laki laki berumur 12 tahun...
__ADS_1
Sedang kan para anak anak lain nya berada di depan, agar kristal bisa dengan mudah mengawasi mereka.
"Beli lah apapun yang kalian ingin, pakaian? atau apapun? sebelum kita pergi ketempat tinggal kalian yang baru, setidak nya kalian belilah dulu beberapa pakaian dan peralatan yang kalian butuh kan."
Suruh kristal pada anak yang paling tertua itu, kita sebut saja Limbing.
"Tapi, kami tidak memiliki uang,"
Cetus nya dengan pandangan yang terus tertuju kedepan. Kristal menoleh pada Limbing
"Tidak apa, kakak yang akan membayar nya."
"Karna aku adalah rich sister, hahaha"
Ujar nya lalu membantin senang dalam hati. Seketika Limbing menoleh pada kristal.
"Benarkah, kakak yang akan membayar nya? kau sangat kaya, andai saja aku tidak dibuang oleh ibu ku,, maka aku akan hidup enak di istana."
Ujar nya senang, namun dengan senyum yang dipaksakan. Mata indah kristal tertuju pada, Limbing. Mata nya terlihat sendu, dan sampai tangan nya bergerak memuruh kepala, Limbing.
"Hidup di istana tidak lah se enak yang kau pikirkan. Dan bahkan menjadi seorang bangsawan saja sangat sulit, hidup mu akan dihalangi dengan beribu ribu masalah. belum lagi kau akan menghadapi puluhan saudari tiri mu bukan?"
"Engg, kau berbicara seolah kau sudah merasakan hal tersebut. Apakah kau adalah.."
"Menurut mu?... "
Kedua nya saling pandang, pupil mata Limbing seolah membesar. Sedang kan kristal hanya tersenyum sungging...
"Hmpp baiklah, kalian para anak - anak. Beli lah apapun sesuka kalian, dan jangan lupa membeli pakaian,, kakak akan membayar nya."
Teriak kristal pada ketiga puluh anak - anak itu. Mereka terlihat bahagia dan berlarian menuju toko toko yang menjual berbagai pernak pernik..
Para penduduk yang melihat kristal hanya bisa berbisik, mereka heran bagaimana kristal rela mengeluarkan banyak uang hanya demi anak anak yang kumuh itu?
"Dia gila, rela mengeluarkan banyak koin hanya demi anak anak jelata itu. Kalau aku tidak akan sudi mengeluarkan sepeser pun untuk mereka."
"Shuttt, diam. Jangan usik dia, kelihatan nya dia adalah orang kaya,, kalau kau mengusik nya kau akan habis."
"..."
Bersambung...
...Hay, terima kasih karena sudah membaca... ...
...saya harap, karya saya akan lebih baik kedepan nya. Terima kasih sekali lagi buat para readers sekalian yang mau membaca cerita ini, (maaf) yang jauh dari kata bagus. ...
...Cerita saya jauh dari kata sempurna, masih banyak sekali kesalahan pada tanda kalimat, penulisan dan yang lain nya. dan saya berjanji sebisa mungkin akan memperbaiki kesalahan tersebut...
__ADS_1
Salam hangat dari saya...