
Disebuah ruangan, Kristal, Tiamo, Uno dan para guru sedang berada. Para guru sedang berdiri mengawasi ketiga murit didepan mereka, bahkan keadaan ketiganya kini sedang berada dalam kaki diangkat satu dan kedua tangan memegang telinga.
Ketiganya sangat kesulitan untuk menyeimbangkan tubuh mereka, tak jarang mereka hampir terjatuh dan menurunkan satu kaki milik mereka.
"Kalian sudah tahu bukan, dimana letak kesalahan kalian?" Tanya guru Celin memegang sebuah kipas yang dia pukul-pukul ketelapak tangannya.
"Kami tahu, guru." Jawab Ketiganya, terdengar loyo dan tidak bersemangat.
Para guru hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah mereka. Bahkan master tauxing saja masih belum bisa bicara, memikirkan hal yang tidak masuk diakal yang terjadi dihutan sebelumnya. Dia masih terdiam dalam lamunan, dan pikiran yang melang-lang buana entah kemana.
"Guru, Suan dan Xima juga ikut, tapi guru tidak menghukum mereka!" Protes Kristal.
Dia merasa jika penderitaannya harus dirasakan juga oleh Suan dan Xima, namun sekarang Suan dan Xima justru sedang enak-enak nya makan malam diluar.
Karena hari sudah malam, dan sudah waktunya untuk makan malam, oleh karena itu membuat suasana hati Kristal menjadi berantakan.
"Ck ck ck. Yang kesatu, kau adalah dalangnya! yang kedua, Tiamo dan Uno adalah seorang senior disini, tapi mereka mau-mau saja mengikuti dirimu! Dan yang ketiga, kondisi Suan dan Xima sedang dalam keadaan yang tidak baik. Mereka mengalami sedikit trauma, dan mereka harus istirahat." Jelas guru Lebin bergeleng-geleng pusing.
Mereka bukannya mau untuk pilih kasih, akan tetapi mereka juga harus memperhatikan kondisi murit mereka. Kondisi Suan dan Xima memang tidak baik untuk saat ini, mereka masih shock atas kejadian yang mereka alami.
Wajah Kristal berubah menjadi raut khawatir setelah mendengar jika kondisi Suan dan Xima dalam keadaan yang tidak baik, apa lagi Tiamo dan Uno, mereka terlihat khawatir pada adik perguruan mereka itu.
"Be-benarkah? Lalu dimana mereka?" Tanya Kristal, kalut.
"Tenang saja, mereka berada ditempat yang aman. Fokus saja menjalani hukuman mu ini, jangan banyak bicara." Ketus guru Piok lalu duduk disamping master tauxing.
Wajah Kristal masam, dia membuang pandangan dengan kesal. Dia tahu jika dia salah, akan tetapi berkat dia juga perguruan tauxing mendapatkan hadiah berupa 5000 jenis tanaman obat. Seharusnya, dia mendapatkan sebuah penghargaan.
1 jam berlalu~~
Suara kroyokan perut terdengar cukup keras dari perut Kristal. Sedangkan dia, masih dalam keadaan berdiri dengan memegang kedua telinganya.
Para guru saling menoleh, mereka juga merasa iba pada murit mereka satu ini. Tapi jika mereka selalu berbaik hati, bisa-bisa para murit lainnya akan melakukan kesalahan sama seperti yang dilakukan oleh Kristal dan ke empat lainnya.
Dengan menghela napas berat, master tauxing melihat pada para guru lainnya dan mengangguk nampak meisyaratkan sesuatu.
__ADS_1
Ketiganya mengerti, lalu membalas mengangguk.
"Baiklah. Sudah cukup, dan sekarang turunkan kaki kalian itu." Suruh guru piok.
Dengan cepat ketiganya menoleh dan membesarkan mata mereka dengan sebuah senyuman gembira.
"Benarkah?" Tanya Kristal senang.
"Kenapa? Kau ingin berdiri 5 jam lagi?" Ancam guru Celin.
"Ah tidak usah guru, kaki ku hampir mati rasa." Jawab Kristal tertawa kecut, begitu menolak usulan dari gurunya itu.
Akhirnya mereka bisa merasakan berdiri dengan kedua kaki mereka, dan mereka merasa lega untuk itu. Tak jarang mereka memijat kaki dan tangan, dan bahkan Kristal sampai duduk dilantai untuk memijat kaki miliknya.
"Huh guru ini sangat melelahkan loh, kaki ku hampir serasa ingin copot." Keluh Kristal memijat-mijat punggung kakinya.
"Jika tidak mau mendapat kan hukuman, jangan buat kesalahan! Kami menghukum kalian, karena kami masih perduli dan sayang pada kalian! Bayangkan saja jika kami membiarkan hal yang kalian lakukan, meski itu buruk sekalipun, bukankah kalian berpikir jika kalian tidak diperdulikan? Ini semua demi kebaikan kita bersama!" Nasehat guru Celin dengan bijak, pada ketiga muritnya.
"Dengar?"
"Baiklah, sekarang pergi kehalaman. Ikan yang kalian tangkap sudah matang, kalian bisa memakannya sekarang." Ucap guru Celin mempersilahkan.
"Baiklah guru, ayo senior kita segera berangkat kesana." Ucap Kristal senang begitu bersemangat lalu mengajak kedua kakak perguruannya.
Dengan malu-malu pula, Tiamo dan Uno segera menyusul langkah kaki adik perguruan mereka. Sedangkan para guru dan master tauxing hanya bisa mengelus-elus dada.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan murit senakal itu!" Protes guru Piok menampar kening, karena habis pikir terhadap kenakalan Kristal.
Master tauxing menoleh, "Disebuah keranjang sampah." Jawabnya, disertai kekehan yang lainnya.
"Hahahahha, aku penasaran bagaimana reaksi nya nanti jika mendengar ucapan mu ini." Sahut guru Lebin.
Mereka tertawa cukup lama, dan masing-masing melontar kan lelucon milik mereka. Dan sampai saatnya, ruangan itu hening tiada suara.
"Hem, tapi... aku tidak yakin jika murit mu itu adalah manusia biasa! Bahkan dia luar biasa, dia memiliki banyak kelebihan didalam dirinya. Ditakutkan jika, hal ini akan diketahui oleh pihak yang tidak bertanggung jawab!" Keluh guru Celin, disertai dengan ekspresi kalutnya.
__ADS_1
"Aku setuju dengan apa yang kau katakan. Dia terlihat biasa saja, tapi sebenarnya dia bukan orang biasa. Gadis 17 tahun seperti dia, bagaimana bisa memiliki banyak sekali keajaiban?" Sahut guru Piok, turut merasa janggal.
Master tauxing dan guru Lebin hanya bisa menyimak ucapan dari keduanya, mereka masih tetap saja sibuk dengan pikiran mereka.
Guru Lebin, dia sangat heran bagaimana Kristal bisa tidak terpengaruh pada mantra yang bahkan hampir membuat dirinya sekarat? Hal ini tidak pernah dijumpai sebelumnya, dan bahkan sangat mustahil sekali!
Sementara master tauxing, dia bingung bagaimana caranya melindungi identitas dari muritnya ini? Timbul kekhawatiran mendalam didalam hatinya, dia takut jika muritnya akan menjadi sebuah buronan dari berbagai penjuru para kekaisaran. Seperti yang pernah terjadi dulu, pada seorang wanita yang juga memiliki kekuatan takdir dari para langit.
Apakah kejadian waktu itu akan terulang kembali?
Batinnya kalut, memikirkan keselamatan pada muritnya.
...****************...
Kristal dan kedua seniornya, sedang berjalan menuju halaman tempat dimana biasa para murit untuk makan malam bersama.
Disana sudah ramai akan murit-murit, bahkan beberapa diantara mereka sedang bercanda gurau sembari menikmati ikan panggang yang baru saja mereka panggang beramai-ramai.
Bau sedap yang timbul dari ikam panggang, menghampiri indra penciuman Kristal, Tiamo dan Uno.
GLEK
Mereka menelan ludah mereka, melihat beberapa ikan panggang yang sangat menggiurkan.
"Wah, mereka memanggangnya?" Ucap Kristal tertegun.
"Baunya sangat enak, ayo kita pergi kesana." Ajak Tiamo disertai dengan hidung yang terus saja menghendus-hendus.
Namum baru saja satu langkah dari mereka, sebuah suara tiba-tiba saja menghentikan langkah mereka.
"Tiga orang pengacau, dengan terang-terangan menunjukan wajah mereka, yang tidak tahu malu ini!" Ucap datar Pian datang dengan angkuh, menenteng sebuah pedang yang biasa dia bawa untuk berlatih.
Kristal menoleh, dengan wajah datar dan super duper kesalnya. "Ikan itu, aku yang tangkap. Seharusnya kau yang tahu malu, memakan hasil jerih payah dari ku! Orang yang kau benci!" Balas menohok Kristal, dilanjutkan dengan juluran lidah mengejek.
^^^BERSAMBUNG^^^
__ADS_1