PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
Kebahagian baru


__ADS_3

"Aku pulang," Ucap Kristal yang sudah berada didepan kediaman.


"..........." hening tanpa jawaban


"Eh tidak ada yang menjawab? yasudah lah," Ucap Kristal lagi setelah terlama terdiam tidak ada jawaban dan tanda-tanda kedatangan orang.


Dia masuk dengan langkah lunglai dan tangan tiada henti memijat tengkuk nya, sesekali diri nya menghela nafas dan menekuk wajah. Kristal kembali celingak celinguk, dia benar-benar tidak melihat keberadaan seorang pun dikediaman itu.


Ruangan kosong, begitu hening.


"Mereka ini kabur ya, kenapa tidak ada satu pun orang," Keluh Kristal loyo


"Bunda.... ayah... dimana kalian?" Panggil Kristal dengan nada manja.


Masih tidak ada jawaban, dia sangan jengkel karena merasa seisi rumah meninggal kan nya untuk berlibur sendirian.


"Huuu, apakah mereka berlibur tanpa aku. Ck, bunda ini," Keluh nya krmbali


"Bundaaa," teriak nya lagi


Dia berjalan menuju arah barat kediaman, teringat nya kembali dirumah ini pasti masih ada Boji.


Tidak mungkin kan mereka jalan-jalan membawa Boji, sedang kan Boji masih belum sadar kan diri.


Seperti itu lah kira-kira hal yang dipikir kan oleh Kristal.


Sudah hampir dekat di kediaman Boji, namun dari agak jauh mata memandang, Kristal melihat pintu kediaman boji yang sedikit terbuka. Terdapat cahaya terang dikediaman itu, kristal masuk dalam mode siaga nya. Dia dengan cepat melompat, dan siap-siap mengumpul kan Chi ditangan nya.


"Siapa yang berani mengusik adik ku!" Gumam nya tajam sambil melesat dengan energi peringan tubuh.


BRUAKK


AUUU...kristal jatuh membentur lantai setelah terkena pintu yang sedang terbuka dengan tiba-tiba.


"Auuu sakit sekali," Cicit kristal mengusap bokong dan kening nya.


"Nona... kenapa kau duduk dilantai?" Tanya Cou kaget dengan menutup mulut nya.


Perlahan Kristal mengangkat pandangan nya, mata nya memicing pada Cou


"SIALAN KAU COU...." Teriak Kristal dengan frustasi.

__ADS_1


[Semenit berlalu]


"Boji sukur lah, kau sudah sadar huhuhu," Ucap Kristal.


Boji hanya diam masih ling-lung tidak mengerti keadaan.


"Iya sayang, syukur lah..." Ucap Hana menimpali.


"Boji lihat kakak, apakah kau masih merasa kan sakit? jawab lah." Desak Kristal.


Ucap Boji bergeleng.


"Tidak, aku sangat sehat,"


"Fyuhhh," Sekeluarga menghela nafas lega


"Maaf jika Boji sudah membuat khawatir.." Lirih Boji.


Hana menoleh pada Kristal, jujur saja ruangan terasa begitu canggung dengan angin malam yang menyejukan.


"Ck, siapa yang membuat kami khawatir? Tidak akan ada.. kau ini anak kecil jadi sudah wajar kalau sakit."Jawab Kristak mencair kan suasana


"Ah sudah-sudah, adik mu baru saja sadar dan kau sudah menggoda nya."


Hana terkekeh sambil mencolek kedua hidung anak nya, dia begitu tulus menyayangi kedua anak angkat nya itu. Kenapa tidak, dia memiliki hati yang lembut dan juga penyayang. Sungguh keluarga ates mendapat kan berkat dari dewa.


"Kakak, apakah anak-anak itu...


"Shuttt, kau jangan membahas mereka lagi!" Tegur Kristal


"Ap-apa yang kakak lakukan pada mereka."


"Membunuh mereka,"


Ruangan begitu panas, banyak pandangan menyelidik yang tertuju pada kristal.


"Mampus lah, kejahatan ku terungkap."


Kristal perlahan mengangkat pandangan nya, senyuman canggung dia perlihat kan, "Hahaha, aku hanya bercanda," Elak nya. "Jangan di bawa serius, hahahah mana mungkin aku membunuh mereka," Sambung nya lagi.


"Nak, jangan menyembunyikan hal serius dari bunda! katakan, apa yang kau lakukan pada mereka?" Hana bertanya dengan pemikiran yang masih saja takut jika Kristal menyembunyikan hal yang serius dari nya.

__ADS_1


Bahkan Jibong saja yang awal nya terdiam juga terpancing dan penasaran dengan rahasia yang di tutupi oleh Kristal dari mereka. Jujur saja, Kristal sangat merasa bersalah karena tidak bisa sepenuh nya untuk berkata jujur pada kedua orang tua nya. Namun dia tahu, semakin sedikit mereka tahu semakin tenang hidup mereka.


"Maaf kan Kristal bunda.. ayah.." Batin Kristal sangat menyesal.


Kristal melihat pada kedua orang yang sedang menantikan jawaban dari nya, dia mengambil nafas lalu membuang nya perlahan. Timbul senyuman indah di wajah nya, lalu sedikit mendekat kepada sang ayah dan bunda


"Percayalah.. Kristal tidak akan berprilaku hina seperti yang ayah dan bunda pikir kan. Kristal tidak akan mungkin membunuh mereka, mereka masih anak-anak dan tidak mengerti yang mana buruk dan yang mana yang baik." Ucap Kristal begitu meyakin kan, dan pastinya Jibong dan Hana akan percaya perkataan dari sang putri.


"Huhhh, ayah lega mendengar nya,"


"Hahahah, sukur lah.. kemari lobak putih bunda... bunda mau memeluk mu," Cetus Hana, sehingga mampu membuat Kristal tersedak air ludah nya sendiri


Uhukkk uhukkk, bunda.........


Pipi kristal memerah, dia begitu malu karena telah diberi julukan lobak putih oleh sang bunda. Hana dan Jibong tersenyum kemenangan karena sudah berhasil membuat sang putri kehilangan gaya.


"Ba-baik lah bunda, kr-kristal ingin masuk ke kamar dulu." Tanpa sebuah persetujuan dia berlari keluar dari kamar Boji sehingga angin pergerakan nya terasa sangat nyata.


"Eh sayang.. kenapa buru-buru sekali?" Hana berusaha terus menggoda sambil menyusul Kristal di dekat pintu kamar, dia tersenyum mengembang lalu berkata


"Selamat malam.. semoga mimpi indah nak.." Teriak Hana


"Untuk mu juga, bunda," Teriak Kristal masih menanggapi ucapan Hana.


"Hufff, anak ini," Hana terkekeh dan merasakan geli di perut nya, dia sangat gemas dengan kelucuan dari sang putri


Dia masuk kembali pada kamar Boji, lalu melihat Jibong yang sedang mengusap hangat kening Boji yang sudah terlelap. Hana sedikit terkejut melihat jika Boji sudah terlelap dalam mimpi yang tidak tau indah atau buruk nya.. dia duduk diranjang Boji lalu meniru hal yang di lakukan Jibong pada Boji.


"Aku sedang asik menggoda Kristal, tanpa sadar putra kecil ku ini kembali terlelap," Gumam nya namun cukup kuat sehingga terdengar oleh Jibong.


Jibong tersenyum menanggapi gumaman istri tersayang nya, dia meraih tangan Hana lalu memurus tak kalah lembut.


"Biar kan dia tertidur di sini, dia butuh istirahat yang cukup," Ucap Jibong tanpa mengalih kan pandangan pada Boji


"Benar, dan aku harap besok akan menjadi awal nya menyenang kan bagi Boji. Kasihan dia, masih kecil tapi sudah menjalani hal yang begitu buruk,"


Hana dan Jibong berdiri, Hana membenar kan selimut untuk Boji lalu tidak lupa diri nya memberi kecupan selamat malam di kening Boji. Seperti nya Boji sadar jika ada yang sedang mencium nya, dia tersenyum begitu centil.. entah apa yang sedang dia mimpikan


Dengan langkah super pelan mereka berjalan, dan bahkan mereka menutup pintu dengan sangat hati-hati. Mereka begitu menjaga dan menghormati masa istirahat Boji


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2