PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
CHAPTER : PERTEMUAN MEILI TERHADAP PEMAISURI


__ADS_3

Sesampai nya di istana muo, pangeran ketiga dengan cepat memasuki gerbang. semua prajurit yang berjaga menunduk hormat kepada pangeran ketiga, mata nya terus melirik kesekitar


"Ibu, dimana kau?" teriak nya berlarian ke sebuah gedung istana di kediaman siensi. namun mata nya kembali terarah kesebuah pasukan klan xi dengan bendera kekaisaran/negara ling


"Prajurit negara ling,? mengapa mereka berada disini?"


"Ck, ayolah Haocun. jangan membuang buang waktu mu!! ayah, ya aku harus mencari ayah." tutur nya bergegas berlari kearah gedung kerajaan utama muo.


Semua mata tertuju pada diri nya, para pelayan dan prajurit sampai menunduk secara cepat karena mereka tak menyangka jika bisa bertemu pangeran ketiga, secara tiba tiba...


Hal itu pasti nya mencuri perhatian para kasim dan pentinggi petinggi lain nya. ada sebuah kubu tengah yang mendukung pangeran kedua (Changyi) sedang memandang remeh terhadap Haocun, mereka menertawakan sikap kekanak kanakan Haocun karna berlarian keseliling istana


Dan tak lama, kubu ketiga juga melihat Haocun yang sedang berlarian menuju gedung utama,, mereka lalu mengejar Haocun dan memanggil Haocun agar berhenti berlari


"Pangeran ketiga, jangan berlari seperti itu. cuaca panas, nanti kaki mu sakit." teriak kasim ketar ketir melihat junjungan mereka berlarian seperti itu, apa lagi disaat cuaca sedang sangat terik akan matahari


"Pangeran, berhentilah. nanti kau sakit." para pelayan juga sedang bersusah payah mengejar Haocun. sementara Haocun masih saja batu dan berlari menuju gedung utama


"Cih, para sampah itu sedang bermain main rupa nya." ujar remeh kasim kubu dua, dan tak lupa dia menyesap teh gingseng milik nya,, sambil duduk dibawah atap atap gazebo


yang tenang itu..


___


"Tidak yang mulia, saya bahkan tak berani memandang wajah dari yang mulia pemaisuri." tutur meili dengan suara mendayu dayu. dia menyembunyikan wajah dari balik kipas milik nya


"Aku sangat menghargai sikap pemalu mu ini, sangat jarang ada gadis bangsawan pemalu seperti diri mu." puji pemaisuri pada meili, tutur kata nya terdengar begitu tulus saat memuji calon manantu nya itu


Para pelayan disekitar sedang menunduk dengan benak yang terus saja memaki maki meili, mereka tak menyangka jika calon pemaisuri masa depan mereka akan selicik meili ini! Sangat disayang kan sekali, bagaimana cara nya mereka bisa menyingkir meili


"Hey, apakah kita bunuh saja dia pada saat sedang tertidur?" batin pelayan yang berada paling belakang, dia menoleh pada teman nya seolah sedang bertukar pikiran

__ADS_1


"Kau gila, tapi ide mu tidak buruk." balas sang teman seolah mengerti dengan bisikan hati si pelayan pertama


"Sudah saat nya, Chyou memiliki seorang pendamping. dan aku sangat senang, karna Chyou memiliki calon pendamping seperti diri mu." Ujar pemaisuri kembali, selepas diri nya menyesap teh melati tadi.


"Ini juga adalah sebuah anugrah bagi saya. pemaisuri sangat baik dan dermawan, sudah impian saya menjadi seperti pemaisuri."


"Ah jangan salah mengarti kan maksut saya, dengan menjadi seperti pemaisuri bukan bearti saya ingin menempati posisi pemaisuri, namun saya ingin memiliki sikap dermawan dan baik hati seperti pemaisuri,, itu memang sudah menjadi impian saya." jelas meili, senyuman terus saja melekat di bibir nya. meski merasa pegal, dia terus saja memaksa kan senyum terbaik nya agar selalu muncul di bibir nya itu


"Jangan khawatir, aku tau maksut mu." jawab pemaisuri tersenyum lembut kearah meili.


"Dia adalah pilihan yang sangat tepat." bisik hati pemaisuri sambil mengangkat piring kudapan yang sudah cukup lama dianggur kan


___


Tepat didepan pintu kebesaran gedung utama istana muo, Haocun tiba tiba berhenti sehingga orang orang yang berada dibelakang nya secara terpaksa harus berhenti dan menabrak punggung Haocun. Haocun terhuyung ke depan, dia hampir jatuh tersungkur akbiat kelakukan dari bawahan nya itu


"Hey ada apa, mengapa kalian mengikuti ku?" ujar Haocun jengkel terhadap para bawahan nya, bisa bisa nya mereka mengikuti diri nya sampai sejauh ini?


"Sudah lah, tetap disini. aku ingin menemui khaisar." ketus Haocun lalu membuka pintu megah itu untuk masuk kesana


Perlahan sinar dari luar menembus masuk dari balik celah celah pintu yang dibuka. Haocun masuk kesana dengan mata yang terus saja memandang kesekitar,


"Ayah, dimana kau? apakah kita bisa bicara?" teriak Haocun memanggil ayah nya, namun tak terdengar juga jawaban disana.


"Dimana ayah,? AYAH, DIMANA KAU, AYAH.... " panggil Haocun lagi, dia tak mau menyerah dan masih kekeh meneriaki ayah nya


Perlahan seberkas cahaya muncul di tepi ruangan, yang berdekatan dengan sofa duduk disana. Secara samar, disana memperlihat kan sang kaisar yaitu sang ayah yang sudah lama dicari oleh Haocun


"Jangan berteriak, dasar anak nakal! Kau bisa memanggil dengan pelan, bukan?" ketus kaisar terhadap putra bungsu nya itu


"Ck, ayah. kau tidak tahu berita apa yang akan aku sampai kan pada mu! sebaik nya kau dengar kan lah dulu putra mu ini." suruh Haocun. Kening kaisar mengerut saat mendengar pernyataan dari sang putra bungsu

__ADS_1


"Aku adalah kaisar, tak ada yang berhak memerintah diri ku." ketus kaisar kembali, terhadap sang putra bungsu. dia berniat ingin mengejek Haocun dengan terus mengacuh kan Haocun


"AYAH! jangan sampai aku mengadukan ini kepada ibu. dengar kan aku!" jengkel Haocun mau tak mau harus menyeret nama sang ibu dalam hal ini


"Cih dasar anak manja, katakan! jangan sampai aku menggantung mu di menara kematian." ..................


"....................................................................."


.


.


Setelah berapa panjang lebar penjelasan dari Haocun, kini terlihat pintu kokoh tadi rubuh karena telah ditendang oleh sang kaisar.


Pandangan mata nya terlihat merah padam, dia menuju ke aula kemiliteran. Saat itu juga, para pendekar sihir terkuat di kekaisaran muo segera dikumpulkan. tak hanya itu, bahkan para prajurit mode tempur pun juga ikut diturun kan dalam hal ini.....


Sementara itu, Haocun masih saja berada di dalam gedung utama karena masih berpikir,, bagaimana kristal mengetahui akan hal itu


Dia berdiam diri di kursi kebesaran sang ayah. namun tanpa sadar pandangan nya terarah kearah telapak tangan nya yang menghitam, akbitan memegang tangan kristal tadi


"Siapa kau sebenarnya,? jika berjumpa lagi, dia harus kupaksa untuk bicara tentang indentitas kepunyaan diri nya." gumam Haocun memandang tajam kearah telapak tangan yang sudah menghitam


🥀🥀🥀🥀


Beralih di pasar utama kekaisaran muo, kristal sedang berjalan seorang diri. pandangan malas nya itu dia tujukan kesegala arah, perasaan nya saat ini hanya bosan, bosan, dan bosan...


"Apakah kau tak lelah mengikuti diri ku? Cobalah berjalan kesekitar atau tidak lenyap saja sekalian!" batin kristal melirik arah kiri menggunakan ujung mata runcing nya itu


"Diam kau bocah ingusan! aku disini juga sedang terpaksa, kau tau itu?" balas si naga kecil jengkel karena kristal tak henti mengusir diri nya


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2