
Maaf:)
...****************...
Tak terasa, acara lelang sudah berakhir dengan keadaan yang cukup menghebohkan. Semua orang kaya, yang ada disana sedang berdebat memperebutkan sesuatu yang sangat beharga buat mereka.
Sedangkan guru Lebin, dia berjalan dengan membawa kantungan koin dengan ukuran yang sangat besar.
Wajahnya terlihat begitu berseri-seri, dan dia melangkah menuju Uno dan Tiamo.
"Guru, disini." Teriak Uno melambai.
"Ya aku tahu." Jawab Guru Lebin tersenyum melihat kearah Uno dan Tiamo.
Namun... senyuman itu luntur disaat netranya tak menangkap sesosok Kristal. Murit wanita yang sangat nakal dan juga keras kepala.
"Uno, Tiamo, dimana adik junior kalian?" Tanya Guru Lebin tanpa mau bertukar basa-basi.
Uno dan Tiamo saling pandang, bingung ingin menjelaskan seperti apa pada guru mereka itu. Mereka saling bersenggol bahu, mempersilahkan untuk menjawab, namun diantara mereka sangat enggan.
"Uno, Tiamo... dimana adik junior kalian?" Tanya Guru Lebin kembali.
"I,itu guru, adik junior sedang pergi ketoilet. Tapi.." Jelas Uno, tapi tersenggat.
"Tapi?" Guru Lebin memiringkan kepala menunggu jawaban dari sang murit.
"Tapi kenapa?" Ulang guru Lebin.
Uno menoleh pada Tiamo, tentu saja Tiamo mengerti kegelisahan itu. Tiamo mempersiapkan diri untuk menjawab, dan kemudian berkata.
"Itu guru, adik____"
"Hy semuanya, apakabar." Terdengar suara teriakan cempreng dari Kristal, berlari dengan gembira kearah dua senior dan juga guru Lebin.
Ketiganya menoleh, seketika saja Uno dan Tiamo memurus dada karena merasa tertolong dengan kehadiran Kristal.
"Kristal, kamu darimana saja? Guru sudah bilangkan, kau tidak boleh berpisah dari dua seniormu!" Omel guru Lebin.
"Aih, Kristal tahu, Guru. Kristal tadi sakit perut, jadi Kristal mencari toilet disekitar sini." Jawab Kristal masih bisa membela diri.
"Sudahlah. Oh iya, semua tanaman obat sudah habis dibeli oleh para orang kaya disana. Sekarang katakan, apa yang ingin kalian beli saat ini?" Ucap guru Lebin dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Benarkah? Wah sangat hebat, perguruan kita menjadi kaya mendadak. Aku tidak sabar, seperti apa reaksi master nanti." Sahut Kristal begitu senang dengan senyuman yang sangat manis.
"Ya! Aku harap dengan keberhasilan ini bisa membuat perguruan kita semakin berjaya. Dan kita bisa membawa kemenangan pada perlombaan diperguruan awan nantinya." Sahut Uno lagi, dengan lirih dan juga tulus.
Kristal hanya terdiam, dia senyum melihat kearah guru Lebin. Dipikirannya saat ini, dia sangat berpikir keras tentang keter-obsesian murit perguruan tauxing terhadap kemenangan pada perlombaan perguruan awan nantinya. Baginya itu hanya bisa menghalangi kemenangan saja, dan dalam pandangannya jika perguruan tauxing selalu berfokus pada kemenangan, maka mereka tidak akan bisa maju dalam hal yang lain. Hal yang lain, dalam artian, tidak sayang kesehatan diri sendiri, berfokus berlatih pada bertahan dan malah mengabaikan tekhnik betarung lainnya.
Terkadang Kristal ingin buka suara terhadap hal yang mengganjal dihatinya, akan tetapi, dia tidak ingin membuat pihak perguruan awan menjadi tersinggung.
Saat ini dia hanya bisa diam dan mengamati ketiga orang didepannya yang sedang berbicara.
"Aku tidak tahu, dengan cara diam seperti ini apakah akan membantu kalian nantinya. Awalnya aku berpikir hanya akan membuat perguruan tauxing sebagai batu loncatan agar aku bisa datang pada perguruan awan. Tapi semakin jauh aku mengenal kalian, aku semakin ingin membuat kalian jaya dalam semua hal." Benak Kristal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini keempat orang itu sedang berada disebuah kedai makanan yang merupakan tempat para orang kaya sering makan disana.
Tempatnya lumayan luas, dengan interior khas tiongkok. Banyak disana para keluarga kalangan atas sedang makan dan menikmati segaka fasilitas yang ada.
Tak jarang terlihat pemandangan para wanita penghibur yang sedang melayani para petinggi kerajaan Xitang barat.
Sedangkan keempatnya sedang berjalan mengamati sekitar sekaligus mencari tempat yang kosong untuk mereka duduki.
Guru Lebin, Uno dan Tiamo melihat kearah tempat yang ditunjuk oleh Kristal.
"Baiklah, nampaknya disana cukup nyaman." Kata Tiamo masih dengan wajah berpikirnya.
"Ayo kita pergi."
Mereka pun berjalan menuju ruangan itu, dan kemudian mulai duduk disana, ketiga lainya masih tetap dengan kekaguman mereka karena jujur saja, baru pertama kali ini mereka memasuki tempat semewah tempat yang sedang mereka datangi itu.
Sedangkan Kristal, dia sibuk mencari salah satu pelayan untuk dia pinta menu-menu yang ada disana.
Tak jauh mata memandang, ada salah satu pelayan wanita yang baru saja keluar dari suatu ruangan. Tak lengah lagi, Kristal dengan segera memanggil dan mengangkat dua jari keatas.
"Pelayan, bisakah kau kemari?" Panggil Kristal.
Pelayan itu menoleh, dan berjalan menuju Kristal setelah menyadari jika ada salah satu pengunjung yang membutuhkan pertolongannya.
"Kau panggil siapa?" Tanya Uno.
Kristal menoleh lalu menjawab, "Salah satu pekerja kedai disini." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ouh."
Tak butuh waktu lama, dengan mempercepat langkah kakinya, pelayan wanita itu dengan segera menghampiri meja yang diduduki oleh Kristal dan ketiga lainnya.
"Halo, ada yang bisa saya bantu." Sapa pelayan wanita tersebut, dengan ramah.
Kristal cukup terkejut, dia tidak menyangka jika masih ada orang sopan yang ada di kekaisaran xitang barat ini.
"Bisakah kau beri informasi pada kami, menu apa saja yang ada dikedai ini?" Jawab Kristal.
"Oh tidak masalah. Disini terdapat berbagai hidangan yang pastinya akan membuat pengunjung puas."
"Ayam kung pao, fuyunghai, mapo, nasi hainan, bebek peking, angsio tahu, ayam koloke, sup wonton, dimsum, ikan bakar pedas dan juga sup jamur herbal."
"Apa yang pengunjung inginkan? Kami akan semaksimal mungkin untuk melayani." Ucapnya menjelaskan panjang kali tinggi kali lebar kepada Kristal.
Tiamo, Uno nampak garuk-garuk kepala mendengar penjelasan dari pelayan wanita itu, tidak ada yang mereka mengerti dari nama-nama menu yang diucapkan oleh pelayan wanita tersebut.
"Dimsum? apa itu,? aku tidak pernah memakannya." Cicit Uno kebingungan.
Kristal berpikir sejenak, dia melihat kearah guru Lebin.
"Guru ingin pesan apa? Pilihlah menu yang guru inginkan." Tanya Kristal.
"Guru tidak tahu. Hem sepertinya guru memesan sup wonton saja." Putusnya memilih sup wonton sebagai makan siangnya kala itu.
"Baiklah, satu sup wonton." Monolog si pelayan mencatat pesanan guru Lebin.
"Kalau kalian berdua, apa yang akan kalian pesan?" Tanya Kristal pada Tiamo dan Uno.
"Aku ingin bebek peking," Ucap Tiamo.
"Aku dimsum." Sahut uno lagi.
"Baiklah, dimsum dan bebek peking." Monolog si pelayan lagi sembari terus mencatat.
"Kalau aku, sup jamur herbal saja."
^^^Bersambung..^^^
Apakah aku harus tetap lanjut, atau berhenti sampai disini saja? Capek, ya pasti capek banget. Tapi, aku gak mau buat cerita ini putus tengah jalan. Tapi keadaan gak bisa bersahabat denganku, maaf ya guys. Mungkin aku udah buat kalian kecewa dan berpikir jika aku ini adalah seorang penulis yang pemalas.
__ADS_1