PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
( ^▽^)σ)~O~)


__ADS_3

Suara bising memenuhi sekitar hutan didekat sebuah danau, Kristal berenang dan memegang sebuah tombak ditangannya.


"Senior disana! Ayo tangkap!" Teriak Kristal antusias melihat seekor ikan besar bewarna merah berenang kabur dari mereka.


Huh jika saja ada alat pancing maka ini akan sangat dimudahkan, sangat disayangkan sekali Kristal meninggal tidak membawa alat pancing modern.


"Dimana?" Tanya Tiamo yang sudah siap dengan tombak ditangannya, dia berjalan diatas bebatuan melirik kearah air dan berusaha mencari ikan untuk dia tombak.


"Disana, cepat! Kau sangat lama." Teriak Uno lagi berlari dan melempar tombak kearah ikan yang baru saja dia lihat.


PLushhh


Tombak itu mendarat sempurna mengenai ikan yang baru saja Uno lihat, dia menarik tali pada tombak dan akhirnya terlihat penampakan ikan yang memiliki ukuran besar.


"Wawww, hebat. Ayo tangkap lagi." Jerit Kristal senang dan terus melihat pada air.


"Disana! Jangan kabur kau ikan, aku ingin menyantap mu." Ucap Kristal mengunuskan tombak pada ikan pipih yang terlihah seperti ikan pari, namun bukan ikan pari 🤷‍♀.


"Kena kau!" Teriak nya lagi berlari mengambil tombak yang sudah mengenai berbagai ikan yang dia tangkap.


Mereka terus menangkap ikan sembari bersenang-senang dan bermain air. Bahkan mereka tidak sadar jika seluruh pakaian mereka sudah basah kuyup. Tiamo mengangkat tubuh mungil Kristal dengan tubuhnya yang tinggi itu lalu melempar tubuh kristal kedalam air.


BYURRR


"Aghhh" Kristal tercebut sehingga menimbulkan gelak tawa dari dua manusia biadap itu.


"Senior! Aku akan membuat perhitungan pada kalian!" Pekik Kristal berenang hendak ingin naik kepermukaan darat.


"Coba saja, blekk." Olok Uno menjulurkan lidah mengejek Kristal.


"Oh kalian mengejek ku ya! Akan ku patahkan lidahmu itu!" Kesal Kristal melempar jaring yang sudah terdapat banyak ikan ketanah.


Dia maju lalu berlari mengejar kedua manusia yang usil ini, "Jangan kabur kalian!" Teriak Kristal murka mengejar dua manusia nakal itu.


"Hey kami hanya bercanda, kau tidak akan benar-benar membunuh kami kan." Uno panik sambil berlari sekuat tenaga.


"Junior kami hanya bercanda." Timpal Tiamo.


"Aku tidak bercanda, akan ku sobek setiap inci tubuh kalian." Pekik Kristal lagi emosi sudah diujung kepala.


"DEWA TOLONG KAMI." Pekik keduanya sambil berlari kebagian hutan terdalam. Celakanya mereka tidak menyadari, jika mereka terus berlari masuk kedalam hutan yang benar-benar terlarang.


****


Disisi lain, Xima dan Suan sudah hampir mendekati perguruan tauxing. Dengan sisa-sisa energi mereka itu, mereka berusaha untuk segera sampai. Jatuh bangun mereka terima, asalkan mereka sampai keperguruan dengan segera.


"Sedikit lagi," Ucap Suan meneteskan air mata melihat sebuah rumah yaitu perguruan mereka.


mereka berlari semakin masuk kedalam walau mata semua murit yang lain sedang menatap aneh pada keduanya.


"Dimana guru, dimana master? Apakah mereka sudah pulang?" Desak Suan bertanya pada salah satu murit laki-laki.

__ADS_1


"Di-disana, para guru dan master sedang berada diruangan master." Jawab pria itu bingung.


Tak lengah lagi, keduanya dengan segera pergi menuju keruangan master tauxing.


"Suan, bagaimana jika mereka tidak selamat? hiks... aku akan benar-benar menyesal telah meninggalkan mereka." Keluh kesah Xima sambil terus saja menangis tanpa henti.


"Tenanglah, kita akan segera sampai keruangan master." Jawab Suan menenangkan sang sahabat.


Hampir dekat, Suan mempercepat larinya dan membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


BRAKKK


"Guru, master." Panggil Suan mendesak.


Para guru dan master terkejut dengan kelancangan Suan, namun mereka berusaha untuk bersabar dan mencoba untuk menanyakan apa maksut dan tujuan Suan.


"Ada apa Suan? Mengapa kau terlihat panik seperti itu?" Tanya Guru Celin.


"Guru, kedua kakak senior dan Kristal sedang dalam masalah. Kami, kami pergi kehutan terlarang.. dan mereka diserang oleh binatang sihir." Jelas Suan mulai menumpahkan air mata yang sudah tak tertahankan lagi.


PRANKKK


Cangkir yang ada ditangan master tauxing terlepas begitu saja menghantam lantai sehingga pecah berderai.


"Dimana mereka?"


"Da-danau."


...****************...


"Ah junior maafkan kami, kamikan hanya bercanda." Bujuk Uno yang akhirnya berhenti karena sudah merasakan lelah yang menghampiri.


Tiamo menarik napas dalam, dan akhirnya duduk mengantal ketanah.


"Kalian membuatku kesal! Akan aku beri pelajaran kalian!" Pekik Kristal menarik tangan dan mengumpulkan sebuah aliran Chi ditangannya.


Tiamo dan Uno memejamkan mata mereka, tak disangka jika Kristal akan benar-benar ingin membunuh mereka.


Namun tangan Kristal mengambang keudara, dia teridam mematung.


Tunggu! mengapa aku bisa berada diluar kendali! Ouhh tidak aku membuat mereka takut.


Kristal mengutuk keras kebodohannya ini, dia menarik tangannya dan menarik kembali aliran Chi yang baru saja dia keluarkan.


"Ah tidak, adik junior hanya bercanda. Hehe." Elak Kristal tersenyum bagai orang bodoh.


Tiamo dan Uno membuka mata mereka, melihat pada Kristal yang sedang tersenyum begitu canggung. Mereka mengelus dada, dan terus bersukur.


"Kami pikir kau serius tadi." Ucap Uno mulai berdiri.


Memang!

__ADS_1


"Junior, candaan mu sama sekali tidak lucu!" Protes Tiamo lagi sedikit kesal.


Kalian yang memancingku!


"Maaf ya, aku memang seperti ini." Kristal berucap kembali dengan senyum bodohnya itu. Dia menggaruk tengkuk yang tak gatal dan mengarahkan pandangan kesekitar.


Oh tidak! Mata Kristal membesar setelah mendapati jika mereka sedang berada disebuah hutan yang sangat asing bagi Kristal. Dimana ini? Kapan mereka bisa sampai kemari? Mereka tidak sadar tentang itu.


"Celaka!" Lirih Kristal


"Ada apa? kenapa kau panik begitu?" Tiamo bertanya dengan polos masih tidak menyadari masalah yang sedang mereka hadapi.


"Kalian tidak sadar? Kita tersesat!"


Mata kedua manusia itu terbuka begitu lebar setelah melihat kesekitar yang bahkan sangtlah asing buat mereka.


"Apa."


Mereka tidak akan pernah menyangka jika sampai berada disebuah hutan yang bahkan sangat dilarang ini. Namun anehnya, sedari tadi Kristal tidak bisa merasakan energi jahat yang berada disekitarnya. Dia hanya bisa merasakan sebuah kekuatan yang sedang disegel oleh sesuatu.


"Tapi disini tidak ada satupun hewan sihir? Apanya yang terlarang?" Tanya Kristal begitu bingung dan terus melihat kesekitar.


"Benarkah? Junior tidak bisa meraskaan apapun disini?" Tiamo bertanya dengan bingung, mustahil jika tidak ada hewan liar. Lalu mengapa hutan ini bisa dibilang begitu terlarang? Bahkan rumor yang didengar, hutan ini memiliki sebuah mantra kuat yang kapan saja bisa melukai tubuh dengan sangat parah.


"Mustahil." Cicit Uno.


Kristal berjalan agak menjauh sembari melihat-lihat apakah terdapat segel atau tidak, sedangkan dua seniornya tetap memilih untuk tinggal dibelakang.


"Junior jangan pergi jauh-jauh, ayo kita segera pergi dari sini." Panggil Tiamo khawatir


"Ah tidak apa-apa, tenang saja." Jawab Kristal.


Kristal semakin maju dan merasakan sesuatu yang aneh pada sekitar hutan ini, ada sebuah masalah, akan tetapi apa itu?


Kristal berusaha untuk terus memeriksa, akan tetapi dia kembali dikejutkan dengan pekikan keras dari dua orang yang berada dibelakangnya.


"Arghhhhhhh, sakit sekali." Uno berteriak menggosok-gosok kulitnya yang sudah mulai memerah.


Kristal berbalik, dia melihat pada kedua seniornya


"Tidak ini sangat sakit! Agghh, junior cepat pergi dari sini." Teriak Tiamo, berguling-guling ketanah begitu kesakitan dengan kulit yang sudah mendapati beberapa sayatan.


"Apa yang terjadi," Gumam Kristal dengan segera berlari menghampiri kedua orang itu.


"Tidak, apa yang terjadi pada kalian?" Kristal bertanya dengan panik. Tentu saja dia panik, ada dua orang yang sedang dalam bahaya didepan matanya, namun tidak terjadi apapun pada dirinya sendiri.


"Eh," Uno bangun memandang kulitnya dengan aneh.


"Aku tidak merasakan sakit lagi."


^^^BERSAMBUNG^^^

__ADS_1


__ADS_2