PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
CHAPTER : JAHAT...


__ADS_3

Langkah kaki terdengar dari balik pintu, perlahan pintu itu terbuka dan memperlihat kan Kristal dengan penampilan yang memukau. Dengan baju merah muda dan rambut hitam panjang yang di gerai indah menyentuh bahu nya.


Bulu mata lentik dan bibir semerah ceri membuat penampilan nya semakin memukau, apa lagi jepitan bola bola kecil di rambut nya menimbul kan kesan lucu dan cocok dengan umur nya sekarang.


Dia mengenakan tas selempang berbentuk rubah yang baru saja ia beli pada saat berjalan - jalan bersama ketiga kakak nya.


Pandangan yakin nya dan langkah lugas menuju arah pintu keluar. Perlahan mata nya melirik ke arah kanan mau pun kiri


"Aku harus cepat, atau tidak ayah dan bunda akan pulang dan aku pasti akan dimarahi habis habisan."


Gumam nya berjalan jinjit lalu tanpa berlama - lama lagi dia berlari menerobos pintu gerbang.


Tak lama, disaat kepergian Kristal. Ada sebuah kereta kuda berhenti di depan kediaman ates. Perlahan sepasang kaki wanita terlihat sedang turun dari kereta tersebut, dan rupa - rupa nya,, itu merupakan Hana dan Jibong yang baru saja datang dari tempat walikota.


Raut wajah, Hana, terlihat sedang kesal dan secara cepat masuk kedalam kediaman, Jibong hanya menyengir kuda saat si kusir pengantar melihat sang istri sedang jenkel dan cepat cepat masuk kedalam


Tanpa berlama lama, Jibong, mengambil tiga keping emas lalu memberikan nya pada si kusir. Si kusir nampak enggan dan bergantian melihat kearah Jibong dan kedimana ates.


"Ambil saja, dia juga seorang bangsawan. lagian orang kaya tidak boleh terlalu pelit terhadap orang miskin."


Batin si kusir dan tanpa berlama - lama lagi, mengambil tiga keping emas itu dan kemudian pergi begitu saja....


Dan aneh nya, tiba tiba saja,, si kuda itu mengeluarkan sayap dan terbang keudara membawa si kusir serta kereta yang membembani mereka.


Jibong hanya melongo melihat kebobrokan si kusir itu.


"Kalau kuda nya bisa terbang, mengapa dari tadi tidak terbang saja. Huhhh penduduk kekaisaran ini sangat aneh, aku pusing dibuat nya."


Jibong, menepuk jidat lalu masuk menyusul sang istri kedalam kediaman.


........


"Huhh memang nya siapa mereka, merendah kan orang dengan se enak nya. aku sangat kesal dengan wanita itu, aku ingin sekali MENCEKIK nya!! Berani sekali dia menggoda suami ku. dan secara terang - terangan ingin menjadi selir...? SIALAN!!!!"


Hana bergumam kesal, para pelayan yang menyapa tak ia hirau kan dan terus berjalan dengan mulut yang terus saja melapal kan mantra mantra suci PENGIKAT SUAMI..


"Ada apa,? mengapa nyonya terlihat begitu kesal?"

__ADS_1


Bisik, Mera, pada pelayan kecil. mereka benar - benar terlihat bingung dengan kondisi hati sang majikan


Tak lama datang, Jibong, berlari kecil mengejar sang istri yang sedang berjalan dengan langkah berat menuju aula.


Lagi dan lagi, Mera dan pelayan kecil melihat hingga kepala mereka memiring dan saling pandang. bahu mereka mengangkat seolah berkata, 'jangan tanya aku, aku pun tak tahu'


.....


"Istri ku, tunggu dulu..."


Teriak, Jibong, memanggil sang istri. Namun Hana tak memperdulikan nya sama sekali, jangan kan menjawab,, menoleh pun tidak..


Beralih pada, Cou yang sedang berjaga di kamar milik, Boji. Dia sedang duduk di sofa kamar sembari menyulam pada selembar sapu tangan...


Namun terdangar suara ribut dari arah luar.. pandangan Cou teralih pada pintu dan kemudian dia bergerak menuju pintu lalu keluar..


"Sudah ku bilang, aku tidak akan menjadikan nya sebagai selir. Jangan kan tertarik, bahkan aku tak menoleh pada nya sedikit pun."


Ujar, Jibong, membujuk sang istri. namun, Hana masih saja ngambek dengan tangan melipat kedada.


"Tapi kau hanya diam saat wanita itu menggoda mu, kau tidak berbicara sedikit pun."


"Baik lah, lalu istri ku ini mau aku bagaimana saat bertemu dengan nya lagi,,?"


Tanya, Jibong, sudah berusaha bersabar dan berusaha memelankan suara dengan mengeluarkan nada yang mendayu - dayu..


"Apa... kau bahkan mengharap kan ada pertemuan kedua,,? kau sangat jahat!!"


Lagi dan lagi, Jibong dibuat setres dan hanya bisa berteriak dalam hati.. Dia selalu saja salah di depan istri nya, namun jika dia protes dia akan diamuk oleh istri nya itu 'untung sayang' pikir nya...


Namun disata Jibong sudah mulai ingin berbicara, timbul Cou keluar dari ruangan Boji. pandangan ketiga nya saling bertemu..


"Cou, mengapa kau ada di kamar, Boji?"


Tanya Jibong heran. sedang kan Hana hanya diam sambil menunggu Cou menjawab...


"A-anu, enggg,, tuan kecil ada di dalam."

__ADS_1


Ujar, Cou, gagu sambil menggaruk alis kiri nya. Alis Hana terangkat. Boji, berada di rumah? bukan kah dia sedang berada di sekolah saat ini?


"Apa? boji sudah pulang,,? baik lah, aku ingin menemui nya."


Ujar Hana, dan mereka pun masuk kedalam secara bersamaan. Entah apa reaksi mereka saat mengetahui sang anak bungsu sedang mengalami demam tinggi akibat tenggelam..


...ヾ(≧▽≦*)o...


Kristal sedang berjalan sendirian, menuju arah pasar kota. Pandangan nya terus jatuh pada pernak pernik yang sedang dijual oleh para pedagang.


Dan tak jarang raut wajah nya berubah jiji saat melihat hewan peliharaan penduduk yang terlihat begitu menjijikan.


Ada sebuah Siput raksasa dengan dasi kupu kupu sedang berjalan bersama sang tuan.


Kristal melongo melihat nya, teringat pada saat dia hidup di dunia dahulu,, dia sangat jiji dan takut pada se ekor siput.


Mereka terlihat sangat mengerikan dan berlendir. Tentu saja, Kristal sangat tak menyukai hama yang satu itu..


"Oh tuhan, aku harus cepat. aku melupakan anak anak itu."


Kristal berlari dengan cepat, benar juga,, dia sudah berjanji kepada anak anak itu. Jika dia tidak menepati nya, maka dia akan merasa bersalah dan benar - benar tak akan mau memiliki teman.


Singkat cerita, Kristal sampai pada tempat makan yang sedang tertutup. Nampak nya tempat makan itu tutup dikarenakan mereka harus menjaga ke tiga puluh anak anak yang dititip kan oleh ke empat bersaudara.


Senyuman kecil terlihat di bibir, kristal.


"Mereka benar - benar menjaga dengan baik. mengapa tidak membuka tempat penitipan anak saja dari pada tempat makan,? itu pasti akan sangat menguntung kan."


Gumam kristal sambil berjalan masuk kedalam tempat makan tersebut. Kondisi ruangan sangat lah sepi dan sunyi, pandangan kristal terarah kesekitar..


"Dimana mereka? mengapa ruangan ini sangat sepi,,?"


Gumam kristal, sambil terus berjalan mencari keberadaan dari mereka.


Secara samar, sebuah suara terdengar menyapa pendengaran. langkah kaki kristal mengikuti arah suara tersebut, dia benar - benar penasaran apa yang sedang mereka lakukan,,?


"Sedang apa mereka,,?"

__ADS_1


......


Bersambung....


__ADS_2