
Matahari sudah mulai terbit, para penghuni perguruan tauxing sudah mulai melakukan kegiatan masing masing.
Ada yang berlatih dan ada yang hanya sekedar melakukan bersih-bersih perguruan.
Kristal, Suan dan Xima berjalan menuju kearea tempat berlatih para murit pria. Terlihat disana kondisi yang cukup menegangkan, mereka bertarung menggunakan pedang kayu dan bahkan ada yang bertarung dengan tangan kosong.
Sebagian dari mereka mengalami luka-luka dan diseret munuju tempat guru lebin biasa nya berada untuk mengobati para murit yang terluka.
Hiruk-pikuk suara teriakan para murit mengampiri gendang telinga Kristal, dia menganga melihat pelatihan yang dilakukan oleh murit-murit didepan mata nya.
Dulu sewaktu dia berada di zaman modern, dia pernah melihat para tentara melakukan pelatihan,, namun dia rasa pelatihan para tentara dizaman modern tidak seberbahaya yang ada dizaman sekarang ini.
"Apa ini? mereka ini berlatih atau saling menyakiti?" Ucap Kristal pelan masih memandang sudah habis pikir.
"Tidak usah heran, seperti inilah kondisi nya, mereka mencoba untuk berlatih dengan keras agar bertambah menjadi kuat. Itu semacam ambisi." Sahut Xima.
"Ambisi agar menang di pertarungan perguruan awan?" Tukas Kristal pada Xima.
"Ya! Sudah sepuluh tahun kami tidak pernah menang dari perguruan awan, mereka sangat kuat." Jawab Suan dengan raut wajah sedih.
Kristal melihat mereka dengan sedih, dia menghirup napas lalu membuang perlahan.
"Ayo kita berlatih, kita tingkatkan kekuatan kita. Bukankah kita ingin menang? jadi tunggu apa lagi." Ujar Kristal menyeringai lalu menyeret Suan dan Xima menuju para murit berlatih.
"Hiyak, hiyak..." Para murit selalu berteriak dengan kata ini setiap kali menyerang dan menerima pukulan. Kata-kata ini seolah sudah melekat dan menjadi hal wajib dalam latihan mereka.
Kristal mengampiri mereka dan melihat pada salah satu murit yang sedang berlatih sendiri, dia tersenyum lalu mendekati pria itu.
"Hy, kau latihan sendiri?" Tanya Kristal basa-basi pada pria tersebut.
Pria itu menghentikan latihan nya, dia melihat pada Kristal. Dia merasa tidak asing dengan gadis didepan nya ini.
"Adik perguruan. Iy-iya, aku sedang berlatih sendiri. Memang nya kenapa? apakah kau butuh sesuatu?" Ujar pria itu sedikit canggung berdekatan dengan Kristal.
__ADS_1
"Wah bagus. Ayo berlatih dengan ku, aku tidak ada yang menemani. Suan dan Xima sudah berlatih, sedang kan aku belum karena tak memiliki rival. Ayo temani aku, aku mohon." Ujar Kristal sedikit memaksa.
"Ta-tapi..."
"Ayolah, aku hanya ingin berlatih saja. Aku tidak selemah yang kau pikirkan kok." Kata Kristal lagi memohon agar kakak perguruan nya mau menjadi rival diri nya.
Pria itu nampak masih berpikir, dia melihat kearah Xima dan Suan yang sudah mulai berlatih berdua. Sedikit kasihan, lalu dia melihat pada Kristal kembali.
"Baiklah. Ayo kita latihan, kau bisa menyerang ku,, sementara aku akan bertahan" Ucap Pria itu mulai memasang kuda-kuda nya.
"Eh mengapa begitu? mengapa harus berlatih seperti itu? lebih baik kita sama-sama menyerang dan bertahan. Latihan seperti itu sangat membosankan," Protes Kristal hendak tak menyetujui rencana kakak seperguruan nya.
"Tapi jika kau terluka bagaimana? kau adalah murit milik master, jika terjadi apa-apa padamu nanti aku yang akan kena." Tolak pria itu lagi.
"Aku tidak selemah itu! sudah aku bilangkan sebelumnya. Kali ini kita hanya akan bertarung dengan sedikit berbeda saja, kita asah kemampuan menyerang dan bertahan kita."
"Aku tidak mau tahu! Kau harus menjadi rival tarungku." Ujar Kristal tanpa aba-aba, dia melompat hendak menendang pria didepan nya.
"Hey," Pria itu menyingkir sehingga berhasil meloloskan diri dari tendangan Kristal.
"Hey tak kusangka jika ini menyenangkan," Ujar Pria itu disela-sela pertarungan.
Mereka terus saling melayangkan serangan fisik, bukan hanya serangan namun ada kala nya mereka menghindar dan bertahan.
Semua mata mulai tertuju pada kedua nya, mereka salah fokus melihat model cara latihan dari kedua orang yang mereka lihat.
Kristal nampak menguasai pertarungan, dia terlihat seperti ahli tarung yang memiliki banyak pengalaman.
BRUKKMM
Pria itu tersungkur ketanah saat Kristal berhasil melayangkan tendangan pada nya.
"Hey kau lengah, seharus nya kau menghindar." Tanpa sadar Kristal bicara ditengah-tengah pandangan kagum dari orang-orang disekeliling nya.
__ADS_1
Mereka semua mulai bertepuk tangan dengan mulut yang terus terbuka lebar.
Kristal sadar, dia melihat terkejut pada mereka yang sedang bertepuk tangan. Hey ini bukanlah kemauan nya, dia benar-benar tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dia tidak suka itu, sangat menyesal sekali mengapa dia jadi lepas kendali dan terhanyut dalam pertarungan tadi.
Suan dan Xima menghampiri Kristal, mereka memandang kagum pada gadis didepan mereka itu.
"Kau sangat hebat! terlihat seperti orang yang berpengalaman, mau kah kau mengajari ku." Ujar Suan dengan pandangan memohon mengarah pada Kristal.
"Benar! Aku mohon tolong ajari aku tehnik tarung tadi. Dengan sekali gerakan sederhana kau berhasil menguasai lawan, aku sangat menginginkan keterampilan macam itu." Pujuk Xima dengan mata berbinar.
Habislah aku!
Kristal memandang linglung kearah Suan dan Xima, dia bingung ingin menjawab apa pada kedua gadis didepan nya ini. Lagian diri nya sangat bodoh! jika tidak ingin menjadi pusat perhatian, lantas mengapa dia mengundang orang dengan kemampuan nya. Huh! lagian ini bukan kehendak nya, dia juga tidak tahu jika ini akan terjadi.
"Tapi aku tidak___"Kata-kata Kristal terhenti setelah melihat semua murit laki-laki mulai berlutut menyatukan kedua tangan mereka.
Mata Kristal melotot tidak percaya.
"MOHON ADIK PERGURUAN BERBAIK HATI MAU MENGAJARI KAMI TEHNIK BETARUNG ITU. KAMI BENAR-BENAR MEMOHON." Ucap mereka serempak terdapat nada harapan.
Xima dan Suan melihat pada murit laki-laki dan tak lama mereka juga ikut berlutut, mereka menyatukan kedua tangan mereka.
"Iya, tolong terima permohonan kami ini." Ucap serempak Suan dan Xima.
Dasar konyol' pikir Kristal. Dia menarik napas dan membuang nya perlahan, dia bingung apakah sebaik nya menerima atau menolak.
Tak disangka, tehnik betarung ini menarik perhatian mereka. Lalu apakah aku harus mengajarkan tehnik ini pada mereka? tapi ini adalah tehnik milik kakek, jika aku mengajari nya otomatis akan banyak orang yang tahu! tapi masalah nya, jika aku menolak mereka pasti akan sedih. Haihh sangat bingung ya, aku sudah seperti guru saja.
Kristal berpikir sambil melihat tanah kering itu, dia masih delema tentang menerima dan menolak.
Netra nya memandang pada semua murit didepan nya, timbul senyuman yang sangat manis.
"Baiklah. Kita akan berlatih bersama-sama mulai dari sekarang." Jawab Kristal setelah sekian lama nya berpikir.
__ADS_1
Tidak apalah, setidaknya mereka bisa senang.
^^^BERSAMBUNG^^^