PUTRI PETARUNG

PUTRI PETARUNG
Mencari toilet.


__ADS_3

Penawaran terus saja berjalan, Kristal, Tiamo dan Uno sedang duduk mengamati gerak-gerik dari guru Lebin.


Akan tetapi, tiba-tiba saja, kening Kristal mengkerut. Dia memegang perutnya dengan ekspresi tidak nyaman.


"Aduh, sepertinya ada masalah dengan perutku ini." Gerutu Kristal merasa tidak nyaman dan terus memegang perutnya.


Tiamo menoleh, "Ada apa?" Tanya nya bingung melihat Kristal memegangi perut milik nya.


"Perutku sakit, sepertinya aku harus ketoilet. Senior, kalian tetap disini, aku akan mencari toilet dulu." Gegas Kristal masih setia memegangi perutnya, meninggalkan kedua seniornya yang masih dalam kebingungan.


"Eh tunggu dulu......, Uno, bagaimana ini? Jika guru bertanya kita harus menjawab apa?" Keluh Tiamo resah masih melihat pada arah Kristal berdiri.


"Jawab saja dia ketoilet, apa susahnya?"


"Be-benar juga. Ta-tapikan guru sudah bilang jika Kristal tidak boleh jauh dari kita! Jika guru marah pada kita, bagaimana?"


"Tenang, junior sangat hebat. Dia bisa melindungi dirinya sendiri.


Mereka masih saja berdebat, tentang itu tentang ini, seolah tidak pernah habisnya. Sementara Kristal, dia sibuk mengarahkan pandangan kearah sekitar yang sudah mulai terlihat begitu aneh.


Daerah yang ramai dan kumuh, asap dimana-mana dan banyak sekali para bandit duduk ditepi jalan, menindas rakyat kecil untuk diambil hartanya.


Kristal garu-garu kepala, dia sangat heran dengan penampakan ini. Rupanya, ini adalah sisi gelap kekaisran xitang barat yang sebenarnya.


"Tiba-tiba saja, sakit diperutku hilang. Huft! Jika seperti ini, sangat tidak seru jika kembali ke acara lelang secepat itu." Gerutu Kristal berniat untuk jalan-jalan sebentar dan melihat-lihat pada daerah kumuh tersebut.


"Daerah ini sangat kumuh, apakah kaisar xitang tidak memiliki niat untuk membersihkan kotanya?" Gerutu nya lagi, masih dengan menjelek-jelekkan kekaisaran xitang.


Dia terus melangkah kan sepasang tungkai jenjangnya, kearah yang belum tau dia akan tuju. Dia kerahkan pandangan kesegala sisi, sampai tak terasa jika kepala nya menabrak sebuah dada bidang dari seorang pria.


"Aduhhhhh." Keluh Kristal.


Dia angkat pandangannya, dia picingkan matanya pada pria yang baru saja dia tabrak.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menepi ya! Kenapa jalan ditengah-tengah!" Protes Kristal mengusap-usap jidatnya.


"Ikut aku sekarang juga!" Ucap Pria itu dengan suara baritonnya, dan intonasi yang tidak bersahabat.


GLEKK


Pria itu merampas kasar tangan Kristal, dan kemudian keduanya hilang begitu saja.


***


Disebuah sisi tempat yang sepi, didalam gang antara bangunan ringsek. Kristal dan pria misterius itu muncul, dan kemudian tak lama Kristal menepis tangan pria misterius tersebut.


Dia mundur kebelakang, mencari posisi aman. "Siapa kau!" Desis Kristal dengan mata tajamnya.


"Berpihaklah pada kami!" Ucap Pria misterius itu sedikit terdengar ambigu bagi Kristal. Kristal mengerutkan kening, lalu bicara. "Memihak apa? Aku tidak mengerti maksut mu!" Balas Kristal berprilaku seolah-olah dirinya memang tidak tahu apapun.


"Hahahaha, kau sangat lucu. Tapi aku sedang serius saat ini, jangan terus berdalih dan tak mengerti apapun." Ucap pria itu sinis, memandang penuh ambisi.


"Aku memang tidak mengerti maksut mu! Kau ingin dipukul ya!" Hardik Kristal.


"Berpihaklah pada perguruan awan, dan jadi tameng kami untuk masuk kedalam hutan terlarang." Bisik pria itu, menunjukan seringaian jahatnya.


Kristal memicing, mengerutkan kening mendengar pernyataan pria asing ini. Dia melipat kedua tangannya, dan memandang remeh pada pria asing itu.


"Jika aku tidak mau?" Tantang Kristal, dengan seringaian mengejek.


"Jika tidak mau, aku akan melaporkan ini pada perguruan awan, sehingga kau akan diburu untuk seumur hidup mu! Bekerja samalah, dan jangan mempersulit dirimu sendiri!" Ancam pria asing itu, masih tersenyum sinis dengan pandangan tajam bak elang.


"Huft! Jujur saja, aku sudah mengetahui jika kau terus saja menguntit diriku! Apakah kau tidak tahu malu, menjadi seorang penguntit! Dan satu hal yang perlu kau ketahui, aku tidak akan mengubah pendirian ku ini. Silahkan beri tahu siapa pun, kalau perlu satu dunia yang kau beri tahu tentang ini. Tapi aku tidak akan mau berpihak pada kalian!" Balas menohok Kristal.


Pria itu masih melihat dengan wajah datarnya, mematung dan memperhatikan Kristal yang begitu keras kepala.


"Jangan keras kepala!"

__ADS_1


"Kepala memang keras, dan kepala mu juga keras! Kita sama-sama keras kepala!"


"Apakah si tua bangka itu...yang telah mengutusmu? Bicara apa dia?" Tanya Kristal, tersenyum remeh.


"Mengapa aku harus memberi tahumu? Apakah kau berubah pikiran, dan ingin memihak kepada perguruan awan." Sinis pria tersebut, masih dengan kesombongannya.


"Ouh, jika tidak mau memberi tahu, ya jangan beri tahu! Sudah? Apakah aku bisa pergi sekarang? Aku rasa, aku sudah cukup berada didekat pria bau seperti diri mu!" Desis Kristal, memberi segelintir cibiran.


Pria asing tersebut sudah mulai kehabisan kata-kata, dia tersenyum dengan aneh dan melihat Kristal dengan pandangan membunuh.


"Aku serius, dalam hal ini! Jangan paksa aku untuk berbuat kasar pada mu, wanita." Ancam nya, semakin maju mendekat kearah Kristal.


Kristal masih tetap dengan pendiriannya, dia tidak mundur juga tidak maju. Dia tatap pria itu dengan tatapan yakin dan berani, lalu bicara. "Silahkan, memangnya kau pikir aku ini hanya gadis 17 tahun biasa? Jika aku bisa menembus mantra berbahaya itu, maka untuk membunuhmu juga hal yang mudah bagi ku!" Balas Kristal.


"Jangan terlalu percaya diri, atau tidak kau akan celaka."


"Percaya diri boleh, bodoh jangan."


Pria itu masih sempat melontarkan cibiran pedasnya, lalu tiba-tiba saja dia menyerang Kristal dengan cepat. Dia gunakan telapak tangan nya dan jari-jarinya sebagai senjata menyerang Kristal.


Tentu saja Kristal berhasil menghindar dengan sangat mudah, dia bisa membaca setiap gerakan yang akan diambil oleh pria itu. Kristal melompat dan berputar, dia pegang sebua balok kayu lalu dia salurkan sebuah energi Chi pada balok kayu tersebut. Dan..


BRAKKKKKK


PRANKKKK


Balok itu berhasil mengenai perut pria itu, sehingga pria itu mundur kebelakang dan sebuah darah mulai keluar dari mulutnya.


"Sialan!" Desis pria tersebut, sembari mengusap darah dimulutnya.


"Kau terlalu meremehkan anak kecil 17 tahun seperti diriku! Seharusnya, kau menunduk dibawah kaki ku dan bilang jika kau menyesal!" Ejek Kristal menunjuk-nunjuk pria itu dengan balok kayu yang dia pegang.


"Kali ini kau menang, wanita! Aku akan membuat perhitungan padamu lain waktu! Akan aku pastikan, jika pihak perguruan awan mengetahui tentang dirimu! Cam kan itu." Ancamnya, dengan tatapan mengutuk.

__ADS_1


Kristal mengangkat bahu, dengan ekspresi tidak merasa bersalah. "Aku tunggu selalu kabar itu! Sobat."


^^^BERSAMBUNG^^^


__ADS_2