
Kristal membuka mata nya, dia sudah berada didalam kamar dengan kondisi masih telentang dan pandangan menuju langit langit rumah.
Nafas nya naik turun sambil masih memikirkan kejadian yang dia alami.
Buliran air mata mulai bertetesan, dia menutup mata dengan tangan dan tenggelam dalam kesedihan .
"Kakek, seharusnya nya kau jujur pada Kristal. Sakit, hati Kristal sakit. Ibu sudah tidak berada lagi di dunia ini, dan Kristal tidak bisa melihat wajah nya lagi. Kenapa kakek tidak bisa jujur pada Kristal? Kristal kecewa pada kakek!"
Dia terisak dan larut dalam tangis nya, begitu sedih dan terluka nya dia setelah mengetahui hal yang sebenar nya tentang hidup nya.
Perlahan-lahan tangisan nya terhenti, tangan nya jatuh terhempas di ranjang nya itu dan mulai terlelap dalam tidur nya.
Dalam kondisi mata sembab dia tertidur, sungguh malang sekali gadis ini.
***
Rembulan sudah bertukar peran dengan mentari, kediaman ates sudah memulai aktifitas mereka.
Terlihat Hana yang sedang berjalan bersama Cou menuju kediaman kamar Kristal. Cou membawa sebuah nampan yang berisi kan semangkuk sup di atas nya. Hana dengan segera mengetuk pintu dan menempel kan telinga nya di pintu itu.
"Kristal. Sayang kamu sudah bangun nak?" Panggil Hana.
Tidak ada jawaban, Hana menoleh pada Cou. "Coba kau saja yang mengetuk nya Cou, suara mu keras." Suruh Hana.
"Ah baik nyonya," Jawab Cou begitu patuh.
Dia mendekat ke dekat pintu lalu mengetuk pintu dengan keras 'TOK TOK TOK'
"Nona... apa kah kau sudah bangun," Teriak nya dengan nada tinggi.
Hana terkejut mendengar nya, dia membulat kan mata lalu mengalih kan pandangan pada pintu untuk memastikan apakah sang putri sudah bangun atau belum
"Cou mengapa Kristal tidak menjawab?" Tanya Hana menempel kan telinga pada pintu.
Disaat mereka sibuk memanggil Kristal, Long dan kedua adik nya tak sengaja melintas di dekat kediaman Kristal lalu melihat bunda mereka yang sibuk berteriak untuk membangun kan Kristal.
__ADS_1
Mereka bingung dan saling memandang, "biasa nya tidak susah untuk membangun kan adik, apa yang terjadi?" tanya bong membuka pertanyaan.
"Benar, apa lebih baik kita kesana?" Ajak Hong.
Long dan Bong mengangguk setuju, mereka bertiga berjalan mendekat kearah sang bunda. "Bunda, apa yang terjadi? apakah adik sudah bangun?" Tanya Bong.
Hana menoleh, terlihat jelas ekspresi kalut di wajah cantik nya. "Belum," jawab Hana bergeleng-geleng.
"Ada apa? baik lah serah kan ini pada kami bertiga, bunda menepi lah dulu." Ucap long, dia menyuruh Hana untuk menepi lalu mencoba untuk membuka pintu kamar Kristal.
"Ah bunda sudah mencoba nya, namun pintu itu terkunci dari dalam." Cicit Hana menghentikan niatan Long untuk membuka knop pintu itu.
Long berhenti lalu menggaruk tengkuk nya keheranan, dia mundur dua langkah untuk mempersilah kan kedua adik nya melakukan sesuatu.
"Kita dobrak saja, lagian adik ini sangat nakal! suka membuat orang khawatir." Gumam Bong.
Dia sudah bersiap dengan ancang-ancang nya itu, dia menyinsing baju sedikit lalu segera bersiap melompat dan menghantam kan tubuh ke pintu... dan kemudian...
BRUAKKKK
"Kakak, kau kenapa?" Tanya Kristal sudah keluar dengan ekspresi polos nya.
"Aduhhhh hidung ku," Cicit Bong mengusap hidung nya sudah yang memerah akibat mencium lantai dengan brutal.
"Ahahhaha, kakak hidung mu merah," Hong sudah tidak kuasa lagi menahan tawa nya begitu menggelitik perut itu. Dia menunju-nunjuk hidung kakak nya disertai dengan tawaan yang renyah.
"Hais diam kau!"
"Kenapa kau marah? hhahha, padahal aku hanya sedang menertawakan hidung mu itu."
Kedua nya lagi dan lagi kembali beradu omongan, Sedang kan yang lain nya saling memandang dan saling melempar kan seringaian senang.
"Nak, apa yang terjadi? mengapa mata mu.. mengapa mata mu sedikit bengkak?" Tanya Hana cemas terhadap Kristal.
Long memperhatikan wajah Kristal, dia menyipit saat melihat mata sang adik, dia mendekat lalu meraih wajah Kristal agar mendekat sedikit ke wajah nya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? kau menangis?" Tanya Long menyelidik.
Kristak bingung ingin menjawab apa, dia celingak-celinguk mendengar pertanyaan dari keluarga nya.
"Nak, jawab bunda. Apa yang terjadi?" Tanya Hana lagi lalu mendekat pada sang putri.
Apa yang harus aku jawab? aku tidak ingin membuat keluarga ku khawatir.
"Ah tidak apa-apa bunda, kakak. Ini hanya efek hasil latihan Kristal, lagi pula ini akan hilang dalam beberapa jam." Elak Kristal tersenyum.
"Benar?" Tanya Long masih ragu dengan jawaban Kristal.
Kristal mengangguk, dia memuncul kan seringaian polos nya sambil melihat kan gigi rapi seputih susu.
"Huh syukur lah, Bunda pikir kau habis menangis. Jangan terlalu memaksa kan diri dalam latihan, istirahat lah jika sudah lelah. Lihat lah sekarang, mata lobak putih bunda terlihat seperti terkena sengatan lebah." Ucap Hana masih sempat untuk menggoda Kristal dengan sebutan lobak putih, huh sudah sangat jelas jika Kristal tidak menyukai panggilan itu!
"Huffff bunda.." Ucap nya memandangi wajah kedua kakak nya yang sudah memerah menahan tawa.
"Jangan menertawakan ku!" Kesal diri nya melihat Bong dan Hong yang sudah berusaha dengan keras menahan tawa mereka agar tidak pecah.
"Hahahahah, lobak putih lucu sekali hahahahh," Tawa Hong pecah saat melihat wajah cemberut Kristal, begitu juga Bong, diri nya tertawa menggelitik dan tidak bisa berbicara.
"Bunda... liat mereka berdua! huaa aku benci... akan ku habisi kalian" Pekik Kristal kesal beserta rengekan manja pada Hana.
Mereka terus saja menggoda Kristal, sepanjang hari mereka mengolok-olok Kristal dengan sebutan lobak putih. Kristal sangat kesal pada sepanjang hari karena diri nya harus di panggil lobak putih oleh seluruh keluarga nya, dan bahkan Jibong juga mulai tertular dan memanggil nya lobak putih.
Pagi sudah menjelang siang dan siang sudah menjelang sore, Kristal sedang berada di dalam kamar nya duduk melamun meratapi bulan yang begitu indah di jendela kamar nya.
Perlahan dia mengangkat tangan nya dan melihat pada telapak tangan, samar-samar mulai membentuk sebuah tanda bulan sabit putih di telapak tangan nya. Mata sendu dan perasaan yang masih bercampur aduk.
"Dua hari lagi, purnama akan muncul. Entah apakah para pengacau itu akan datang lagi! Sangat melelah kan," Gumam nya datar.
Dia duduk disana dengan diterpa cahaya bulan yang tiba-tiba saja memberi cahaya pada Kristal, Kristal diam, seolah dia membiarkan hal itu terjadi, dia mendongak kan kepala dan melihat pada bulan.
"Aku tahu, tenang saja." Ucap nya pada bulan lalu dengan segera menutup jendela itu.
__ADS_1
^^^bersambung^^^